Akurat Logo

Pastikan Rencana Impor Minyak Rusia Lanjut di Tengah Serangan Ukraina, Wamen ESDM: Masih Dalam Proses

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 4 Mei 2026, 17:09 WIB
Pastikan Rencana Impor Minyak Rusia Lanjut di Tengah Serangan Ukraina, Wamen ESDM: Masih Dalam Proses
Wamen ESDM, Yuliot Tanjung

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan rencana impor minyak mentah dari Rusia masih dalam tahap penyelesaian.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung mengatakan bahwa impor minyak mentah atau crued dari Rusia masih dalam proses. “Ini (proses impor) masih dalam proses,” kata Yuliot saat ditemui di Kemenko Pangan, Senin (4/5/2026).

Yuliot menambahkan, skema impor yang direncanakan melibatkan badan usaha dan masih berada dalam proses finalisasi kerja sama. “itu kan itu ada badan usaha, itu ada kerjasama, itu lagi penyelesaian, nanti kapan realisasinya akan disampaikan sama Pak Menteri,” tambahnya.

Baca Juga: Ukraina Serang Lagi Fasilitas Minyak Rusia di Laut Baltik, Harga Minyak Global Terkerek

Diberitakan sebelumnya, Indonesia melalui langkah diplomasi Presiden Prabowo Subianto mengamankan kerja sama strategis dengan Rusia untuk memperkuat ketahanan energi nasional, khususnya melalui pasokan minyak mentah (crude) dan pembangunan infrastruktur energi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan hal tersebut usai menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Kamis (16/4/2026), guna menindaklanjuti hasil kunjungan kerja pemerintah ke Rusia.

“Alhamdulillah cukup menggembirakan. Kita akan mendapat pasokan crude dari Rusia, dan mereka juga siap membangun sejumlah infrastruktur penting untuk meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional,” ujar Bahlil.

Menurutnya, kerja sama ini merupakan bagian dari kemitraan jangka panjang di sektor energi, termasuk untuk memenuhi kebutuhan minyak nasional yang masih bergantung pada impor.

Saat ini, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik (lifting) baru berada di kisaran 600–610 ribu barel per hari.

“Kita masih impor sekitar 1 juta barel per hari. Di tengah kondisi global seperti sekarang, kita harus mencari sumber pasokan dari berbagai negara, tidak hanya bergantung pada satu pihak,” jelasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.