Akurat
Pemprov Sumsel

Rekor Baru, Stok Beras RI 4,4 Juta Ton Diproyeksi Sentuh 6 Juta

Esha Tri Wahyuni | 4 April 2026, 20:10 WIB
Rekor Baru, Stok Beras RI 4,4 Juta Ton Diproyeksi Sentuh 6 Juta
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani

AKURAT.CO Stok beras nasional yang dikuasai Perum Bulog mencapai 4,4 juta ton per 3 April 2026, menjadi level tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Capaian ini dikonfirmasi langsung oleh Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, saat meninjau gudang Bulog di Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Sabtu (4/4/2026).

“Stok beras 4,4 juta ton ini adalah stok tertinggi sepanjang sejarah Indonesia,” ujar Rizal.

Baca Juga: Bulog Pastikan Serap 4 Juta Ton Gabah 2026, Stok Beras Capai 4,4 Juta Ton

Dirinya menambahkan, kondisi gudang Bulog yang penuh mencerminkan peningkatan signifikan produksi pangan nasional.

“Seperti kita lihat, kondisi gudang Bulog yang ada di Geneng ini penuh beras. Ini mencerminkan produksi pangan nasional yang meningkat signifikan,” katanya.

Data tersebut melampaui capaian tahun sebelumnya. Pada 2025, stok beras nasional tercatat sebesar 4,2 juta ton. Kenaikan ini terjadi di awal tahun, yang secara historis masih menjadi fase awal musim panen.

Bulog juga mencatat masih terdapat potensi peningkatan stok dalam beberapa bulan ke depan seiring berlanjutnya masa serapan gabah petani.

Rizal menyebutkan, Bulog masih memiliki waktu sekitar delapan bulan untuk menyerap hasil panen. Dengan kondisi tersebut, stok beras nasional diproyeksikan dapat mencapai 6 juta ton hingga akhir 2026.

“Potensinya akan lebih besar lagi. Bulog akan terus menyerap gabah dan beras petani, sehingga stok akan semakin meningkat,” ujarnya.

Baca Juga: Bulog Salurkan 828 Ribu Ton Beras SPHP Sepanjang 2026

Peningkatan stok ini didukung oleh sejumlah faktor produksi. Pemerintah mencatat adanya penurunan harga pupuk yang mendorong aktivitas tanam petani.

Selain itu, kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram, berada di atas harga pasar, sehingga meningkatkan insentif produksi.

Dukungan juga datang dari Kementerian Pertanian melalui distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk meningkatkan produktivitas.

Secara historis, stok beras nasional sering menjadi indikator stabilitas pangan dan inflasi. Dalam beberapa tahun terakhir, fluktuasi stok kerap dipengaruhi oleh faktor iklim seperti El Nino yang berdampak pada produksi.

Namun, dengan capaian saat ini, pemerintah menilai risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan.

Rizal memastikan bahwa stok yang tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik, bahkan jika terjadi gangguan iklim di pertengahan tahun.

“Dengan proyeksi stok hingga akhir 2026 dapat mencapai 6 juta ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun,” katanya.

Dari sisi kualitas, Bulog juga memastikan beras yang tersimpan tetap dalam kondisi baik.

Pengelolaan gudang dilakukan untuk menjaga mutu, baik untuk beras yang telah disimpan hingga satu tahun maupun yang baru masuk dalam dua bulan terakhir.

Kabupaten Ngawi dipilih sebagai lokasi pemantauan karena perannya sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Produksi padi di wilayah ini mencapai sekitar 770 ribu ton gabah kering giling (GKG) per tahun.

Dalam kunjungan tersebut, Bulog juga melakukan panen raya musim tanam pertama 2026 di Desa Baderan, Kecamatan Geneng.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.