Transportasi Terganggu Akibat Banjir, Kemenhub Kerahkan Tim Lapangan

AKURAT.CO Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan seluruh jajarannya siaga penuh untuk memastikan keselamatan pengguna jasa transportasi dan menjaga kelancaran pergerakan orang maupun barang dalam situasi darurat ini.
Adapun, banjir dan longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dalam beberapa hari terakhir telah mengganggu jaringan transportasi serta aktivitas masyarakat di berbagai wilayah.
"Sekali lagi atas nama Kementerian Perhubungan, saya menyampaikan duka cita yang mendalam kepada seluruh korban dan keluarga yang terdampak, dan kami memastikan seluruh lini transportasi bergerak cepat membantu penanganan bencana ini," kata Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi dikutip dari laman Kemenhub, Minggu (30/11/2025).
Sejak kejadian, seluruh unit kerja teknis Kemenhub di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat segera meningkatkan kesiagaan, melakukan pemantauan berkala, dan melaporkan kondisi terkini ke kantor pusat.
Laporan sementara dari unit pelaksana teknis di lapangan menunjukkan adanya kerusakan di sejumlah ruas jalan nasional, penurunan layanan di terminal dan pelabuhan, serta lebih dari seratus pegawai dan keluarga yang ikut terdampak banjir.
Baca Juga: Kemenhub Gerak Cepat Pulihkan Layanan Transportasi Terdampak Banjir
Meski sebagian akses jalan dan jaringan listrik maupun komunikasi masih terganggu, Kemenhub menegaskan bahwa pelayanan transportasi esensial tetap diupayakan berjalan dengan penyesuaian operasional di masing-masing daerah.
Untuk menjaga kesinambungan layanan sekaligus melindungi pegawai yang rumahnya terdampak banjir, operasional kantor di sejumlah satuan kerja dilaksanakan secara Work From Anywhere (WFA) dengan memanfaatkan sistem pelayanan dan pelaporan daring.
Sementara itu, kantor-kantor Satuan Pelayanan difokuskan pada pemantauan lintas dan pengaturan lalu lintas di titik-titik rawan agar pergerakan kendaraan evakuasi, bantuan logistik, dan angkutan vital tetap terjaga.
Tim bantuan dari Politeknik Penerbangan (Poltekbang) Medan, Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati, dan Poltekpel Sumbar sejak kemarin telah digerakkan untuk menghimpun bantuan dan mengirim personel terlatih.
Personel ini bergabung dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di lapangan.
Baca Juga: Arahan Presiden Prabowo, Kemenhub Perketat Ramp Check Nasional Jelang Nataru 2026
Personel perbantuan ini diturunkan untuk memperkuat operasi evakuasi dan pengamanan simpul transportasi, serta untuk membantu pengelolaan arus pengungsi dan penataan area padat warga di terminal, pelabuhan penyeberangan, dan titik kumpul lainnya. Selain itu, sebagai bentuk kepedulian sosial, Poltekbang Medan bersama BPTD Kelas II Sumatera Utara menyiapkan total 300 paket sembako bagi para mahasiswa, pegawai dan masyarakat yang terdampak di sekitar wilayah pelayanan di Tapanuli, Sibolga, dan sekitarnya. Di sektor perkeretaapian, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) bersama satuan pelayanan dan unit resort PT KAI melakukan pemantauan intensif di lintas yang terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, sambil mengaktifkan posko pemantauan di kantor balai. "Setiap langkah rehabilitasi jalur, kami lakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi cuaca dan keselamatan pekerja, sembari menurunkan alat berat dan material rel bekas untuk meminimalisir dampak gangguan perjalanan kereta api," tutur Dudy. Sebagai tindak lanjut sementara, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) bersama PT KAI, PT Railink, BPTD, dan Dinas Perhubungan setempat telah menerjunkan alat berat, memperkuat tim lapangan, dan menyiapkan skema pengalihan perjalanan di ruas-ruas jalur yang masih terdampak.
Beberapa segmen jalur rel yang rusak sementara ini distabilkan dengan pemanfaatan rel bekas dan material penopang lain, sambil menunggu cuaca lebih kondusif untuk rehabilitasi menyeluruh demi menjamin kembali keselamatan dan keandalan operasi kereta api. Sementara, dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, BPTD Kelas II Aceh mengalihfungsikan Terminal Tipe A sebagai posko singgah bus antarkota antarprovinsi dan pusat informasi bagi penumpang, sementara Pelabuhan Singkil tetap beroperasi melayani penyeberangan di tengah terbatasnya akses jalan dan pasokan listrik. Di Sumatra Utara, operasional terminal secara umum masih berjalan dengan dukungan genset di Terminal Amplas dan komunikasi satelit di kawasan Sibolga.
Sedangkan di Sumatra Barat layanan terminal, pelabuhan penyeberangan, dan UPPKB tetap dibuka dengan penyesuaian kapasitas dan pengawasan terhadap kondisi cuaca.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










