Climate Transition Plan TBS: Strategi Netral Karbon 2030 yang Kredibel
AKURAT.CO Pernahkah Anda membayangkan bagaimana perusahaan energi besar seperti TBS Energi Utama bisa berubah dari bisnis berbasis batubara menjadi pemain utama energi rendah karbon di Indonesia?
Fakta menariknya, TBS tidak hanya membuat janji, tapi menyusun roadmap nyata melalui Climate Transition Plan TBS yang diluncurkan pada November 2025. Inisiatif ini mendapat dukungan strategis dari Bank DBS Indonesia, yang memfasilitasi pembiayaan berkelanjutan untuk mempercepat transisi energi.
Dengan strategi ini, TBS menargetkan netral karbon pada 2030 sekaligus memproyeksikan 80% pendapatannya berasal dari sektor non-batubara.
Dikutip dari pernyataan Juli Oktarina, Direktur TBS, “Climate Transition Plan TBS merupakan komitmen nyata dan panduan strategis menuju dekarbonisasi yang kredibel, dengan fokus pada penghentian bertahap operasional batubara, reinvestasi ke pertumbuhan rendah karbon, dan efisiensi operasional menuju target netral karbon 2030.”
Apa itu Climate Transition Plan TBS dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Climate Transition Plan TBS adalah peta jalan strategis TBS untuk menurunkan emisi karbon operasional (Scope 1 & 2) dan mengalihkan basis bisnis dari fosil ke energi rendah karbon.
Langkah konkret TBS meliputi:
Divestasi PLTU batu bara – Dua anak usaha PLTU divestasikan pada 2024, mengurangi 86% emisi operasional tahunan.
Hentikan penambangan batubara – Dijadwalkan pada 2027.
Investasi di pilar bisnis rendah karbon:
Pengelolaan limbah: Akuisisi AMES, ARAH, dan Cora Environment.
Energi terbarukan: PLTS Terapung 46 MWp di Batam dan PLTM mini-hidro di Lampung (operasional 2025).
Mobilitas listrik: Electrum dengan 7.500+ motor listrik dan 360+ stasiun pertukaran baterai di Jabodetabek.
Investasi total hingga US$600 juta, menargetkan 80% pendapatan dari sektor non-batubara pada 2030.
Bank DBS Indonesia mendukung TBS melalui pembiayaan transisi dan advisory strategis, termasuk blended finance senilai US$15 juta untuk Electrum.
Evolusi Strategi TBS Menuju Netral Karbon
Sejak 2022, TBS telah mengembangkan strategi TBS2030, yang kemudian berevolusi menjadi Climate Transition Plan TBS pada 2025. Rencana ini lebih komprehensif karena:
Mengacu pada European Sustainability Reporting Standards (ESRS) E1 – Climate Change.
Memuat target emisi, rencana aksi, implikasi keuangan, dan tata kelola ESG.
Membuat transisi perusahaan lebih kredibel dan terukur di mata investor serta sektor keuangan.
Dengan CTP, TBS menjadi salah satu perusahaan energi terintegrasi pertama di Indonesia yang memformalkan strategi transisinya secara terbuka.
Pilar Bisnis Rendah Karbon TBS
Pengelolaan Limbah
TBS membangun platform limbah regional melalui akuisisi AMES, ARAH, dan Cora Environment, memperkuat posisi sebagai pemain terintegrasi di sektor ini.Energi Terbarukan
PLTS Terapung 46 MWp di Batam
PLTM mini-hidro di Lampung (operasional 2025)
Langkah ini menandai transisi nyata dari energi fosil ke renewable.
Mobilitas Listrik
Electrum menghadirkan >7.500 motor listrik di jalanan
360+ Battery Swap Station (BSS) di Jabodetabek
Dukungan Bank DBS Indonesia melalui blended finance membantu ekspansi EV ini.
Peran Bank DBS Indonesia dalam Transisi TBS
Menurut Anthonius Sehonamin, Director of Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia:
"Kami mendukung TBS Energi Utama Tbk tidak hanya melalui solusi pembiayaan transisi, tetapi juga melalui pendampingan strategis dalam penyusunan Climate Transition Plan yang kredibel dan terukur. Rencana ini bukan hanya ambisius, tapi bisa dieksekusi nyata menuju target net-zero," ujar Anthonius melalui pengumuman tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 2 April 2026.
Fokus Bank DBS Indonesia:
Transition financing yang kredibel dan terukur
Advisory strategis dan penguatan tata kelola ESG
Struktur pembiayaan inovatif untuk investasi rendah karbon
Insight dan Dampak Strategi Transisi
Paradoks sosial: Perusahaan masih bergantung pada energi fosil sementara menargetkan netral karbon.
Peluang investasi: Sektor energi terbarukan dan EV menjadi pilihan strategis bagi investor generasi milenial/Z.
Dampak ekonomi & sosial: Mengurangi emisi, memperkuat reputasi perusahaan, dan mendukung target Net Zero Indonesia 2060.
