Tugu Green Journey: Strategi Nyata Tugu Insurance Kurangi 1,7 Ton Limbah Tekstil dan Tanam 10.000 Mangrove

AKURAT.CO Indonesia menghasilkan sekitar 2,3 juta ton limbah tekstil setiap tahun, tetapi hanya sekitar 300 ribu ton yang berhasil didaur ulang. Artinya, jutaan ton pakaian bekas berpotensi berakhir di TPA atau mencemari lingkungan. Di tengah isu fast fashion dan krisis iklim yang makin dekat dengan kehidupan Gen Z dan milenial, PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk menghadirkan Tugu Green Journey sebagai langkah konkret pengurangan limbah dan jejak karbon korporasi.
Program ini bukan sekadar kampanye hijau, tetapi bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang perusahaan asuransi tersebut.
Apa Itu Tugu Green Journey?
Tugu Green Journey adalah program keberlanjutan dari Tugu Insurance yang berfokus pada:
Pengelolaan limbah tekstil melalui daur ulang pakaian bekas
Pengurangan emisi karbon perusahaan
Penanaman mangrove dan konservasi pesisir
Edukasi lingkungan serta pelibatan relawan
Program ini menjadi bagian dari komitmen Tanggung Jawab Lingkungan dan Sosial (TJSL) perusahaan, sekaligus memperkuat strategi ESG perusahaan asuransi di Indonesia.
Tantangan Limbah Tekstil di Indonesia dan Respons Tugu Insurance
Industri fashion menjadi salah satu penyumbang limbah terbesar. Dengan produksi limbah mencapai jutaan ton per tahun, sistem pengelolaan limbah tekstil Indonesia masih menghadapi tantangan serius.
Melihat kondisi tersebut, Tugu Insurance menginisiasi Waste Management Program yang melibatkan lebih dari 200 relawan internal. Fokusnya sederhana tapi berdampak: daur ulang seragam dan pakaian bekas yang sudah tidak layak pakai agar tidak berakhir sebagai sampah.
Langkah ini menunjukkan bahwa program keberlanjutan perusahaan tidak harus menunggu skala besar untuk mulai berdampak.
Daur Ulang 1,7 Ton Seragam Bekas dan Dampaknya pada Emisi Karbon
Melalui inisiatif ini, perusahaan berhasil mengumpulkan 1,7 ton limbah tekstil untuk diolah kembali menjadi:
Insulation felt
Benang daur ulang
Merchandise ramah lingkungan
Program tersebut diproyeksikan mampu mengurangi emisi hingga 4.289 KgCO₂ sebagai bagian dari strategi pengurangan emisi karbon perusahaan.
Angka ini mungkin terdengar kecil dibanding total emisi nasional, tetapi dalam konteks jejak karbon korporasi, langkah terukur seperti ini menjadi fondasi penting menuju netralitas karbon.
Penanaman 10.000 Mangrove di Kepulauan Seribu
Selain pengelolaan limbah, Tugu Green Journey juga menyasar konservasi pesisir Indonesia. Perusahaan menanam lebih dari 10.000 bibit mangrove, terutama di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu.
Selama lima tahun terakhir, total hampir 50.000 bibit pohon hutan dan mangrove telah ditanam di berbagai wilayah.
Mangrove memiliki fungsi strategis:
Menyerap karbon lebih efektif dibanding banyak jenis pohon darat
Mencegah abrasi dan melindungi garis pantai
Menjadi habitat penting bagi ekosistem pesisir
Upaya ini memperkuat konservasi pesisir Indonesia sekaligus menekan dampak perubahan iklim.
Peran Relawan Kawan Bakti Tugu dalam Aksi Bersih Pantai
Komitmen keberlanjutan tidak hanya berhenti pada kebijakan perusahaan. Tugu Insurance mendorong partisipasi aktif karyawan dan mahasiswa melalui relawan Kawan Bakti Tugu.
Mereka terlibat dalam:
Aksi bersih pantai (beach clean-up)
Edukasi lingkungan
Dukungan pertumbuhan mangrove
Corporate Secretary perusahaan, Dudi Subekti, menyatakan bahwa program ini merupakan komitmen jangka panjang TJSL.
“Melalui berbagai program yang kami jalankan, kami berkomitmen menghadirkan kontribusi nyata untuk meningkatkan kesadaran dan edukasi masyarakat, sekaligus memperkuat kolaborasi dalam menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Senin, 2 Maret 2026.
Apakah Program CSR Cukup Menjawab Krisis Lingkungan?
Pertanyaannya, apakah program seperti ini cukup untuk menjawab krisis limbah nasional?
Secara skala, tentu belum. Indonesia masih menghadapi tantangan sistemik dalam pengelolaan sampah dan emisi. Namun, kontribusi korporasi tetap penting. Dalam konteks ESG perusahaan asuransi, keberlanjutan bukan lagi sekadar reputasi, tetapi bagian dari manajemen risiko jangka panjang.
