Pengembang PIK 2 Bidik Pra Penjualan Rp563 MIliar di 2026

AKURAT.CO Di tengah pasar properti yang masih bergerak selektif, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) memilih jalur agresif—mengubah kawasan menjadi mesin monetisasi.
Pengembang yang berada di balik distrik bisnis Pantai Indah Kapuk 2 (PIK2) ini menargetkan pra-penjualan sebesar Rp563 miliar pada 2026, naik sekitar 31% secara tahunan.
Strategi tersebut bukan sekadar mengejar volume, melainkan menandai pergeseran fokus: dari pengembangan kawasan ke optimalisasi nilai lahan. CBDK bertaruh bahwa kaveling komersial—bukan lagi rumah tapak—akan menjadi sumber utama pertumbuhan.
Baca Juga: PIK 2 Gunakan Smart Road Sweeper dari Italia, Jaga Kebersihan Kawasan 6.000 Hektare
"Target marketing sales tahun 2026 mencerminkan fokus kami dalam mengoptimalkan monetisasi kaveling tanah komersial di kawasan CBD PIK2. Kami melihat adanya awal pemulihan appetite pelaku usaha untuk mengamankan lahan di lokasi strategis sebagai bagian dari keberlanjutan dan ekspansi usaha ke depan,” ujar Steven Kusumo, Direktur Utama CBDK.
Lahan Jadi Aset Utama
Dengan bank tanah sekitar 702 hektare di kawasan PIK2, CBDK berada pada posisi unik. Alih-alih menjual produk jadi, perusahaan kini mendorong penjualan kavling komersial yang menawarkan fleksibilitas bagi investor dan pelaku usaha.
Permintaan mulai menunjukkan tanda pemulihan. Minat pelaku bisnis untuk mengamankan lokasi strategis kembali menguat, terutama di kawasan yang telah memiliki infrastruktur dan ekosistem matang.
Produk residensial dan komersial seperti ruko dan SOHO tetap berperan sebagai penopang, tetapi bukan lagi penggerak utama. Kunci dari strategi ini terletak pada pembangunan ekosistem. CBDK tidak hanya menjual tanah—mereka menjual narasi kawasan bisnis baru.
Operasional Nusantara International Convention Exhibition (NICE), salah satu pusat MICE terbesar di Indonesia, menjadi katalis utama. Kehadiran fasilitas ini diproyeksikan meningkatkan traffic, mempercepat aktivitas ekonomi, dan menciptakan permintaan organik terhadap ruang usaha.
Tambahan lain datang dari rencana operasional hotel internasional di kawasan tersebut, yang akan memperkuat positioning PIK2 sebagai destinasi bisnis berskala nasional hingga global.
Taruhan pada Infrastruktur
Aksesibilitas menjadi variabel penentu. Proyek Tol KATARAJA yang menghubungkan kawasan ini dengan jaringan utama Jabodetabek dan Bandara Soekarno-Hatta diharapkan mempercepat integrasi PIK2 ke dalam orbit ekonomi Jakarta.
Dalam logika pengembang, konektivitas bukan sekadar fasilitas—melainkan faktor penentu valuasi.
Di sisi korporasi, langkah buyback saham hingga Rp250 miliar menjadi sinyal bahwa manajemen melihat valuasi pasar belum mencerminkan potensi jangka panjang perusahaan. Hingga Maret 2026, lebih dari 11 juta saham telah diserap kembali dari pasar.
Di belakang CBDK berdiri PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk, yang menguasai lebih dari 87% saham dan memiliki bank tanah lebih dari 1.800 hektare. Skala ini memberi ruang ekspansi yang jarang dimiliki pengembang lain di kawasan Jabodetabek.
Dari Proyek ke Pusat Ekonomi
Ambisi CBDK lebih besar dari sekadar menjual properti. Perusahaan ingin mengubah PIK2 menjadi pusat aktivitas ekonomi baru—“The New Jakarta City”.
Namun taruhan ini datang dengan risiko klasik: ketergantungan pada siklus ekonomi, daya beli, dan kecepatan penyerapan pasar. Jika permintaan tidak secepat ekspektasi, monetisasi lahan bisa melambat.
Untuk saat ini, CBDK tampaknya yakin momentum sudah mulai terbentuk. Pertanyaannya bukan lagi apakah PIK2 akan berkembang—melainkan seberapa cepat kawasan ini bisa bertransformasi dari proyek ambisius menjadi pusat ekonomi yang benar-benar hidup
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