Misalnya, motor listrik Electrum bukan hanya solusi transportasi, tapi juga mendorong kebiasaan ramah lingkungan masyarakat urban.
Contoh Nyata Implementasi CTP
Bayangkan Anda melihat motor listrik Electrum di jalanan Jabodetabek: setiap kendaraan yang menggantikan motor bensin berarti mengurangi emisi karbon secara langsung. Di sisi energi, PLTS Terapung Batam menyediakan listrik bersih untuk ratusan rumah dan industri, menunjukkan bahwa rencana dekarbonisasi TBS dapat dirasakan masyarakat sehari-hari.
Mengapa Ini Penting untuk Generasi Milenial dan Z?
Memengaruhi pilihan investasi: Renewable energy dan EV menjadi sektor yang diminati.
Menunjukkan bagaimana perusahaan besar bisa menyeimbangkan profit dan sustainability.
Memberikan insight tentang tren energi rendah karbon yang akan membentuk pekerjaan dan gaya hidup di masa depan.
Mengabaikan tren ini bisa membuat individu dan investor tertinggal dalam adaptasi ekonomi hijau.
Penutup Reflektif
Transformasi TBS melalui Climate Transition Plan bukan sekadar strategi korporasi, tapi cerminan bagaimana energi dan bisnis bisa berkontribusi nyata pada masa depan yang lebih bersih. Apakah strategi ini akan menginspirasi perusahaan lain di Indonesia? Bagaimana langkah-langkah ini memengaruhi kehidupan dan investasi generasi milenial/Z?
Pantau terus perkembangan topik ini untuk melihat bagaimana dampaknya ke depan.
Baca Juga: Perang Iran Guncang Energi Eropa, Target Iklim Mulai Dikaji Ulang
Baca Juga: Komisi X DPR Dukung Kebijakan Hemat Energi, Pembelajaran Tatap Muka Tetap Prioritas
FAQ
1. Apa itu Climate Transition Plan TBS?
Climate Transition Plan TBS adalah strategi resmi PT TBS Energi Utama Tbk untuk menurunkan emisi karbon dan beralih dari bisnis berbasis fosil ke energi rendah karbon. Rencana ini mencakup divestasi PLTU batu bara, investasi di energi terbarukan, mobilitas listrik, dan pengelolaan limbah, dengan target netral karbon pada 2030.
2. Bagaimana TBS Energi Utama mencapai netral karbon 2030?
TBS mencapai netral karbon melalui kombinasi divestasi aset fosil, penghentian penambangan batubara, pengembangan PLTS Terapung dan PLTM mini-hidro, serta ekspansi kendaraan listrik Electrum. Langkah ini didukung pembiayaan berkelanjutan dari Bank DBS Indonesia untuk memastikan transisi energi yang kredibel dan terukur.
3. Apa saja pilar bisnis rendah karbon TBS?
Pilar bisnis rendah karbon TBS meliputi pengelolaan limbah melalui akuisisi AMES, ARAH, dan Cora Environment, energi terbarukan seperti PLTS Terapung 46 MWp di Batam, serta mobilitas listrik Electrum dengan 7.500+ motor listrik dan 360+ stasiun pertukaran baterai. Ketiga pilar ini menjadi inti strategi dekarbonisasi perusahaan.
4. Siapa yang mendukung pembiayaan Climate Transition Plan TBS?
Bank DBS Indonesia menjadi mitra utama dalam mendukung Climate Transition Plan TBS melalui pembiayaan transisi dan advisory strategis. Dukungan ini termasuk blended finance senilai US$15 juta untuk ekspansi kendaraan listrik Electrum, serta pendampingan dalam penyusunan roadmap dekarbonisasi sesuai standar internasional.
5. Mengapa divestasi PLTU batu bara penting bagi TBS?
Divestasi dua anak usaha PLTU batu bara pada 2024 sangat penting karena mengurangi sekitar 86% total emisi operasional perusahaan. Langkah ini menandai pergeseran nyata dari bisnis fosil ke energi rendah karbon, sekaligus meningkatkan kredibilitas TBS di mata investor dan sektor keuangan global.
6. Apa dampak Climate Transition Plan TBS bagi masyarakat dan investor?
CTP TBS berdampak pada pengurangan emisi karbon, penyediaan energi bersih, dan pengembangan transportasi ramah lingkungan. Bagi investor, rencana ini membuka peluang investasi di sektor renewable energy dan kendaraan listrik, sedangkan masyarakat mendapatkan manfaat langsung dari akses energi hijau dan mobilitas listrik yang lebih bersih.
7. Bagaimana TBS memastikan transparansi dalam implementasi CTP?
TBS melaporkan emisi Scope 1 dan 2 dengan jaminan terbatas (limited assurance) sesuai standar ISO 14064 dan regulasi OJK. Selain itu, rencana dekarbonisasi mengacu pada European Sustainability Reporting Standards (ESRS) E1, sehingga strategi transisi, target emisi, dan implikasi finansial dapat dipantau oleh investor dan pemangku kepentingan secara transparan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









