Akurat Logo

Hampir Separuh Masyarakat Indonesia Tidak Punya Rencana Keuangan Jangka Panjang, Apa Dampaknya?

Idham Nur Indrajaya | 11 Juni 2026, 14:36 WIB
Hampir Separuh Masyarakat Indonesia Tidak Punya Rencana Keuangan Jangka Panjang, Apa Dampaknya?
Hampir separuh masyarakat Indonesia belum punya rencana keuangan jangka panjang. Simak temuan survei terbaru dan dampaknya. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Banyak orang memiliki target karier, ingin membeli rumah, menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, atau menikmati masa pensiun yang nyaman. Namun di tengah tekanan ekonomi dan kebutuhan yang terus meningkat, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menyusun peta menuju tujuan tersebut. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, fokus utama saat ini bukan lagi merencanakan lima atau sepuluh tahun ke depan, melainkan memastikan kebutuhan bulan ini bisa terpenuhi.

Fenomena itu tercermin dalam hasil Financial Resilience Index 2026 yang dirilis Sun Life Indonesia bersama Genpop. Survei terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas di seluruh Indonesia menemukan bahwa 48 persen masyarakat belum memiliki rencana keuangan jangka panjang atau hanya merencanakan keuangan mereka hingga satu tahun ke depan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa hampir separuh masyarakat Indonesia masih berfokus pada kebutuhan jangka pendek. Pada saat yang sama, sebanyak 56 persen responden menjadikan pengelolaan pengeluaran sehari-hari sebagai prioritas keuangan utama dalam 12 bulan ke depan, mengungguli tujuan lain seperti menabung, berinvestasi, atau mempersiapkan masa depan.

Dikutip dari hasil Financial Resilience Index 2026 yang dirilis Sun Life Indonesia, kondisi ini menjadi gambaran bagaimana tekanan ekonomi dan kenaikan biaya hidup memengaruhi cara masyarakat mengelola keuangan mereka.

Ringkasan

Berikut beberapa temuan penting dari survei tersebut:

  • 48 persen responden belum memiliki rencana keuangan jangka panjang atau hanya merencanakan hingga satu tahun ke depan.

  • 56 persen menjadikan pengelolaan pengeluaran harian sebagai prioritas utama.

  • Hanya 14 persen yang merasa sangat aman secara finansial.

  • Sebanyak 45 persen merasa mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa penghasilan.

  • Individu dengan literasi keuangan yang baik memiliki tingkat kesiapan finansial yang jauh lebih tinggi dibanding kelompok lainnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat Indonesia masih berupaya menyeimbangkan kebutuhan saat ini dengan tujuan finansial masa depan.

Mengapa Banyak Masyarakat Indonesia Belum Memiliki Rencana Keuangan Jangka Panjang?

Sekilas, tidak memiliki rencana keuangan jangka panjang mungkin terlihat sebagai masalah literasi atau kurangnya pengetahuan tentang pengelolaan uang. Namun data survei menunjukkan persoalannya lebih kompleks.

Kenaikan biaya hidup membuat banyak rumah tangga harus mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan dasar. Ketika sebagian besar penghasilan habis untuk biaya makan, transportasi, pendidikan, kesehatan, dan tagihan bulanan, ruang untuk memikirkan tujuan keuangan lima hingga sepuluh tahun ke depan menjadi semakin sempit.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat cenderung masuk ke dalam apa yang sering disebut sebagai survival mode economy atau pola bertahan hidup secara finansial. Fokus utama bukan lagi membangun kekayaan atau mencapai target jangka panjang, melainkan menjaga agar kondisi keuangan tetap stabil dari bulan ke bulan.

Bukan Tidak Mau Merencanakan, Tetapi Sulit Melakukannya

Salah satu kesalahan umum dalam melihat fenomena ini adalah menganggap masyarakat tidak peduli terhadap masa depan keuangan mereka.

Faktanya, sebagian besar orang memahami pentingnya dana darurat, dana pensiun, investasi, atau tabungan pendidikan anak. Namun memahami pentingnya sesuatu tidak selalu berarti memiliki kapasitas untuk melaksanakannya.

Di sinilah letak paradoks yang diungkap survei tersebut. Masalah utamanya bukan kurangnya kesadaran, melainkan semakin terbatasnya ruang finansial untuk mewujudkan perencanaan jangka panjang.

Data Survei: Hampir Separuh Warga Hanya Merencanakan Keuangan Hingga Satu Tahun

Temuan bahwa 48 persen responden belum memiliki rencana keuangan jangka panjang menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur ketahanan finansial masyarakat.

Dalam praktiknya, perencanaan keuangan jangka panjang biasanya mencakup berbagai tujuan seperti:

  • Dana pendidikan anak.

  • Kepemilikan rumah.

  • Dana pensiun.

  • Investasi jangka panjang.

  • Dana kesehatan keluarga.

  • Perlindungan finansial dari risiko tak terduga.

Ketika hampir separuh masyarakat belum memiliki perencanaan tersebut, artinya banyak rumah tangga yang berpotensi menghadapi kesulitan ketika menghadapi perubahan besar dalam hidup mereka.

Yang menarik, survei juga menemukan bahwa masyarakat yang memiliki rencana keuangan jangka panjang menunjukkan tingkat optimisme dan kesiapan finansial yang jauh lebih tinggi dibanding mereka yang tidak memiliki perencanaan.

Baca Juga: Pinjaman Digital Tumbuh, Indosaku Perkuat Edukasi Finansial

Baca Juga: Biaya Kesehatan Naik 17,8% di Indonesia: Ancaman Nyata bagi Keuangan Keluarga

Apa Dampaknya Jika Tidak Memiliki Tujuan Keuangan Jangka Panjang?

Tidak memiliki tujuan keuangan jangka panjang bukan berarti seseorang akan langsung mengalami masalah finansial. Namun risiko biasanya muncul secara perlahan.

Tanpa target yang jelas, keputusan keuangan cenderung bersifat reaktif. Pengeluaran dilakukan untuk memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kondisi finansial di masa depan.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menimbulkan beberapa risiko:

  • Dana darurat tidak pernah terbentuk secara optimal.

  • Persiapan pensiun tertunda.

  • Target kepemilikan aset semakin sulit dicapai.

  • Ketergantungan pada utang meningkat ketika terjadi keadaan darurat.

  • Tingkat stres finansial menjadi lebih tinggi.

Simulasi Realistis

Bayangkan seorang pekerja berusia 30 tahun dengan penghasilan Rp7 juta per bulan.

Ia memiliki keinginan membeli rumah dalam 10 tahun ke depan dan menyiapkan dana pendidikan untuk anaknya. Namun karena sebagian besar penghasilannya habis untuk kebutuhan sehari-hari, target tersebut tidak pernah diterjemahkan menjadi rencana konkret.

Setiap bulan masih ada sisa uang, tetapi tidak ada alokasi khusus untuk tujuan tertentu. Lima tahun kemudian, penghasilannya mungkin meningkat, tetapi target yang sama tetap belum mendekati kenyataan karena tidak pernah memiliki peta keuangan yang jelas.

Kondisi seperti ini lebih umum terjadi dibanding yang banyak orang sadari.

Mengapa Kenaikan Biaya Hidup Membuat Perencanaan Keuangan Semakin Sulit?

Hasil survei menunjukkan bahwa 80 persen masyarakat Indonesia merasakan tekanan akibat kenaikan biaya hidup.

Kondisi ini memiliki hubungan erat dengan rendahnya perencanaan keuangan jangka panjang.

Ketika biaya hidup meningkat, masyarakat cenderung memprioritaskan kebutuhan yang sifatnya mendesak. Fokus beralih dari membangun masa depan menjadi mempertahankan kondisi saat ini.

Tidak mengherankan jika sebanyak 56 persen responden menjadikan pengelolaan pengeluaran sehari-hari sebagai prioritas utama dibanding tujuan finansial lainnya.

Sudut Pandang Baru: Hilangnya Ruang untuk Bermimpi Secara Finansial

Sering kali diskusi mengenai perencanaan keuangan hanya berfokus pada strategi mengatur uang.

Padahal temuan survei ini mengungkap persoalan yang lebih mendasar.

Ketika kebutuhan dasar terus menyerap sebagian besar pendapatan, yang hilang bukan hanya kemampuan menabung. Masyarakat juga kehilangan ruang untuk bermimpi dan merancang masa depan finansial mereka secara realistis.

Akibatnya, tujuan jangka panjang perlahan berubah menjadi sekadar keinginan tanpa rencana.

Literasi Keuangan Jadi Faktor Pembeda

Meski tekanan ekonomi dirasakan hampir seluruh kelompok masyarakat, survei menemukan bahwa individu dengan tingkat literasi keuangan yang baik memiliki ketahanan finansial yang lebih kuat.

Mereka mencatat tingkat kepercayaan diri finansial lebih tinggi, lebih siap menghadapi kenaikan biaya hidup, serta lebih optimistis terhadap kondisi keuangan masa depan.

Data survei menunjukkan bahwa 86 persen responden yang memiliki rencana keuangan jangka panjang merasa yakin dapat mencapai tujuan finansial mereka.

Sebaliknya, hanya 25 persen dari mereka yang tidak memiliki rencana keuangan yang merasakan keyakinan serupa.

Temuan ini menunjukkan bahwa perencanaan keuangan bukan hanya soal angka, tetapi juga memberikan arah dan rasa kontrol terhadap masa depan.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Kelompok yang Lebih Tangguh Secara Finansial?

Kelompok yang memiliki ketahanan finansial lebih baik ternyata memiliki satu kesamaan utama: mereka tidak hanya memikirkan pengeluaran hari ini, tetapi juga memiliki gambaran jelas mengenai tujuan yang ingin dicapai.

Mereka lebih konsisten menyusun prioritas keuangan, membangun dana darurat, serta membuat keputusan yang mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Menurut President Director Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, kesiapan finansial menjadi faktor penting dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi saat ini.

"Temuan ini mencerminkan bagaimana banyak masyarakat Indonesia menyeimbangkan kebutuhan finansial jangka pendek dengan tujuan jangka panjang. Di tengah perubahan kondisi ekonomi, kesiapan finansial menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan finansial," ujar Albertus.= melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 11 Juni 2026.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ketahanan finansial bukan semata ditentukan oleh tingkat pendapatan, melainkan juga oleh kemampuan merencanakan dan mempersiapkan masa depan.

Paradoks Era Digital: Informasi Keuangan Melimpah, Perencanaan Masih Rendah

Menariknya, survei yang sama menemukan bahwa 68 persen responden menggunakan generative AI untuk mencari informasi dan panduan keuangan.

Artinya, akses terhadap informasi keuangan kini semakin mudah dibanding sebelumnya.

Namun kemudahan memperoleh informasi ternyata tidak otomatis menghasilkan perubahan perilaku keuangan.

Inilah paradoks yang sedang terjadi. Banyak orang mengetahui cara mengatur keuangan, memahami pentingnya investasi, bahkan bisa mendapatkan berbagai panduan melalui internet dan AI. Namun tekanan ekonomi sehari-hari sering kali membuat pengetahuan tersebut sulit diterapkan dalam kehidupan nyata.

Karena itu, tantangan terbesar saat ini bukan lagi akses terhadap informasi, melainkan bagaimana masyarakat memiliki kapasitas finansial untuk mengubah informasi tersebut menjadi tindakan nyata.

Ketika Masa Depan Finansial Mulai Tertunda

Temuan Financial Resilience Index 2026 menunjukkan bahwa hampir separuh masyarakat Indonesia belum memiliki rencana keuangan jangka panjang. Di balik angka tersebut terdapat gambaran yang lebih besar tentang perubahan perilaku finansial masyarakat di tengah tekanan ekonomi.

Ketika semakin banyak orang fokus bertahan dari bulan ke bulan, maka tantangan terbesar bukan hanya mengelola pengeluaran hari ini. Tantangan yang sesungguhnya adalah memastikan masa depan finansial tidak ikut tertunda.

Sebab tanpa tujuan dan perencanaan yang jelas, perjalanan keuangan seseorang sering kali berjalan tanpa arah, meski penghasilannya terus bertambah dari waktu ke waktu.

Pantau terus perkembangan isu ekonomi dan keuangan masyarakat Indonesia untuk memahami perubahan perilaku finansial yang sedang terjadi.

Baca Juga: MSIG Life dan ISCO Foundation Perkuat Masa Depan Anak Lewat Edukasi Finansial Keluarga

Baca Juga: Mengenal SHIFA Signature, Asuransi Kesehatan Syariah Sun Life dengan Limit Rp35 Miliar yang Menjawab Ancaman Biaya Medis Modern

FAQ

Mengapa banyak masyarakat Indonesia belum memiliki rencana keuangan jangka panjang?

