PLN EPI Siapkan Infrastruktur Gas Nasional untuk Transisi Energi

AKURAT.CO PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) menyiapkan strategi besar penguatan pasokan energi primer nasional di tengah pertumbuhan kebutuhan listrik dan transisi energi nasional.
Salah satunya melalui pembangunan infrastruktur gas nasional dalam sistem ketenagalistrikan Indonesia.
Kepala Satuan Perencanaan Korporat Manajemen Energi Primer PLN EPI, Anggoro Wisaksono mengatakan, perencanaan ketenagalistrikan nasional harus dilakukan secara menyeluruh dari sisi demand listrik, pembangkit, transmisi, distribusi, hingga energi primer.
Baca Juga: PLN EPI Bidik Pengembangan Biomassa Sorgum untuk Cofiring PLTU
“PLN EPI ada di sektor energi primer. Kami memastikan supply fuel ke pembangkit secara sustain dan reliable,” kata Anggoro dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026).
Anggoro menjelaskan, proyeksi kebutuhan listrik menjadi titik awal perencanaan bisnis ketenagalistrikan karena menentukan kebutuhan kapasitas pembangkit, jaringan, hingga pasokan energi primer.
Sementara energi primer menjadi faktor utama yang memastikan pembangkit memiliki pasokan bahan bakar yang aman, kompetitif, dan berkelanjutan.
Dalam paparannya, PLN EPI mengacu pada RUPTL 2025–2034 yang memproyeksikan perubahan bauran energi pembangkitan nasional. Pada 2034, produksi listrik berbasis batu bara diproyeksikan mencapai 273,8 terawatt hour (TWh) atau sekitar 47% dari total bauran energi nasional. Sementara gas bumi diperkirakan mencapai 132,3 TWh atau 23%.
Adapun energi baru terbarukan (EBT) diproyeksikan mencapai 164,1 TWh atau sekitar 28% dan biomassa sebesar 8,1 TWh. Dalam skenario Accelerated Renewable Energy Development (ARED), porsi EBT bahkan diproyeksikan meningkat menjadi 190,9 TWh atau 33% pada 2034.
Meski demikian, Anggoro menegaskan batu bara dan gas masih akan menjadi tulang punggung keandalan sistem kelistrikan selama masa transisi energi berlangsung.
Baca Juga: PLN EPI Proyeksikan Kebutuhan Gas Pembangkit Naik 4,5 Persen Setiap Tahun hingga 2034
“Batubara dan gas tetap berperan menjaga reliability sistem selama masa transisi, terutama untuk memenuhi stabilitas sistem,” ujarnya.
PLN EPI juga memproyeksikan kebutuhan energi primer sektor ketenagalistrikan akan terus meningkat hingga 2035 dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 5% per tahun.
Dalam proyeksi tersebut, batu bara masih menjadi komponen terbesar dalam bauran energi primer pembangkitan. Sementara gas bumi akan memainkan peran penting sebagai energi transisi untuk mendukung fleksibilitas pembangkit di tengah meningkatnya penetrasi EBT.
Selain itu, PLN EPI juga mulai memperluas pemanfaatan biomassa melalui skema co-firing di PLTU. Menurut Anggoro, langkah ini membuka peluang bagi pelaku usaha nasional untuk masuk dalam rantai pasok biomassa.
“Selain batu bara dan gas, nanti ada biomass. Ini opportunity juga untuk pengusaha muda,” tutur Anggoro.
Di sisi infrastruktur, PLN EPI menyiapkan pengembangan berbagai proyek midstream gas nasional yang tersebar dari Sumatra hingga Papua. Infrastruktur tersebut mencakup pembangunan FSRU, LNG carrier, ORU, hingga proyek gasifikasi di berbagai wilayah.
Beberapa proyek strategis yang dipaparkan antara lain FSRU Jawa Barat 1 dan 2, FSRU Jawa Timur, FSRU Bali, serta FSRU Cilegon. Total kapasitas regasifikasi yang disiapkan mencapai 3.850 million standard cubic feet per day (MMSCFD) dengan kapasitas penyimpanan LNG sebesar 1,2 juta meter kubik.
Menurut Anggoro, pembangunan infrastruktur gas menjadi penting karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan banyak sistem kelistrikan terisolasi.
Anggoro juga menyinggung dampak ketegangan geopolitik global, termasuk situasi di Selat Hormuz, terhadap sektor energi nasional. Meski demikian, ia memastikan kondisi pasokan energi primer PLN EPI masih relatif aman.
Sementara untuk gas, PLN EPI mengandalkan kombinasi produksi domestik dan kemitraan global. Menurut Anggoro, kerja sama dengan partner global menjadi penting karena sebagian produksi gas nasional masih terikat kontrak ekspor jangka panjang.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan partner global sangat diperlukan,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









