Lagu Kicau Mania Ndarboy Genk dan Perputaran Ekonomi Gantangan Senilai Rp2 Trilun per Tahun

AKURAT.CO Diyo, salah satu Gen Alpha sedang menggandrungi lagu kicau mania milik Ndarboy Genk. Sambil menutup hidung dengan tangan kirinya, dan tangan lainnya menyibak-nyibak, ia menirukan gaya sang penyanyi sambil berkumandang lirih senyum senyum sendiri: "kicau...kicau...kicau mania".
Di Tiktok, Youtube Short dan Instagram Reels, irama musik jedag-jeduk berpadu dengan dentuman bass mengiringi dance challenge lagu “Kicau Mania”. Namun kicau mania bukanlah sekadar lagu viral. Di dalamnya merefleksikan budaya kontes atau dikenal dengan Gantangan yang sudah berusia puluhan tahun.
Miswardi, seorang pemuda asal Dusun Pondok Gede, Desa Sukamanah, Megamendung, Bogor mengaku masa kecilnya diwarnai dengan kontes atau lomba kicau burung di dusunnya. Lapangan sepak bola dusun kerap menjadi arena lomba, yang biasanya dilangsungkan di akhir pekan. Rumah-rumah warga pun tak asing dipajangi kandang burung sebagai hiasan.
Baca Juga: Mendag Sebut 80 Persen Produk Ritel Modern Dikuasai Lokal
Di hari perlombaan, udara pagi yang masih basah oleh embun mendadak bergetar oleh denting ragam kicau. Ada nada tinggi, lengking panjang, hingga getar halus yang hanya bisa ditangkap oleh telinga yang terlatih.
Di gantangan, semua peserta menanggalkan seragamnya. Apa pun latar belakang sosial ekonomi dan profesi, saling meramaikan dengan membawa burung terbaik mereka, yang dirawat dengan disiplin hampir militer. Ada yang memijat halus kaki burungnya sebelum lomba, ada yang membisikkan mantra setiap lomba akan dimulai, semua harapan akan kemenangan disematkan.
Di balik sangkar tersimpan cerita panjang tentang mandi pagi, jemur siang, pakan khusus, hingga rekaman suara burung juara yang diputar berulang-ulang di rumah. Persis seperti lirik awal lagu ini. "Tak rumat seka piyik..Tak loloh nganggo jangkrik..Aku pamit nggantang, ya, Dhik..Muga rejekine apik."
Di pinggir lapangan, percakapan tak hanya soal teknik atau perawatan, tetapi juga harga. Seekor burung yang menang bisa melesat nilainya, dari sekadar jutaan menjadi puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Pasar yang hidup dari suara, dimana keindahan diukur dalam durasi dan variasi lagu.
Juri berdiri di tengah arena, mencatat dengan seksama. Mereka tak hanya menilai kerasnya suara, tetapi juga irama, konsistensi, dan karakter. Keputusan mereka bisa mengubah nasib seekor burung, dan pemiliknya. Tepat saat matahari mulai meninggi dan satu per satu sangkar diturunkan, yang tersisa bukan hanya piala atau sertifikat. Ada rasa bangga, ada pula luka kecil dari kekalahan.
"Seru banget kalo lagi di gantangan. Kalo mau lomba bangunnya lebih pagi dari biasanya. Mandiin burung, kasih sarapan. Kelas (lomba) nya variatif, ada yang mulai dari puluhan ribu, ratusan ribu, sampai jutaan," kenang Miswardi yang sesekali ikut kontes kelas pemula.
Perputaran Ekonomi Tembus Rp2 Triliun per Tahun
Budaya gantangan sendiri, sebagai salah satu komunitas hobi, turut menggerakkan roda perekonomian. Menurut catatan Kemendag, nilai ekonomi dari perdagangan burung hias dan ekosistem di dalamnya dapat terus didorong.
Di dalam negeri, perputaran ekonomi dari ekosistem burung kicau per tahunnya bisa mencapai Rp1,7-2 triliun. Penggerak ekonomi dalam ekosistem tersebut mencakup, antara lain, penangkaran, produsen pakan, suplemen, aksesori, jasa pelatihan, jasa perawatan, hingga aktivitas komunitas-komunitas yang ada.
Sementara itu, ekspor burung hias pada 2025 mencapai sekitar Rp12,5 miliar. Ada peningkatan sekitar 237,5% dibanding 2024. Hal ini menunjukkan berkembangnya permintaan burung hias asal Indonesia.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengatakan segmen komunitas hobi yang niche termasuk gantangan menyimpan potensi ekonomi yang besar. Semakin tumbuh dan giat aktivitas hobi, akan bermanfaat dalam menciptakan nilai ekonomi, termasuk untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Mendag, kalau lomba burung berkicau semakin ramai, peternak burung akan semakin banyak. Begitu juga pembuat sangkar, pabrik pakan, peternak jangkrik sebagai makanan burung, hingga penjual burung akan semakin banyak.
"Kami mendorong peningkatan nilai ekonomi dari berbagai komunitas hobi, salah satunya komunitas burung kicau,” kata Mendag Busan di sela Festival Lomba Burung Berkicau dan Kuliner UMKM yang digelar oleh Komunitas Burung Kicau Kemendag (Kemendag Bird Club) dan komunitas Pelestari Burung Indonesia (PBI), Minggu, (3/5/2026) di lapangan parkir kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta.
Mendag menekankan, burung-burung kicau yang dilombakan merupakan burung hasil ternak. Melalui lomba, Mendag Busan mengajak masyarakat untuk menunjukkan semangat melestarikan lingkungan. “(Burung) yang dilombakan bukan burung liar, tapi burung ternak,” ujar Mendag.
Jebakan Gantangan
Namun di balik nilai ekonominya, budaya gantangan mengandung jebakan lingkungan, sosial ekonomi. Di tingkat paling hulu, permintaan terhadap burung-burung “jawara” telah menggeser logika konservasi menjadi logika ekstraksi. Spesies seperti murai batu atau cucak ijo tidak lagi dipandang sebagai bagian dari rantai ekologis, melainkan sebagai aset produktif.
Harga seekor burung juara dapat menembus puluhan hingga ratusan juta rupiah, angka yang, dalam ekonomi rumah tangga kelas menengah ke bawah, menciptakan insentif kuat untuk berburu di alam liar. Akibatnya, rantai pasok informal terbentuk: dari pemburu desa, pengepul, hingga pedagang kota. Nilai tambah terkonsentrasi di hilir, sementara risiko, baik hukum maupun ekologis ditanggung oleh mereka yang berada di lapisan terbawah.
Dampaknya tidak berhenti pada degradasi keanekaragaman hayati. Ketika populasi burung di alam menurun, fungsi ekologis seperti penyebaran biji dan pengendalian serangga ikut terganggu. Dalam jangka panjang, ini dapat memukul sektor pertanian yang justru menjadi tulang punggung ekonomi pedesaan.
Di sisi lain, pada level rumah tangga urban, budaya kontes burung kicau memperkenalkan bentuk baru dari konsumsi aspiratif. Kepemilikan burung juara menjadi simbol status, mirip dengan mobil mewah atau properti premium, tetapi dengan volatilitas nilai yang jauh lebih tinggi.
Banyak penghobi yang masuk ke dalam siklus spekulatif: membeli burung mahal dengan harapan menang lomba dan melipatgandakan nilai jual. Namun, pasar tanpa regulasi ketat selalu menciptakan ketidakpastian yang mendominasi. Seekor burung yang hari ini bernilai tinggi bisa kehilangan performa esok hari akibat stres, penyakit, atau sekadar kalah bersaing.
Di titik ini, kontes burung kicau bersinggungan dengan fenomena yang lebih luas: finansialisasi hobi. Aktivitas berbasis kecintaan berubah menjadi instrumen investasi berisiko. Banyak orang yang mengalokasikan pendapatannya, bahkan berutang, untuk membiayai perawatan dan partisipasi dalam lomba. Ketika hasil tak sesuai harapan, tekanan finansial merembes ke konflik keluarga, kualitas hidup dan produktivitas kerja.
Ekosistem lomba itu sendiri juga mencerminkan ketimpangan. Hadiah besar dan sponsor terkonsentrasi pada event-event tertentu, sering kali di kota besar. Sementara itu, ribuan peserta lain berkompetisi dengan peluang menang yang sangat kecil. Ini menciptakan distribusi pendapatan yang tidak merata, mirip dengan struktur “winner-takes-all” dalam ekonomi digital.
Yang mungkin paling subtil, tetapi tak kalah penting, adalah perubahan lanskap sosial. Ruang-ruang publik yang dulunya menjadi tempat interaksi lintas kelas kini terfragmentasi oleh komunitas-komunitas berbasis hobi dengan hierarki ekonomi yang jelas. Solidaritas bergeser menjadi kompetisi; kebersamaan tergantikan oleh perbandingan nilai aset, dalam hal ini, burung dan rekam jejak kemenangannya.
Tidak berarti seluruh budaya kontes burung kicau harus ditolak. Di dalamnya terdapat nilai-nilai ketekunan, pengetahuan tentang perawatan hewan, dan potensi ekonomi kreatif. Namun, tanpa intervensi kebijakan yang tepat, mulai dari penguatan penangkaran legal, penegakan hukum terhadap perburuan liar, hingga transparansi dalam penyelenggaraan lomba, biaya sosial-ekonomi yang ditanggung akan lebih besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








