Produksi dan Penjualan PTBA Tumbuh pada 2025 di Tengah Tekanan Harga

AKURAT.CO PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menunjukkan ketahanan bisnis yang solid di tengah tekanan harga batu bara global sepanjang 2025.
Saat banyak pelaku industri terdampak penurunan harga, PTBA justru mencatatkan pertumbuhan produksi batu bara, penjualan, hingga kinerja operasional yang tetap stabil.
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menegaskan bahwa tahun 2025 merupakan periode penuh tantangan bagi industri batu bara global akibat penurunan harga yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Laba Bersih PTBA 2025 Turun 43 Persen ke Rp2,93 Triliun di Tengah Tekanan Harga Batu Bara
Meski demikian, PTBA mampu menjaga stabilitas operasional dan menunjukkan daya tahan bisnis yang kuat.
“PT Bukit Asam tentunya dalam menghadapi situasi dan kondisi tersebut, kami mampu menjaga kinerja operasional yang solid serta menunjukkan resilien yang kuat,” ujar Arsal dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Secara kinerja, PTBA mencatat produksi batu bara meningkat 9% menjadi 47,2 juta ton. Sementara itu, penjualan tumbuh 6% menjadi 45,4 juta ton. Kenaikan ini juga didukung oleh volume angkutan batu bara yang naik 6% dari 38,2 juta ton pada 2024 menjadi 40,4 juta ton pada 2025.
Tekanan Harga Berdampak ke Bottom Line PTBA
Penurunan harga batu bara global menjadi tantangan utama sepanjang 2025. Arsal mengungkapkan bahwa harga pada indeks Newcastle turun hingga 25% secara tahunan.
Sementara itu, Indonesian Coal Index (ICI), khususnya ICI 3 yang menjadi acuan utama PTBA, juga mengalami penurunan sebesar 16%.
“Kalau kita lihat dari indeks Newcastle, ini turunnya cukup signifikan, 25 persen. Indeks ICI, di mana kami lebih banyak menggunakan ICI 3 pada tahun 2025, itu juga turun secara tahunan sebesar 16 persen,” jelasnya.
Meski tekanan harga cukup besar pada bottom line atau laba bersig, capaian produksi dan penjualan (top line) tetap tumbuh, mencerminkan strategi perusahaan dalam menjaga ketahanan bisnis di tengah fluktuasi pasar global.
Keseimbangan Domestik dan Ekspor
Untuk menjaga stabilitas pendapatan, PTBA menerapkan strategi keseimbangan pasar antara domestik dan ekspor. Sepanjang 2025, komposisi penjualan tercatat sebesar 54% untuk pasar domestik dan 46% untuk ekspor.
Arsal menegaskan bahwa porsi domestik menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga pasokan energi dalam negeri. Sementara di sisi ekspor, PTBA terus melakukan diversifikasi pasar guna mengurangi ketergantungan pada negara tujuan utama seperti China dan India.
Perusahaan juga memperluas pasar ke sejumlah negara baru, termasuk Bangladesh, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina. Bahkan, PTBA mulai menembus pasar Eropa seperti Spanyol dan Rumania sebagai bagian dari strategi ekspansi global.
Laba Tertekan Tapi Fundamental Tetap Kuat
Dari sisi keuangan, PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp2,93 triliun pada tahun buku 2025. Sementara itu, EBITDA tercatat sebesar Rp6,08 triliun dengan margin EBITDA sekitar 14%.
Meskipun profitabilitas tertekan akibat penurunan harga jual batu bara, kondisi fundamental perusahaan tetap terjaga. Hal ini terlihat dari total aset yang meningkat menjadi Rp43,92 triliun serta arus kas operasi yang tumbuh 24%.
Arsal menegaskan bahwa kekuatan fundamental ini menjadi kunci keberlanjutan kinerja perusahaan ke depan.
“Kami percaya bahwa dengan fundamental yang kuat, strategi yang adaptif, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan, PTBA akan mampu menjaga kinerja positif yang berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi seluruh stakeholder,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.











