68 Persen Ekspor RI Terserap Mitra Dagang, Kemendag Dorong Optimalisasi

AKURAT.CO Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkuat sinergi untuk meningkatkan pemanfaatan 25 perjanjian dagang internasional yang telah dimiliki Indonesia.
Langkah ini dilakukan di tengah ketergantungan ekspor nasional yang semakin besar terhadap negara-negara mitra perjanjian dagang, yang kini menyerap hampir 68 persen total ekspor Indonesia.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan, optimalisasi perjanjian dagang menjadi strategi penting untuk menjaga momentum ekspor nasional sekaligus memperluas akses pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Baca Juga: Kemendag Tertibkan 2.639 Iklan Bermasalah di Marketplace
"Kita patut optimistis karena kinerja perdagangan Indonesia terus menunjukkan ketahanan yang kuat. Berbagai perjanjian perdagangan yang telah disepakati Indonesia merupakan instrumen strategis untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan ekspor dan diversifikasi pasar," ujar Roro dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (8/6/2026)
Data Kemendag menunjukkan Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD41,05 miliar sepanjang 2025. Kinerja positif tersebut masih berlanjut pada Januari-April 2026 dengan surplus mencapai USD5,64 miliar.
Di saat yang sama, ekspor nonmigas Indonesia tumbuh 6,28% secara tahunan (year-on-year/yoy), menunjukkan permintaan produk Indonesia di pasar internasional masih terjaga meski ekonomi global menghadapi perlambatan.
Saat ini Indonesia memiliki 25 perjanjian perdagangan internasional yang mencakup lebih dari 35 negara mitra. Negara-negara tersebut merepresentasikan sekitar sepertiga produk domestik bruto (PDB) dunia dan lebih dari separuh populasi global.
Menurut Roro, tingginya kontribusi negara mitra terhadap ekspor Indonesia menunjukkan bahwa perjanjian dagang bukan lagi sekadar instrumen diplomasi ekonomi, melainkan telah menjadi fondasi utama dalam memperluas akses pasar produk nasional.
"Oleh karena itu, peningkatan pemanfaatan fasilitas yang tersedia dalam perjanjian dagang menjadi agenda strategis yang perlu terus didorong bersama," ujarnya.
Baca Juga: Kemendag Siapkan Aturan Baru Usai Kebijakan Ekspor Tunggal Komoditas Strategis Lewat DSI
Salah satu contoh keberhasilan pemanfaatan perjanjian dagang terlihat dari implementasi Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA). Sejak berlaku pada September 2023, hubungan perdagangan kedua negara menunjukkan perkembangan signifikan.
Data Kemendag mencatat neraca perdagangan Indonesia dengan Uni Emirat Arab yang sebelumnya mengalami defisit berhasil berbalik menjadi surplus sebesar USD1,62 miliar pada 2025. Capaian tersebut menjadi indikator bahwa pemanfaatan fasilitas tarif dan akses pasar dalam perjanjian dagang dapat memberikan dampak langsung terhadap kinerja ekspor nasional.
Untuk memperluas manfaat tersebut, Kemendag memperkuat berbagai program pendampingan bagi pelaku usaha. Program tersebut meliputi diseminasi informasi berbasis potensi ekspor daerah, penyelenggaraan coaching clinic bagi eksportir, hingga pengembangan sistem elektronik Surat Keterangan Asal (e-SKA) guna mempercepat proses administrasi perdagangan internasional.
Roro juga mengajak Kadin Indonesia memperluas kolaborasi melalui forum-forum interaktif yang dapat menjangkau pelaku usaha di berbagai daerah, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta eksportir pemula.
"Kami ingin memastikan bahwa seluruh pelaku usaha, khususnya UMKM dan eksportir baru, dapat memanfaatkan peluang yang telah dibuka melalui berbagai perjanjian dagang. Pemerintah siap memberikan pendampingan yang lebih intensif agar manfaat perjanjian dagang dapat dirasakan secara nyata oleh dunia usaha dan masyarakat," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 7Kalender Jawa 8 Juni 2026: Watak Weton Senin Legi, Sosok yang Ramah dan Disukai Banyak Orang
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Prabowo Resmi Lantik Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN, Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden
- 10Ramalan Shio Asmara 7 Juni 2026 Terbaru: Tikus Makin Romantis, Naga Penuh Pesona, Harimau Berpeluang Jatuh Cinta









