Kementerian ESDM Kebut Infrastruktur Pipa Gas Perkuat Konektivitas Sumatra–Jawa

AKURAT.CO Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mengakselerasi pembangunan infrastruktur gas bumi sebagai fondasi utama distribusi energi nasional.
Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Minyak dan Gas Bumi, Agung Kuswardono menyampaikan bahwa jaringan pipa merupakan konsep paling ideal untuk distribusi energi dalam skala besar.
“Infrastruktur migas di Indonesia bagian barat (Sumatra–Jawa) sudah relatif matang, dengan jaringan pipa gas yang terbangun sejak era 1980 hingga 1990-an dan terus berkembang hingga saat ini,” kata Agung dikutip, Minggu (26/4/2026).
Baca Juga: Proyek Pipa Gas Dusem Ditarget Rampung 2027 Mendatang
Lebih lanjut Agung menambahkan bahwa proyek Pipa Transmisi Gas Bumi Cirebon-Semarang (CISEM) Tahap I dan II dengan Pipa Transmisi Gas Bumi Dumai-Sei Mangkei (DUSEM) di Sumatra merupakan bagian penting dalam menyambungkan jaringan pipa gas dari Sumatra hingga Jawa Timur.
Konektivitas ini diharapkan akan memperkuat peran jaringan pipa sebagai backbone nasional dalam mendukung distribusi energi yang andal dan terintegrasi.
“Seperti sudah dijelaskan di awal bahwa Pemerintah sudah menyelesaikan CISEM Tahap I dan II. Ini legacy Ditjen Migas Kementerian ESDM bisa menyambungkan pipa dari ujung Sumatra sampai ke Jawa Timur, dan pipa ini kalau sudah tersambung menjadi pipa terpanjang se-Asia,” tegasnya.
Agung menyampaikan fokus Pemerintah saat ini diarahkan pada percepatan penyelesaian proyek pipa DUSEM. Proyek konstruksi sepanjang kurang lebih 540 km ini merupakan investasi krusial karena membuka akses pasar gas yang sebelumnya terbatas.
Pembangunan pipa tersebut menjadi enabler bagi lapangan gas baru yang sebelumnya tertahan karena tidak ada infrastruktur.
“Lapangan Andaman misalnya, memiliki potensi produksi sekitar 300 MMSCFD. Saat ini pasar lokal di Aceh & Sumatra hanya mampu menyerap sekitar 160 MMSCFD. Sisa pasokan perlu dialirkan ke Jawa melalui pipa,“ tutur Agung.
Pengembangan lapangan migas Andaman sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur pipa. Terlebih fleksibilitas dan desain Jaringan pipa dirancang fleksibel (dua arah).
Bisa mengalirkan gas dari barat ke timur atau sebaliknya. Hal tersebut mendukung distribusi gas yang saat terjadi surplus atupun defisit di wilayah tertentu.
Selain mendorong investasi hulu migas, adanya pembangunan pipa gas tersebut juga mendukungan terhadap peningkatan produksi (lifting) migas nasional.
Agung mencontohkan bahwa saat ini Blok Rokan membutuhkan gas sebagai steam flood untuk meningkatkan produksi minyak, dimana kebutuhan tersebut juga akan disuplai dari jaringan pipa.
Berbeda untuk wilayah Indonesia Bagian Timur, menurut Agung pengembangan Infrastruktur di Indonesia Timur lebih menantang dan mahal.
Konsep ini tengah dikaji lebih lanjut, meskipun untuk wilayah tertentu seperti Sulawesi tetap dipertimbangkan pembangunan pipa yang saat ini masih dalam tahap studi dan evaluasi hasilnya.
Selain itu Pemerintah juga tengah mengkaji alternatif solusi dengan membangun LNG (Liquefied Natural Gas) karena dinilai lebih fleksibel untuk wilayah yang belum terjangkau pipa.
Mengingat, konsep Indonesia bagian timur sejatinya belum terlayani semuanya. Padahal, harga bisa dikompensasi dengan kesediaan.
"Kalau tersedia, mungkin harga bisa diakses oleh semua pihak. Jadi LNG itu juga jadi bagian dari kajian yang sudah kita lakukan termasuk CNG,“ ujarnya.
Selain LNG, pemerintah juga mengkaji pemanfaatan CNG sebagai solusi distribusi melalui skema stasiun pengisian CNG.
Skema yang dikembangkan adalah membangun stasiun CNG, kemudian gas didistribusikan ke wilayah tertentu dan dilanjutkan dengan jaringan pipa skala kota (city gas).
Pendekatan ini diharapkan mampu memperluas akses energi secara lebih efisien dan menjangkau daerah yang belum terhubung jaringan pipa besar.
“Kita bagaimana membangun suatu stasiun pengisian CNG, kemudian CNG itu kita bawa ke suatu wilayah. Jadi kita bikin jaringan pipa seperti City Gas,” jelas Agung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









