KTT ASEAN 2026 Dorong Integrasi Ekonomi Digital Senilai RP32 Triliun di Tengah Tekanan Geopolitik

AKURAT.CO Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, mulai menyoroti arah baru strategi ekonomi kawasan Asia Tenggara di tengah meningkatnya tekanan geopolitik global.
Di tengah ancaman konflik global, ketahanan pangan, hingga gejolak energi, ASEAN justru mempercepat integrasi ekonomi digital yang diproyeksi bernilai USD2 triliun atau sekitar Rp32 ribu triliun pada 2030.
Presiden RI, Prabowo Subianto, dijadwalkan menghadiri rangkaian KTT ASEAN pada 7–9 Mei 2026, termasuk KTT BIMP-EAGA serta KTT ke-48 ASEAN dalam sesi pleno dan retreat. Salah satu agenda utama yang dibahas adalah penguatan stabilitas ekonomi kawasan di tengah perlambatan global.
Baca Juga: Bahlil Dampingi Presiden Prabowo Bahas Ketahanan Energi di KTT ASEAN 2026 Filipina
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, KTT ASEAN tahun ini berfokus pada dampak konflik global terhadap Asia Tenggara, terutama terkait ketahanan energi, pangan, dan ekonomi.
“KTT ASEAN ke-48 ini akan fokus pada pembahasan dampak konflik global terhadap kawasan, terutama isu ketahanan energi, ketahanan pangan, dan stabilitas ekonomi di kawasan Asia Tenggara,” ujar Airlangga dalam ASEAN Economic Community (AEC) Council Meeting di Cebu, Filipina dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Di tengah tekanan tersebut, ASEAN justru mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif solid. Pada 2025, ekonomi kawasan tumbuh 4,9%, melampaui proyeksi awal dan menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Menurut Airlangga, capaian tersebut menunjukkan fundamental ekonomi ASEAN masih kuat meski dunia menghadapi tekanan suku bunga tinggi, perlambatan perdagangan global, serta ketidakpastian geopolitik.
“Kinerja ekonomi ASEAN ini mencerminkan fundamental kawasan Asia Tenggara yang cukup solid di tengah tekanan global,” katanya.
Namun, angle utama yang mulai mencuat dalam KTT kali ini bukan hanya soal ketahanan ekonomi konvensional, melainkan upaya ASEAN menjadikan ekonomi digital sebagai bantalan baru pertumbuhan kawasan.
Dalam pertemuan ASEAN Economic Community Council, para menteri ekonomi membahas percepatan penyelesaian ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Kesepakatan tersebut ditargetkan selesai dan ditandatangani penuh pada ASEAN Summit November 2026.
DEFA dinilai menjadi proyek strategis terbesar ASEAN pasca-pandemi karena akan mengintegrasikan ekonomi digital lintas negara ASEAN, mulai dari transaksi digital, aliran data, pembayaran elektronik, hingga interoperabilitas perdagangan digital.
Airlangga menyebut implementasi DEFA berpotensi melipatgandakan nilai ekonomi digital ASEAN menjadi USD2 triliun pada 2030, naik dari estimasi awal USD1 triliun.
“Implementasi DEFA akan dapat mendongkrak nilai ekonomi digital ASEAN menjadi USD2 triliun pada tahun 2030, naik dari perkiraan awal yang sebesar USD1 triliun,” ujar Airlangga.
Nilai tersebut setara lebih dari Rp32 ribu triliun dengan asumsi kurs Rp16.000 per USD. Angka itu menjadikan ekonomi digital ASEAN berpotensi melampaui Produk Domestik Bruto (PDB) sejumlah negara berkembang besar dalam beberapa tahun mendatang.
Langkah ini menjadi penting karena ASEAN mulai menghadapi tantangan baru dalam perdagangan global. Konflik geopolitik dan fragmentasi ekonomi dunia dinilai dapat mengganggu rantai pasok, arus investasi, hingga ekspor manufaktur kawasan.
Karena itu, ASEAN mulai mengalihkan fokus pertumbuhan ke sektor digital, UMKM berbasis teknologi, dan integrasi ekonomi regional yang lebih dalam.
Dalam AECC Meeting, ASEAN juga membahas 19 Priority Economic Deliverables (PED) yang ditargetkan rampung pada 2026. Fokusnya mencakup penguatan perdagangan dan investasi, percepatan transformasi digital, integrasi UMKM, ekonomi kreatif, serta pembangunan berkelanjutan.
Selain itu, pembahasan juga mencakup roadmap jangka panjang ASEAN Community Vision (ACV) 2045 dan AEC Strategic Plan 2026–2030 yang menjadi arah baru integrasi ekonomi kawasan dalam dua dekade mendatang.
Sebagai informasi, percepatan DEFA juga menjadi kelanjutan dari legacy Keketuaan Indonesia di ASEAN pada 2023. Saat itu Indonesia mendorong ASEAN mulai membangun kerangka ekonomi digital terpadu sebagai respons terhadap perubahan pola perdagangan global pasca-pandemi COVID-19.
Kini, di bawah keketuaan Filipina dengan tema “Navigating Our Future Together”, ASEAN mencoba mempercepat implementasi konkret dari agenda tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan ini dinilai strategis karena ASEAN merupakan salah satu pasar digital terbesar di dunia dengan populasi lebih dari 680 juta penduduk. Indonesia sendiri menjadi kontributor terbesar ekonomi digital ASEAN, terutama dari sektor e-commerce, layanan keuangan digital, dan transportasi daring.
Percepatan DEFA juga diperkirakan membuka peluang lebih besar bagi ekspansi startup, UMKM digital, hingga investasi pusat data dan kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Tenggara.
Di sisi lain, integrasi digital ASEAN juga diproyeksi meningkatkan persaingan antarnegara anggota dalam menarik investasi teknologi global. Negara dengan kesiapan infrastruktur digital, regulasi data, serta keamanan siber diperkirakan akan menjadi magnet baru investasi kawasan.
KTT ASEAN ke-48 dijadwalkan masih akan berlangsung hingga 9 Mei 2026. Selain isu ekonomi digital, para pemimpin ASEAN juga akan membahas stabilitas kawasan, keamanan rantai pasok, hingga respons bersama terhadap ketidakpastian ekonomi global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









