Sebab Pangsa Pasar INTP Turun di Tengah Kenaikan Harga Semen

AKURAT.CO PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) mencatat penurunan pangsa pasar atau market share sepanjang empat bulan pertama 2026 di tengah strategi perseroan menaikkan harga jual semen untuk menjaga margin keuntungan di tengah tekanan biaya produksi dan distribusi.
Berdasarkan catatan Stockbit Sekuritas, market share INTP selama periode Januari-April 2026 turun menjadi 28%, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 29,7%. Angka tersebut juga stagnan dibanding posisi kuartal I-2026 yang berada di level 28%.
Meski demikian, dari sisi operasional, INTP masih mencatat pertumbuhan volume penjualan yang cukup kuat.
Baca Juga: INTP Hentikan Program Buyback Saham, Fokus ke Operasional dan Dividen
Volume penjualan semen perseroan pada April 2026 tercatat naik 35% secara tahunan atau year on year (yoy), didorong pergeseran momentum libur Lebaran yang memengaruhi pola distribusi dan permintaan semen nasional.
Jika mengesampingkan faktor musiman tersebut, volume penjualan semen INTP pada periode Maret-April 2026 tetap tumbuh 11% yoy.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan penjualan di dua segmen utama, yakni semen kantong (bag) yang naik 11% yoy serta semen curah (bulk) yang meningkat 12% yoy.
Manajemen INTP menyebut penurunan market share terjadi seiring langkah perseroan menaikkan harga jual semen secara bertahap.
Kenaikan harga dilakukan pertama kali di luar Pulau Jawa pada Maret 2026, kemudian diperluas ke wilayah Jawa dan luar Jawa pada April 2026.
“Kebijakan tersebut dilakukan untuk melakukan pass through terhadap kenaikan biaya produksi dan distribusi,” tulis manajemen dalam keterangan yang dikutip dari Stockbit Sekuritas, Kamis (14/5/2026).
Langkah penyesuaian harga itu dilakukan di tengah tekanan biaya energi serta pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan beban operasional industri semen.
Industri semen nasional diketahui masih sangat bergantung pada energi, terutama batu bara dan bahan bakar distribusi, yang membuat sensitivitas biaya terhadap fluktuasi harga energi dan kurs menjadi cukup tinggi.
Penurunan market share INTP dinilai menjadi sinyal mulai ketatnya persaingan industri semen domestik pada 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir, produsen semen nasional menghadapi kondisi oversupply kapasitas produksi, sementara pertumbuhan permintaan belum sepenuhnya pulih ke level sebelum pandemi.
Sebagai konteks, market share INTP sempat berada di kisaran 30% dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi salah satu pemain utama industri semen nasional bersama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG.
Penurunan market share pada awal 2026 menunjukkan strategi menjaga profitabilitas melalui kenaikan harga mulai berdampak pada daya saing volume penjualan perseroan di pasar.
Di sisi lain, pertumbuhan volume penjualan tetap menjadi indikator positif bagi permintaan sektor konstruksi dan infrastruktur domestik.
Kenaikan penjualan semen curah, misalnya, umumnya berkaitan dengan proyek-proyek pembangunan skala besar seperti jalan tol, kawasan industri, hingga proyek properti.
Tekanan terhadap INTP juga tercermin di pasar saham. Pada penutupan perdagangan Rabu (13/5/2026), saham INTP melemah 2,4% ke level Rp5.075 per saham.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah perhatian investor terhadap potensi tekanan margin industri semen akibat kenaikan biaya energi dan distribusi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal





