Akurat
Pemprov Sumsel

8 Perusahaan Air Minum di Indonesia Ungkap Asal Sumber Airnya, Ini Penjelasan Lengkapnya

Naufal Lanten | 12 November 2025, 15:53 WIB
8 Perusahaan Air Minum di Indonesia Ungkap Asal Sumber Airnya, Ini Penjelasan Lengkapnya

 

AKURAT.CO Sebanyak delapan perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia akhirnya mengungkap asal sumber air yang mereka gunakan. Hal ini terungkap dalam rapat kerja Komisi VII DPR RI bersama pejabat Kementerian Perindustrian pada 10 November 2025. Dalam pertemuan itu, masing-masing perwakilan perusahaan menjelaskan asal air baku dan proses pengolahannya.

Kedelapan perusahaan tersebut meliputi PT Panfila Indosari (merek RON 88), PT Amidis Tirta Mulia (Amidis), PT Tirta Fresindo Jaya (Le Minerale), PT Muawanah Al Ma’soem (Al Ma’soem), PT Super Wahana Techno (Pristine), PT Tirta Investama (Aqua), PT Sariguna Primatirta Tbk (Cleo), dan PT Jaya Lestari Sejahtera (Le Yasmin).

Langkah ini menjadi perhatian publik karena selama ini banyak yang penasaran dari mana sebenarnya air minum dalam kemasan yang beredar di pasaran diambil dan bagaimana proses pengolahannya.


1. RON 88: Air Pegunungan dari Lereng Gunung Mandalawangi

PT Panfila Indosari yang memproduksi air minum bermerek RON 88 menjelaskan bahwa air yang digunakan berasal langsung dari mata air alami di kaki Gunung Mandalawangi, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Air tersebut keluar melalui celah batuan tanpa proses pengeboran. Posisinya yang berada di kawasan pegunungan membuat sumber air RON 88 diklaim memiliki kualitas alami yang terlindungi secara alami.


2. Amidis: Air Sumur Dalam yang Melalui Proses Demineralisasi

Berbeda dengan air mineral pada umumnya, PT Amidis Tirta Mulia menggunakan proses demineralisasi untuk memproduksi air minum bermerek Amidis. Air yang digunakan berasal dari sumur dalam bawah tanah dan diolah melalui proses distilasi sehingga menghasilkan air murni tanpa kandungan mineral.


3. Le Minerale: Sumber dari Pegunungan Vulkanik Terpilih

PT Tirta Fresindo Jaya, produsen Le Minerale, memiliki sembilan pabrik yang tersebar di berbagai daerah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, hingga Sumatera Selatan. Menurut pihak perusahaan, sumber air yang digunakan berasal dari akuifer dalam di kedalaman 80–120 meter yang terletak di daerah dataran tinggi.

Namun, perusahaan juga menegaskan bahwa sumber air Le Minerale bukan sekadar air tanah dalam, melainkan berasal dari pegunungan vulkanik terpilih di Indonesia. Beberapa di antaranya berada di kawasan Gunung Salak, Gunung Pangrango, Gunung Mandalawangi, Gunung Gede, dan Gunung Bromo. Seluruh titik sumber ini diklaim telah melalui proses studi kelayakan dan seleksi yang ketat untuk memastikan kemurnian dan kandungan mineralnya.


4. Al Ma’soem: Mata Air Pegunungan Manglayang

PT Muawanah Al Ma’soem yang memproduksi air minum dengan merek Al Ma’soem, Quazam, dan Asri mengambil sumber air dari mata air alami di kawasan Gunung Manglayang, Kabupaten Bandung. Lokasi pabriknya berada sekitar enam kilometer dari kaki gunung, di wilayah Cileunyi. Perusahaan ini juga bekerja sama dengan Perhutani untuk menjaga keberlanjutan dan kelestarian sumber airnya.


5. Pristine: Air Alami dari Gunung Pangrango

Perusahaan PT Super Wahana Techno yang memproduksi air pH tinggi bermerek Pristine mengungkap bahwa bahan baku airnya berasal dari mata air alami di kawasan Gunung Pangrango, Kabupaten Bogor. Selain pabrik utama di Bogor, perusahaan juga menggandeng mitra pabrik maklon di Jawa Timur dan Jawa Barat untuk memperluas jangkauan produksinya.


6. Aqua: Air Pegunungan dari Akuifer Terlindungi

Sebagai salah satu merek air minum paling dikenal di Indonesia, PT Tirta Investama (Aqua) menjelaskan bahwa seluruh sumber air mereka berasal dari pegunungan, bukan air tanah biasa. Sebelum menentukan lokasi pabrik, Aqua bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk melakukan studi hidrogeologi dan isotop.

Proses pengeboran yang dilakukan bukan untuk mengambil air tanah sembarangan, melainkan untuk mengakses akuifer terlindungi yang berada jauh di bawah permukaan. Lapisan batuan di atas akuifer tersebut melindungi air dari potensi kontaminasi. Kedalaman pengeboran disesuaikan dengan kondisi geologi serta izin resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).


7. Cleo: Air Demineral dari Sumber Dalam

PT Sariguna Primatirta Tbk, produsen air minum Cleo, menjelaskan bahwa air baku yang mereka gunakan berasal dari sumber bawah tanah dalam. Air tersebut diolah menjadi air demineral, yang berarti kandungan mineralnya telah dihilangkan untuk menghasilkan air yang lebih murni. Saat ini Cleo memiliki 32 pabrik di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.


8. Le Yasmin: Sumber Air Tanah Dalam dari Sentul

PT Jaya Lestari Sejahtera yang memproduksi merek Le Yasmin berbasis di Sentul, Kabupaten Bogor. Perusahaan ini menggunakan sumber air dari sumur dalam dengan kedalaman antara 100 hingga 120 meter. Mereka memiliki empat izin pengambilan air tanah (SIPA) resmi untuk menjamin legalitas sumber airnya.


Mengapa Transparansi Sumber Air Ini Penting?

Keterbukaan delapan perusahaan AMDK tersebut menandai langkah penting dalam meningkatkan transparansi industri air minum di Indonesia. Selama ini, publik sering kali tidak mengetahui dari mana air dalam kemasan berasal, apakah dari pegunungan, sumur dalam, atau hasil proses demineralisasi.

Penjelasan ini juga penting untuk membedakan antara jenis air mineral alami, air demineral, dan air hasil distilasi yang memiliki karakteristik berbeda. Transparansi seperti ini dapat membantu konsumen memahami asal dan kualitas air yang mereka konsumsi setiap hari.


Kesimpulan

Delapan perusahaan air minum dalam kemasan di Indonesia kini mulai membuka informasi terkait sumber air yang mereka gunakan. Ada yang mengambil langsung dari mata air pegunungan, ada pula yang memanfaatkan air tanah dalam atau air hasil distilasi.

Langkah ini menunjukkan komitmen industri untuk lebih transparan dan bertanggung jawab terhadap konsumen serta kelestarian lingkungan. Dengan keterbukaan ini, masyarakat bisa lebih percaya terhadap produk air minum dalam kemasan yang mereka pilih.

Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan seputar industri air minum dan lingkungan di Indonesia, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: ⁠Kadar Mineral Alami pada Label Le Minerale Jadi Bukti Keaslian Air Pegunungan

Baca Juga: ESDM Bakal Evaluasi Izin Perusahaan Air Mineral Gunakan Air Tanah

FAQ

1. Mengapa delapan perusahaan air minum ini mengungkap sumber airnya?
Langkah ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan publik mengenai asal-usul air yang digunakan dalam produk air minum dalam kemasan (AMDK). Transparansi tersebut juga menjadi bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap konsumen dan lingkungan.


2. Apa saja perusahaan yang mengungkap sumber airnya dalam rapat DPR tersebut?
Delapan perusahaan tersebut adalah:

  • PT Panfila Indosari (RON 88)

  • PT Amidis Tirta Mulia (Amidis)

  • PT Tirta Fresindo Jaya (Le Minerale)

  • PT Muawanah Al Ma’soem (Al Ma’soem)

  • PT Super Wahana Techno (Pristine)

  • PT Tirta Investama (Aqua)

  • PT Sariguna Primatirta Tbk (Cleo)

  • PT Jaya Lestari Sejahtera (Le Yasmin)


3. Apa perbedaan antara air mineral dan air demineral?
Air mineral berasal dari sumber alami seperti mata air pegunungan dan mengandung mineral alami yang bermanfaat bagi tubuh.
Sedangkan air demineral adalah air yang telah melalui proses penghilangan mineral menggunakan teknologi distilasi atau deionisasi, sehingga hasilnya lebih murni namun tanpa kandungan mineral.