Investor global kini semakin mempertimbangkan aspek lingkungan sebelum menanamkan modal. Artinya, pengurangan jejak karbon dan konservasi bukan hanya isu moral, tetapi juga strategi bisnis.
Bayangkan Jika Ratusan Perusahaan Melakukan Hal yang Sama
Satu perusahaan mampu mengelola 1,7 ton limbah tekstil dan menanam puluhan ribu pohon.
Bayangkan jika 100 perusahaan melakukan hal serupa setiap tahun. Potensi pengurangan limbah dan emisi bisa melonjak signifikan, sekaligus mempercepat transisi menuju ekonomi hijau.
Inilah efek domino yang sering luput dari perhatian: perubahan besar bisa dimulai dari aksi yang terukur.
Mengapa Ini Relevan untuk Gen Z dan Milenial?
Generasi muda kini semakin peduli pada isu sustainability. Banyak yang mempertimbangkan:
Apakah perusahaan punya komitmen lingkungan?
Apakah brand mendukung konservasi?
Apakah tempat kerja menerapkan prinsip ESG?
Tugu Green Journey menunjukkan bahwa sektor asuransi pun bisa mengambil peran dalam pengurangan emisi karbon perusahaan dan konservasi pesisir Indonesia.
Bagi Gen Z dan milenial kelas menengah, program seperti ini bukan sekadar berita korporasi—melainkan indikator arah masa depan bisnis yang lebih bertanggung jawab.
Penutup: Langkah Kecil, Dampak Panjang
Isu lingkungan tidak bisa diselesaikan dalam semalam. Namun, langkah konkret seperti pengelolaan limbah tekstil, penanaman mangrove, dan aksi bersih pantai menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perusahaan harus berkontribusi, tetapi seberapa konsisten mereka menjalankannya.
Pantau terus perkembangan inisiatif keberlanjutan seperti Tugu Green Journey untuk melihat bagaimana dampaknya membentuk masa depan lingkungan dan dunia bisnis Indonesia.
Baca Juga: Apa Itu Konservasi Mangrove? Ini Fungsi dan Pentingnya bagi Lingkungan
Baca Juga: Tarif Bea Masuk Tekstil RI ke AS 0 Persen, Begini Dampaknya ke 4 Juta Pekerja
FAQ
1. Apa itu Tugu Green Journey dan apa tujuan utamanya?
Tugu Green Journey adalah program keberlanjutan dari Tugu Insurance yang berfokus pada pengelolaan limbah tekstil, pengurangan emisi karbon perusahaan, serta konservasi pesisir melalui penanaman mangrove. Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen TJSL dan strategi ESG perusahaan asuransi untuk menghadirkan dampak lingkungan yang terukur dan berkelanjutan.
2. Bagaimana Tugu Insurance mengelola limbah tekstil melalui program ini?
Melalui Waste Management Program, Tugu Insurance mendaur ulang seragam dan pakaian bekas yang sudah tidak layak pakai. Sebanyak 1,7 ton limbah tekstil berhasil diolah menjadi produk bernilai guna seperti insulation felt, benang daur ulang, dan merchandise ramah lingkungan, sehingga membantu mengurangi beban sampah tekstil di Indonesia.
3. Seberapa besar dampak pengurangan emisi dari Tugu Green Journey?
Program daur ulang tersebut diproyeksikan mampu menekan emisi hingga 4.289 KgCO₂ sebagai bagian dari strategi pengurangan jejak karbon korporasi. Meski skalanya terbatas dibanding emisi nasional, langkah ini menunjukkan kontribusi nyata perusahaan dalam mendukung transisi menuju praktik bisnis rendah karbon.
4. Mengapa penanaman mangrove di Kepulauan Seribu penting bagi lingkungan?
Penanaman lebih dari 10.000 mangrove di Kepulauan Seribu membantu menyerap karbon, mencegah abrasi, dan memperkuat ketahanan ekosistem pesisir. Mangrove dikenal memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang tinggi, sehingga berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim dan perlindungan kawasan pantai.
5. Siapa saja yang terlibat dalam program keberlanjutan ini?
Program ini melibatkan lebih dari 200 relawan internal serta komunitas lokal melalui wadah Kawan Bakti Tugu. Partisipasi relawan lingkungan perusahaan ini memperkuat aksi bersih pantai dan edukasi masyarakat, sekaligus membangun budaya peduli lingkungan di kalangan karyawan dan generasi muda.
6. Apa relevansi Tugu Green Journey bagi generasi muda dan tren ESG?
Bagi Gen Z dan milenial, komitmen terhadap sustainability menjadi faktor penting dalam menilai reputasi brand dan tempat kerja. Tugu Green Journey menunjukkan bahwa ESG perusahaan asuransi bukan sekadar konsep, tetapi diterjemahkan dalam aksi konkret seperti konservasi pesisir Indonesia dan pengurangan emisi karbon perusahaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









