Phytochemindo Resmikan Pabrik Herbal, Ekspor Tembus 16 Negara

AKURAT.CO Indonesia kembali menambah kapasitas industri bahan baku kesehatan nasional. PT Phytochemindo Reksa resmi mengoperasikan Pabrik Klapanunggal di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Pabrik ini berfungsi sebagai fasilitas produksi ekstrak bahan alam terbesar dalam sejarah perusahaan sekaligus bagian dari strategi memperkuat kemandirian bahan baku farmasi, obat tradisional, suplemen kesehatan, hingga kosmetik nasional.
Peresmian fasilitas tersebut dilakukan langsung oleh Direktur Utama PT Phytochemindo Reksa, Patrick Kalona, bersama Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM RI, Mohamad Kashuri, serta perwakilan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perindustrian.
Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 23.235 meter persegi itu dilengkapi fasilitas produksi, laboratorium riset, dan gudang terintegrasi. Perusahaan menyebut fasilitas tersebut disiapkan sebagai fondasi operasional untuk 20 tahun ke depan dengan standar produksi berbasis riset dan sertifikasi Cara Pembuatan Obat Bahan Alam yang Baik (CPOBAB) dari BPOM.
Direktur Utama PT Phytochemindo Reksa, Patrick Kalona mengatakan pembangunan fasilitas ini bukan sekadar ekspansi manufaktur, tetapi bagian dari strategi jangka panjang memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok herbal global.
Peresmian Pabrik Klapanunggal bukan hanya tentang pembangunan fasilitas produksi, tetapi merupakan wujud komitmen kami dalam membangun kemandirian ekstrak bahan baku alam nasional berbasis riset.
"Kami percaya bahwa herbal Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi solusi kesehatan global, selama dikembangkan dengan pendekatan ilmiah yang kuat dan berkelanjutan,” ujar Patrick dalam peresmian Pabrik Klapanunggal di Bogor, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, paradigma industri herbal nasional juga perlu bergeser dari sekadar produk tradisional menjadi sektor berbasis sains dengan daya saing internasional.
“Kami ingin mengubah paradigma bahwa herbal bukan sekadar tradisi, tetapi merupakan bagian dari sains modern yang memiliki daya saing tinggi di pasar internasional,” katanya.
Data Kementerian Kesehatan dan BPOM menunjukkan Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor bahan baku farmasi dan kesehatan yang cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah pun mendorong hilirisasi industri kesehatan melalui penguatan produksi bahan baku domestik, termasuk ekstrak herbal dan obat bahan alam.
Kkehadiran fasilitas produksi baru dinilai penting untuk memperkuat ketahanan sektor kesehatan nasional, terutama pasca pandemi COVID-19 yang sempat mengganggu rantai pasok global bahan baku farmasi.
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM RI, Mohamad Kashuri mengatakan, pemerintah terus mendorong industri obat bahan alam berbasis inovasi dan riset agar mampu bersaing di pasar global.
“Peresmian Pabrik Klapanunggal ini mencerminkan kemajuan signifikan industri obat bahan alam di Indonesia. Kami melihat komitmen kuat dari PT Phytochemindo Reksa dalam menerapkan standar CPOBAB secara konsisten, yang menjadi kunci dalam menjamin kualitas, keamanan, dan khasiat produk,” ujar Kashuri.
Dirinya menegaskan BPOM akan terus mendukung penguatan industri berbasis riset untuk meningkatkan daya saing produk kesehatan nasional.
Phytochemindo telah memulai pengembangan riset ekstrak bahan alam sejak 1978. Perusahaan juga telah mengekspor produk herbal seperti ekstrak kunyit dan temulawak sejak 1992. Hingga kini, produk perusahaan telah dipasarkan ke lebih dari 16 negara.
Saat ini perusahaan memiliki lebih dari 300 produk berbasis bahan alam yang digunakan untuk kebutuhan farmasi, suplemen kesehatan, kosmetik, hingga pangan olahan.
Langkah ekspansi tersebut juga memperlihatkan tren meningkatnya permintaan global terhadap produk kesehatan berbasis herbal dan wellness. Pasar herbal dunia dalam beberapa tahun terakhir tumbuh seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk kesehatan alami berbasis penelitian ilmiah.
Di sisi lain, Indonesia dinilai memiliki modal besar karena termasuk salah satu negara dengan biodiversitas terbesar di dunia. Namun selama ini nilai tambah industri dinilai belum optimal akibat keterbatasan riset, standardisasi, dan industrialisasi bahan baku herbal.
Karena itu, pembangunan fasilitas ekstrak berbasis riset dinilai dapat memperkuat hilirisasi komoditas tanaman obat nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor kesehatan domestik.
Selain memperbesar kapasitas produksi, perusahaan juga memperkuat kolaborasi riset dengan sejumlah perguruan tinggi nasional. Bersama Institut Teknologi Bandung, perusahaan mengembangkan riset produk Rhemaukur hingga terdaftar sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT).
Phytochemindo juga bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dan Universitas Sanata Dharma dalam pengembangan ekstrak nano kunyit pada 2022. Sementara kolaborasi dengan Universitas Indonesia menghasilkan inovasi ekstrak dan kapsul propolis Sulawesi yang diluncurkan pada 2025.
Kolaborasi antara industri dan kampus dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat inovasi produk kesehatan berbasis bahan alam di Indonesia.
Peresmian pabrik juga dirangkaikan dengan peluncuran buku biografi pendiri perusahaan, almarhum Wim Kalona, berjudul Meracik Resep Kehidupan Tegas dalam rangka memperingati 110 tahun kelahirannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










