Kementerian ESDM Kebut Dedieselisasi di Wilayah 3T

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mempercepat program dedieselisasi nasional sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM), khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung mengatakan, saat ini sejumlah wilayah seperti Maluku masih banyak bergantung pada pembangkit listrik berbahan bakar diesel untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.
“Kemudian yang terkait dengan ketersediaan listrik juga secara nasional, ini kan programnya adalah dedieselisasi,” ujar yuliot.
Baca Juga: Target Dedieselisasi Perlu Diperluas ke Pembangkit Listrik Energi Fosil Lain
Yuliot menjelaskan, program dedieselisasi akan dilakukan dengan mengombinasikan penggunaan gas dan energi baru terbarukan (EBT) agar sistem kelistrikan di daerah 3T menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.
Presiden, kata Yukiot, telah memberikan arahan agar percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan program dedieselisasi dapat direalisasikan dalam waktu tiga tahun.
“Ini secara keseluruhan dedieselisasi dan juga untuk energi baru terbarukan ini harus kita sinkronkan untuk percepatan. Arahan dari Presiden, 3 tahun untuk PLTS dan juga dedieselisasi ini bisa dilaksanakan,” ujarnya.
Ia menilai, percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan akan membantu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan BBM yang selama ini rentan terhadap fluktuasi harga globalz
Menurut Yuliot, pemerintah akan terus mendorong pemanfaatan sumber energi bersih seperti panas bumi (geotermal), tenaga air (PLTA), dan tenaga surya sebagai bagian dari transisi energi nasional.
“Kalau ini berasal dari energi baru terbarukan, berarti kan kita sudah tidak tergantung lagi dengan pengadaan BBM yang sangat fluktuatif,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan percepatan konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) menjadi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di tengah lonjakan harga minyak global.
Arahan tersebut disampaikan dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, dengan fokus pada efisiensi energi dan pengurangan beban subsidi negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan, pemerintah diminta segera menghitung dan merealisasikan konversi tersebut.
“Terkait dengan pembangkit listrik tenaga diesel, karena sekarang dengan harga minyak tinggi, Bapak Presiden mengarahkan agar ini segera direalisasikan dan dihitung untuk dikonversikan menjadi pembangkit listrik tenaga surya,” ujar Airlangga dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (19/3/2026).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









