Akurat
Pemprov Sumsel

BPS: Beras dan Ayam Ras Jadi Penentu Utama Inflasi Indonesia

Andi Syafriadi | 9 Maret 2026, 14:15 WIB
BPS: Beras dan Ayam Ras Jadi Penentu Utama Inflasi Indonesia
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti

AKURAT.CO Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan stabilitas harga pangan utama menjadi kunci pengendalian inflasi di Indonesia karena memiliki bobot konsumsi terbesar dalam pengeluaran masyarakat.

Dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah di Jakarta, Senin (9/3/2026). Amalia menyebut komoditas dengan bobot konsumsi terbesar dalam keranjang konsumsi nasional adalah beras.

Setelah itu diikuti daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, dan daging sapi.

Menurutnya, kenaikan harga pada komoditas dengan bobot konsumsi tinggi dapat mendorong inflasi secara signifikan.

Baca Juga: BPS: Inflasi Ramadhan 2026 Capai 0,68 persen, Lebih Rendah dari 2025

"Kalau bobotnya tinggi dan kenaikan harganya tinggi, ini akan mendorong inflasi. Oleh sebab itu, komoditas dengan bobot konsumsi besar perlu dijaga harganya," ujarnya.

Data inflasi nasional yang dirilis BPS secara rutin menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu kontributor terbesar inflasi dalam beberapa tahun terakhir.

Diketahui, dalam metodologi penghitungan inflasi, BPS menggunakan keranjang konsumsi rumah tangga berdasarkan Survei Biaya Hidup. Setiap komoditas memiliki bobot berbeda sesuai porsi pengeluaran masyarakat.

Komoditas pangan seperti beras memiliki bobot besar karena dikonsumsi hampir seluruh rumah tangga Indonesia.

Secara historis, lonjakan harga beras atau daging ayam sering menjadi faktor utama kenaikan inflasi bulanan, terutama menjelang hari besar keagamaan dan saat gangguan pasokan terjadi.

Baca Juga: BPS: Pola Inflasi Ramadan Berulang, Pangan Jadi Pemicu

Kenaikan inflasi pangan dapat memengaruhi daya beli masyarakat karena harga bahan pokok berkaitan langsung dengan pengeluaran rumah tangga.

Bagi pemerintah, tekanan inflasi juga berdampak pada kebijakan moneter dan fiskal, termasuk langkah stabilisasi harga dan pengelolaan pasokan pangan nasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.