Banyak masyarakat Indonesia belum memiliki rencana keuangan jangka panjang karena lebih fokus pada kebutuhan sehari-hari yang terus meningkat. Kenaikan biaya hidup membuat sebagian besar pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan rutin seperti makanan, transportasi, pendidikan, dan tagihan bulanan. Akibatnya, perencanaan keuangan untuk tujuan jangka panjang seperti membeli rumah, mempersiapkan dana pensiun, atau membangun investasi sering kali tertunda meskipun sebenarnya dianggap penting.

Apa dampak jika seseorang tidak memiliki rencana keuangan jangka panjang?

Tidak memiliki rencana keuangan jangka panjang dapat membuat seseorang lebih rentan menghadapi risiko finansial di masa depan. Tanpa target yang jelas, pengelolaan keuangan cenderung bersifat jangka pendek sehingga dana darurat, investasi, dan persiapan pensiun sering kali tidak menjadi prioritas. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan kesulitan mencapai tujuan keuangan serta meningkatkan stres ketika menghadapi kebutuhan besar yang tidak direncanakan sebelumnya.

Apa hubungan kenaikan biaya hidup dengan perencanaan keuangan keluarga?

Kenaikan biaya hidup memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan keluarga dalam menyusun perencanaan keuangan. Ketika pengeluaran rutin terus bertambah, ruang untuk menabung dan berinvestasi menjadi lebih terbatas. Banyak keluarga akhirnya memprioritaskan kebutuhan yang sifatnya mendesak dibanding menyiapkan dana pendidikan anak, dana pensiun, atau tujuan finansial jangka panjang lainnya. Inilah sebabnya mengapa tekanan ekonomi sering berdampak langsung pada rendahnya perencanaan keuangan rumah tangga.

Mengapa literasi keuangan penting untuk mencapai tujuan finansial?

Literasi keuangan membantu seseorang memahami cara mengelola pendapatan, mengatur prioritas pengeluaran, dan menyusun strategi untuk mencapai tujuan keuangan. Individu yang memiliki pemahaman finansial yang baik cenderung lebih disiplin dalam menabung, memiliki dana darurat, serta lebih siap menghadapi situasi ekonomi yang tidak menentu. Selain itu, literasi keuangan juga membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih bijak terkait investasi, asuransi, maupun perencanaan masa depan keluarga.

Apa saja contoh rencana keuangan jangka panjang yang perlu dipersiapkan?

Rencana keuangan jangka panjang dapat mencakup berbagai tujuan penting dalam kehidupan, seperti membeli rumah, mempersiapkan dana pendidikan anak, membangun dana pensiun, memiliki investasi jangka panjang, hingga menyediakan perlindungan finansial untuk keluarga. Tujuan-tujuan tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dicapai sehingga memerlukan perencanaan yang konsisten sejak dini agar tidak menjadi beban ketika kebutuhan tersebut benar-benar muncul.

Apakah generasi muda Indonesia juga perlu memiliki perencanaan keuangan jangka panjang?

Ya, generasi muda justru menjadi kelompok yang sangat penting untuk mulai menyusun perencanaan keuangan jangka panjang. Semakin awal seseorang menetapkan tujuan finansial dan membangun kebiasaan menabung atau berinvestasi, semakin besar peluang mencapai target tersebut di masa depan. Perencanaan sejak usia produktif juga memberikan waktu yang lebih panjang untuk menghadapi berbagai perubahan ekonomi, termasuk inflasi dan kenaikan biaya hidup yang dapat memengaruhi kondisi keuangan dalam jangka panjang.

Bagaimana cara memulai rencana keuangan jangka panjang meski penghasilan terbatas?

Memulai rencana keuangan jangka panjang tidak selalu membutuhkan penghasilan besar. Langkah pertama adalah menentukan tujuan yang ingin dicapai, seperti memiliki dana darurat, membeli rumah, atau menyiapkan dana pensiun. Setelah itu, alokasikan sebagian pendapatan secara rutin meskipun jumlahnya kecil. Konsistensi lebih penting daripada nominal besar di awal. Dengan perencanaan yang jelas dan disiplin dalam mengelola pengeluaran, seseorang tetap dapat membangun fondasi keuangan yang lebih kuat meski memiliki penghasilan terbatas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.