KAI Bangun Hunian Terintegrasi di Stasiun Manggarai, Begini Rencananya

AKURAT.CO PT Kereta Api Indonesia (Persero) mendukung program pembangunan nasional melalui pengembangan hunian terintegrasi di kawasan stasiun berbasis konsep Transit Oriented Development (TOD).
Pencanangan pembangunan hunian tersebut dilaksanakan di Stasiun Manggarai, Jakarta, serta secara simultan di Bandung (Stasiun Kiaracondong), Semarang (Kawasan Jl. Dr. Kariadi/Gergaji), dan Surabaya (Lapangan Mendut).
Pengembangan hunian ini merupakan bagian dari pemanfaatan aset perkeretaapian untuk menghadirkan kawasan permukiman yang terhubung langsung dengan transportasi publik, sehingga masyarakat dapat tinggal lebih dekat dengan pusat aktivitas serta memiliki akses mobilitas yang lebih efisien.
Baca Juga: KPK Sita Mobil dan Uang SGD78.000 dari Kasus Suap Impor di Ditjen Bea Cukai
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa KAI mengelola lebih dari 327 juta meter persegi lahan perkeretaapian yang memiliki potensi untuk dikembangkan melalui pendekatan kawasan berbasis transportasi.
“Di wilayah Jabodetabek saja, kawasan di sekitar stasiun memiliki potensi pembangunan sekitar 131 ribu unit hunian yang terhubung langsung dengan jaringan transportasi publik,” kata Bobby dalam keterangannya, Selasa (17/3/2026).
Menurut Bobby, pengembangan hunian di kawasan stasiun berkontribusi pada tiga agenda utama pembangunan perkotaan, yaitu memperluas akses hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat, mendorong efisiensi pemanfaatan lahan melalui hunian vertikal di kawasan dengan mobilitas tinggi, serta memperkuat integrasi antara hunian dan transportasi publik.
Salah satu contoh pengembangan tersebut adalah Rusun MBR Manggarai yang berlokasi di Jl. Manggarai Utara I dan Jl. Manggarai Utara II, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Proyek ini dibangun di atas lahan sekitar 2,1 hektare (21.939 m²) yang terdiri dari Blok G seluas ±6.925 m² dan Blok F seluas ±15.014 m².
Pembangunan hunian tersebut akan dilaksanakan oleh KAI Properti, anak usaha KAI yang bergerak di bidang pengembangan properti dan pengelolaan kawasan berbasis transportasi.
Bangunan direncanakan memiliki 12 lantai, dengan lantai 1 dan 2 difungsikan sebagai area retail dan kios yang mendukung aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Baca Juga: Mudik Lebaran 2026 Pakai Mobil Listrik? Berikut Daftar Lokasi SPKLU di Seluruh Tol Milik ASTRA
Unit hunian tersedia dalam dua tipe, yaitu Tipe 45 dan Tipe 52. dengan harga jual menyesuaikan tipe unit dan ketentuan yang berlaku.
Pembangunan Rusun MBR Manggarai akan dilaksanakan secara bertahap. Blok G dijadwalkan mulai dibangun pada Agustus 2026, sedangkan Blok F direncanakan mulai pada Oktober 2026, dengan estimasi durasi konstruksi sekitar 10 hingga 15 bulan.
Serah terima unit diperkirakan berlangsung pada Mei–Agustus 2027 untuk Blok G, serta Desember 2027 hingga Februari 2028 untuk Blok F.
Kawasan hunian ini juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti akses langsung menuju Stasiun Manggarai dan Halte Transjakarta, gedung parkir terintegrasi, ruang terbuka hijau, serta area olahraga bagi penghuni.
Sebagai simpul transportasi utama di Jakarta, Stasiun Manggarai melayani mobilitas yang sangat tinggi setiap hari. Lebih dari 770 perjalanan kereta api melintas di stasiun ini, terdiri dari sekitar 638 perjalanan KRL Jabodetabek, sekitar 70 perjalanan Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta, serta layanan kereta api jarak jauh.
Tingginya mobilitas tersebut tercermin dari jumlah pengguna Stasiun Manggarai yang mencapai 5,14 juta gate in pada 2023, meningkat menjadi 5,57 juta pada 2024, dan berada pada 5,45 juta pada 2025. Stasiun Manggarai juga menjadi stasiun transit utama yang melayani lebih dari 200 ribu penumpang transit setiap hari.
Sementara itu, jumlah pengguna Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta juga menunjukkan peningkatan, dari 1,97 juta penumpang pada 2023 menjadi 2,24 juta pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 2,34 juta penumpang pada 2025.
Data tersebut menunjukkan bahwa kawasan stasiun memiliki aktivitas mobilitas yang sangat tinggi sehingga pengembangan hunian di area tersebut menjadi solusi yang relevan untuk mendukung pola hidup urban yang lebih efisien.
“Melalui pengembangan kawasan berbasis stasiun ini, KAI ingin menghadirkan ekosistem kota yang lebih terintegrasi antara hunian, transportasi, dan aktivitas ekonomi, sehingga mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien serta kualitas hidup di kawasan perkotaan dapat terus meningkat,” tutur Bobby.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










