Amran Targetkan B50 dan E20 pada 2026, Impor Solar Siap Dihentikan

AKURAT.CO Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyatakan, pemerintah menargetkan implementasi biodiesel B50 pada 2026 sebagai langkah strategis menghentikan impor solar dan mempercepat kemandirian energi nasional berbasis komoditas dalam negeri.
“Ini biofuel, insya Allah B50 tahun ini kita terapkan dan stop impor untuk solar,” ujar Amran dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Selain biodiesel, pemerintah juga mulai mengembangkan bahan bakar berbasis etanol melalui skema campuran E20, yakni bensin dengan kandungan 20% etanol.
Baca Juga: Optimistis Presidensi B20-G20 Indonesia Mampu Beri Terobosan untuk Pemulihan Ekonomi Dunia
“Kemudian, tahap berikutnya, kami baru tadi rapat, itu menuju E20. Apa artinya? 20 persen dari bensin itu campuran etanol,” katanya.
Dari sisi pasokan, Kementerian Pertanian mencatat potensi bahan baku energi cukup besar dari komoditas domestik. Produksi tetes tebu yang selama ini diekspor sekitar 1 juta ton per tahun akan dialihkan menjadi bahan baku etanol.
Selain itu, jagung dan ubi juga disiapkan sebagai sumber alternatif.
“Sumber etanol itu tebu. Kita punya tetes kurang lebih 1 juta ton yang kita ekspor. Ini insya Allah kita jadikan etanol,” ujar Amran.
Data lain menunjukkan dukungan sektor sawit terhadap program energi juga meningkat. Ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia saat ini mencapai 32 juta ton atau naik sekitar 6 juta ton dibanding periode sebelumnya.
“CPO kita, ekspornya naik 6 juta ton. Sekarang 32 juta ton ekspor CPO kita. Ini berkah buat petani Indonesia,” kata dia.
Di sisi pangan, pemerintah melaporkan stok beras nasional mencapai 4,3 juta ton dan diproyeksikan meningkat menjadi 5 juta ton dalam waktu dekat.
“Hari ini, stok kita 4,3 juta ton. Bulan depan insya Allah 5 juta ton,” ujarnya.
Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak Dunia Jadi Momentum Percepat Implementasi B50
Program mandatori biodiesel di Indonesia telah berjalan bertahap sejak implementasi B20 pada 2016, meningkat menjadi B30 pada 2020, dan dilanjutkan B35 pada 2023.
Program ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menekan defisit neraca energi, yang selama ini masih bergantung pada impor BBM, terutama solar.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), impor BBM Indonesia masih berada di kisaran puluhan juta kiloliter per tahun, dengan solar menjadi salah satu komponen utama.
Transisi ke B50 dan E20 dinilai sebagai langkah lanjutan untuk mengurangi ketergantungan tersebut sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor pertanian melalui hilirisasi.
Implementasi B50 berpotensi menekan impor solar secara signifikan, yang pada gilirannya dapat memperbaiki neraca perdagangan dan menstabilkan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, peningkatan permintaan bahan baku seperti sawit, tebu, dan jagung berpotensi mendorong harga komoditas dan meningkatkan pendapatan petani.
Namun, kebijakan ini juga berimplikasi pada industri energi dan otomotif, terutama terkait kesiapan mesin dan distribusi bahan bakar dengan campuran lebih tinggi.
Selain itu, peningkatan alokasi komoditas untuk energi perlu dijaga agar tidak mengganggu pasokan pangan domestik.
Pemerintah menargetkan sinergi antara ketahanan pangan dan energi sebagai fondasi menuju visi Indonesia Emas 2045.
“Artinya apa? Ke depan ini kita mandiri pangan insya Allah aman, kemudian mudah-mudahan ke depan mandiri energi,” kata Amran.
Keberhasilan implementasi B50 dan E20 akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, pasokan bahan baku, serta koordinasi lintas sektor, termasuk energi, pertanian, dan industri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.