4. Apakah semua merek air minum di Indonesia berasal dari pegunungan?
Tidak semua. Beberapa merek seperti Aqua, Le Minerale, RON 88, Al Ma’soem, dan Pristine mengambil air dari mata air pegunungan. Namun, merek seperti Amidis dan Cleo menggunakan air tanah dalam yang diproses melalui metode demineralisasi.


5. Apakah penggunaan air tanah dalam legal di Indonesia?
Ya, selama perusahaan memiliki izin resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berupa SIPA (Surat Izin Pengambilan dan Pemanfaatan Air Tanah). Kedalaman pengeboran dan lokasi sumber air juga harus disesuaikan dengan hasil studi hidrogeologi.


6. Mengapa beberapa perusahaan melakukan pengeboran untuk mendapatkan air?
Pengeboran dilakukan untuk menjangkau akuifer terlindungi, yaitu lapisan air tanah yang berada di bawah permukaan bumi dan terlindungi oleh batuan. Air di akuifer ini relatif bersih, aman, dan bebas dari kontaminasi permukaan.


7. Benarkah air dari pegunungan lebih baik daripada air tanah biasa?
Secara umum, air pegunungan memiliki kadar mineral alami dan kemurnian yang tinggi karena berasal dari daerah resapan alami di ketinggian. Namun, kualitas air tanah dalam juga bisa sangat baik jika diambil dari akuifer terlindungi dan melalui proses pengolahan yang tepat.


8. Apakah Le Minerale benar-benar berasal dari air pegunungan?
Ya, menurut pihak perusahaan, Le Minerale mengambil air dari sumber pegunungan vulkanik terpilih seperti Gunung Salak, Pangrango, Mandalawangi, Gede, dan Bromo. Air tersebut diklaim memiliki kandungan mineral alami yang stabil dan aman dikonsumsi.


9. Apakah Pristine termasuk air mineral biasa?
Tidak. Pristine dikenal sebagai air minum dengan pH tinggi (alkaline water) yang diambil dari mata air pegunungan Pangrango. Air ini kemudian diolah agar memiliki pH yang lebih basa dibanding air mineral pada umumnya.


10. Apa manfaat dari transparansi sumber air bagi konsumen?
Dengan mengetahui asal air yang digunakan, konsumen dapat menilai kualitas, keaslian, dan keamanan air yang mereka konsumsi. Transparansi juga membantu membangun kepercayaan antara produsen dan pembeli.


11. Apakah semua sumber air ini aman dari pencemaran?
Perusahaan menyebutkan bahwa sumber air mereka berasal dari wilayah terlindungi dan telah melalui uji kelayakan lingkungan serta studi hidrogeologi. Proses ini memastikan air yang diambil aman dari kontaminasi dan sesuai standar kesehatan.


12. Apakah masyarakat bisa mengetahui lokasi pasti sumber air suatu merek?
Sebagian besar perusahaan mencantumkan asal sumber air di kemasan produknya. Selain itu, informasi tersebut juga bisa ditemukan melalui situs resmi masing-masing produsen atau publikasi resmi dari pemerintah.


13. Apakah perusahaan seperti Aqua dan Le Minerale memiliki izin resmi untuk mengambil air pegunungan?
Ya. Kedua perusahaan tersebut telah melakukan studi bersama perguruan tinggi dan mendapatkan izin eksploitasi sumber air dari Kementerian ESDM sesuai dengan ketentuan yang berlaku.


14. Bagaimana cara perusahaan menjaga keberlanjutan sumber airnya?
Beberapa perusahaan seperti Al Ma’soem dan Aqua menjalin kerja sama dengan lembaga seperti Perhutani dan universitas untuk melakukan konservasi hutan, menjaga daerah resapan air, dan memastikan debit air tetap stabil.


15. Apakah masyarakat bisa mengonsumsi air demineral setiap hari?
Air demineral aman diminum, tetapi karena tidak mengandung mineral alami seperti kalsium atau magnesium, beberapa ahli menyarankan untuk tetap mengombinasikannya dengan sumber air mineral alami agar kebutuhan mineral harian tetap terpenuhi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.