Akurat Logo

Harga Pertamax Naik Rp3.950 per Liter, Konsumen Mulai Hitung Ulang Pengeluaran

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 10 Juni 2026, 14:31 WIB
Harga Pertamax Naik Rp3.950 per Liter, Konsumen Mulai Hitung Ulang Pengeluaran
Ilustrasi SPBU milik Pertamina

AKURAT.CO Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga jual BBM non subsidi untuk produk Pertamax dan Pertamax Green.

Berdasarkan informasi dari Pertamina Patra Niaga, harga Pertamax (RON 92) di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya kini menjadi Rp16.250 per liter. Angka tersebut melonjak Rp3.950 per liter dibandingkan harga sebelumnya yang berada di level Rp12.300 per liter.

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menuai beragam tanggapan dari masyarakat.

Sebagian pengguna mulai mempertimbangkan beralih ke BBM subsidi demi menekan pengeluaran, sementara sebagian lainnya tetap bertahan menggunakan Pertamax meski harus merogoh kocek lebih dalam.

Baca Juga: Kenaikan BBM Non-Subsidi Tak Pengaruhi Kondisi Ekonomi Masyarakat

Indra Agustian (28), seorang karyawan swasta yang menggunakan Pertamax sejak satu tahun terakhir, mengaku kenaikan harga membuat beban pengeluaran hariannya bertambah.

Menurutnya, selisih biaya pengisian bahan bakar kini mencapai sekitar Rp20 ribu setiap kali mengisi penuh tangki. Kondisi tersebut mendorongnya untuk mempertimbangkan kembali penggunaan BBM subsidi.

“Opsi kembali untuk menggunakan BBM subsidi (Pertalite) menjadi pilihan sekarang, mengingat untuk kendaraan roda dua saja rata-rata kenaikan biaya yang saya keluarkan sampe Rp20.000 sekali pengisian, itu belum perhitungan sebulan,” kata Indra kepada Akurat.co, Rabu (10/6/2026).

Berbeda dengan Agustian, seorang karyawan swasta berinisial Z yang telah menggunakan Pertamax sejak 2022 mengaku tetap akan mempertahankan pilihan BBM tersebut meski harganya naik.

Sebab, kata Z, penggunaan Pertamax memberikan performa yang lebih baik bagi kendaraan dibandingkan Pertalite.

“Rencananya tetep pake pertamax, karena kalau pakai pertalite khawatir tenaga motor jadi berkurang, trus jadi lebih boros juga pakai pertalite,” ungkap Z.

Harap Penyesuaian Lebih Stabil

Meski berbeda pandangan mengenai peralihan penggunaan BBBM, keduanya sama-sama berharap harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax bisa normal kembali

“Harapannya harga Pertamax bisa lebih stabil atau kalau bisa ada penyesuaian yang lebih ringan ke depannya, supaya tetap nyaman digunakan untuk jangka panjang,” ujar Indra.

Sedangkan Z, dirinya berharap harga Pertamax dapat kembali turun atau setidaknya ada kebijakan yang mampu menjaga daya beli masyarakat.

Baca Juga: Pertamina Sesuaikan Harga BBM per Juni 2026, Diesel Lebih Murah

“Harapannya, kembalikan harga pertamax normal lagi. Kalau gabisa, minimal gaji umr dinaikin. Jangan sampai harga pertamax menari-nari indah diatas perut lapar rakyat kecil,” tuturnya.

Alasan Kenaikan Harga Pertamax

Diberitakan sebelumnya, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM non subsidi mengikuti regulasi yang berlaku.

Selain itu, kenaikan ini merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.

“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” kata Roberth dalam keterangannya, Rahu (10/6/2026).

Pertamina Patra Niaga, kata Roberth, senantiasa berupaya menjaga ketersediaan dan kualitas produk BBM di seluruh wilayah Indonesia, sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik.

Roberth memastikan, pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina.

“Masyarakat dapat memperoleh informasi harga BBM terbaru melalui kanal resmi Pertamina, Pertamina Patra Niaga, maupun aplikasi MyPertamina,” ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.