Akurat
Pemprov Sumsel

PTBA Bidik Produksi 50 Juta Ton Batu Bara di 2026, Begini Strateginya

Esha Tri Wahyuni | 6 April 2026, 14:39 WIB
PTBA Bidik Produksi 50 Juta Ton Batu Bara di 2026, Begini Strateginya
Tambang batu bara

AKURAT.CO PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan produksi batu bara hampir 50 juta ton pada 2026, tepatnya sebesar 49,5 juta ton, setelah Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) disetujui tanpa pemotongan volume.

Target ini menjadi sinyal kuat bahwa kinerja sektor batu bara nasional masih agresif di tengah dinamika harga global dan tekanan biaya operasional. 

Dengan tren harga batu bara yang mulai menguat sejak awal tahun serta dukungan infrastruktur logistik, PTBA optimistis dapat menjaga pertumbuhan bisnisnya.

Baca Juga: Produksi dan Penjualan PTBA Tumbuh pada 2025 di Tengah Tekanan Harga

Namun, tantangan seperti kenaikan biaya produksi akibat implementasi biodiesel B40 hingga rencana B50 menjadi faktor krusial yang harus diantisipasi.

RKAB Disetujui, PTBA Kunci Target Produksi 49,5 Juta Ton

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menegaskan bahwa persetujuan RKAB tanpa pengurangan volume menjadi fondasi penting bagi kinerja perusahaan di 2026.

“Per tanggal 6 Maret kemarin, RKAB perseroan telah disetujui tanpa adanya pengurangan volume yang kami usulkan,” ujar Arsal dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Arsal menjelaskan bahwa target produksi dan penjualan dipatok di angka 49,5 juta ton, dengan potensi menyentuh 50 juta ton jika kondisi pasar mendukung.

“Perseroan menargetkan volume produksi dan penjualan ini sekitar hampir 50 juta, atau 49,5 juta, tapi kami harapkan nanti bisa mencapai 50 juta,” tambahnya.

Target ini mencerminkan ekspansi yang terukur, sejalan dengan permintaan energi global yang masih bergantung pada batu bara, khususnya di kawasan Asia.

Harga Batu Bara Naik, Tapi Biaya Produksi Ikut Membengkak

Dari sisi pasar, PTBA melihat tren harga batu bara mulai menunjukkan perbaikan sejak awal 2026. Indeks Coal Index Indonesia (ICI) 1 tercatat mendekati 140, sementara ICI 3 berada di kisaran 73.

Kondisi ini membuka ruang peningkatan margin, meski tidak sepenuhnya bebas dari tekanan.

Namun demikian, kenaikan harga tersebut tidak datang tanpa konsekuensi. Biaya produksi juga meningkat, terutama akibat penggunaan bahan bakar yang lebih mahal.

Implementasi program biodiesel B40 dan rencana peningkatan ke B50 diperkirakan menambah beban biaya sekitar USD2 per ton.

“Nah untuk mengatasi itu semua, di samping tadi ada kenaikan harga, kawan-kawan ini yang dari operasional sama dari keuangan mereka tetap harus melakukan efisiensi, ini menjadi kunci,” jelas Arsal.

Strategi 2026: Efisiensi dan Penambangan Selektif

Menghadapi tekanan biaya, PTBA menempatkan efisiensi sebagai strategi utama. Perusahaan menekankan disiplin pengelolaan biaya serta praktik penambangan yang selektif untuk menjaga daya saing.

Langkah ini dinilai penting untuk mempertahankan profitabilitas di tengah volatilitas harga komoditas dan kebijakan energi domestik.

Selain itu, pendekatan kehati-hatian tetap menjadi prinsip utama dalam operasional perusahaan.

PTBA juga berupaya mengoptimalkan struktur biaya agar tetap kompetitif dibandingkan pemain lain di industri batu bara.

Infrastruktur Jadi Game Changer: Proyek Tanjung Enim–Kramasan

Dari sisi logistik, PTBA mengandalkan proyek angkutan batu bara relasi Tanjung Enim–Kramasan sebagai pendorong utama peningkatan kapasitas distribusi.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, mengungkapkan bahwa proyek ini ditargetkan memiliki kapasitas hingga 20 juta ton per tahun.

“Kan bertahap, nggak langsung. Itu kan target kapasitas 20 juta ton. Tapi tahun ini berapa dulu, tahun depan berapa, ada tahapannya,” jelas Turino.

Proyek ini diperkirakan mulai beroperasi secara bertahap pada pertengahan tahun, membuka peluang peningkatan volume angkutan sekaligus efisiensi biaya logistik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.