Harga Plastik Melambung Imbas Perang As-Iran, Wamendag Cari Alternatif Pemasok

AKURAT.CO Harga kemasan plastik di dalam negeri mulai mengalami kenaikan seiring terganggunya rantai pasok global akibat eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pemerintah mengakui tekanan tersebut berasal dari kenaikan biaya bahan baku utama, yakni nafta, yang selama ini banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti menyatakan, pemerintah saat ini tengah mengoordinasikan langkah lintas kementerian untuk meredam dampak kenaikan harga tersebut.
“Secara keseluruhan tentunya dibutuhkan sinergitas lintas kementerian, baik itu kami di Kemendag maupun kementerian lainnya untuk mencarikan solusi terbaiknya,” kata Roro di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Roro menjelaskan, nafta sebagai bahan baku utama plastik mengalami gangguan pasokan akibat konflik geopolitik.
Data industri petrokimia global menunjukkan lebih dari 35% pasokan nafta dunia berasal dari kawasan Timur Tengah, sehingga setiap eskalasi konflik langsung berdampak pada distribusi dan harga.
“Salah satu hal yang membuat plastik itu menjadi lebih mahal itu dikarenakan ada bahan yang terkandung di dalamnya, misalnya nafta, yang dibutuhkan,” ujarnya.
Kementerian Perdagangan juga mencatat adanya kenaikan biaya logistik global. Mengacu pada data indeks pengiriman internasional (freight index) 2026, biaya pengapalan rute Timur Tengah–Asia mengalami kenaikan hingga dua digit sejak awal konflik memanas.
Kenaikan harga plastik bukan fenomena baru dalam krisis geopolitik. Pada periode krisis energi global 2022, harga resin plastik sempat melonjak lebih dari 20% akibat lonjakan harga minyak mentah.
Nafta sendiri merupakan turunan langsung dari minyak bumi, sehingga sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi global.
Konflik terbaru di kawasan Timur Tengah memperpanjang jalur distribusi dan meningkatkan risiko logistik, termasuk premi asuransi pengiriman. Hal ini membuat negara-negara importir, termasuk Indonesia, harus bersaing lebih ketat perihal pasokan bahan baku.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah mulai membuka opsi diversifikasi sumber impor. “Kita berupaya untuk sourcing dari beberapa wilayah. Pak Menteri sudah memberikan statement dari wilayah mana saja untuk kemudian bahan baku nafta bisa terpenuhi sehingga plastik harganya semakin stabil,” kata Roro.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan bahan substitusi guna mengurangi ketergantungan pada plastik berbasis fosil.
Kenaikan harga plastik berpotensi merambat ke berbagai sektor, terutama industri makanan dan minuman (F&B), ritel, serta UMKM yang sangat bergantung pada kemasan plastik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komponen kemasan menyumbang sekitar 5–10% dari total biaya produksi industri makanan olahan. Kenaikan harga plastik dapat mendorong produsen melakukan penyesuaian harga jual atau mengurangi margin keuntungan.
Di sisi lain, sektor energi juga ikut terdampak. Roro mengakui bahwa gejolak geopolitik turut memengaruhi harga komoditas lain, termasuk energi. “Tak hanya plastik, gejolak geopolitik dunia juga turut memengaruhi harga komoditas lainnya termasuk energi,” ujarnya.
Namun pemerintah memastikan stabilitas energi domestik masih terjaga. “Kita tahu bahwa untuk menyikapi hal ini, BBM subsidi juga tidak terganggu,” kata Roro.
Pemerintah menegaskan akan terus memitigasi dampak kenaikan harga melalui diversifikasi pasokan, penguatan koordinasi lintas sektor, serta pengembangan bahan alternatif.
“Diharapkan ini bisa menghadirkan solusi yang dibutuhkan oleh masyarakat, meskipun kondisi geopolitik global saat ini tidak mudah,” kata Roro.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











