ASAKI Sambut Positif Penurunan Harga LNG, Risiko PHK di Industri Keramik Menyusut

AKURAT.CO Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menyampaikan apresiasi terhadap langkah cepat pemerintah dalam menurunkan harga LNG industri dan meningkatkan alokasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).
Kebijakan ini dinilai menjadi angin segar bagi industri keramik nasional yang sebelumnya menghadapi tekanan biaya energi tinggi.
ASAKI menilai keputusan pemerintah menurunkan harga regasifikasi LNG menjadi USD13 per MMBtu serta meningkatkan alokasi HGBT menjadi 50% dapat menghidupkan kembali optimisme pelaku industri untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat daya saing sektor manufaktur nasional.
Baca Juga: Harga LNG Industri Dipangkas, Ekonom Ingatkan Potensi Beban APBN Membesar
Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto mengatakan, kebijakan tersebut memberi kepastian bagi dunia usaha di tengah tantangan industri yang cukup berat dalam beberapa tahun terakhir.
"Kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah atas perhatian dan langkah cepat yang telah diambil. Kebijakan ini memberikan kepastian bagi dunia usaha, menjaga daya saing industri nasional, serta melindungi keberlangsungan lapangan kerja," kata Edy dalam keterangan resmi, Senin (29/6/2026).
Menurut ASAKI, kebijakan ini mampu mengurangi tekanan biaya energi yang selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar industri keramik nasional. Sebelumnya, biaya energi gas tercatat mencapai sekitar 50% dari total biaya produksi keramik.
Dengan penyesuaian kebijakan tersebut, rata-rata biaya gas industri keramik diperkirakan turun menjadi sekitar USD9,5-10 per MMBtu, atau setara sekitar 38%-40% dari total biaya produksi.
Penurunan biaya ini dinilai penting karena dapat membantu industri menjaga keberlanjutan operasional sekaligus menekan risiko pengurangan tenaga kerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK).
ASAKI juga berharap ke depan pemerintah dapat meningkatkan kembali porsi alokasi HGBT menjadi sekitar 70%-80%, seperti yang pernah diterapkan sebelumnya.
Langkah itu dianggap penting untuk memperkuat resiliensi industri nasional di tengah ketatnya persaingan regional dan derasnya arus produk impor, terutama dari China dan India.
Selain berpotensi menyelamatkan industri dari ancaman PHK, ASAKI menilai kebijakan ini juga akan memberikan efek berganda atau multiplier effect bagi perekonomian.
Dengan membaiknya kepastian pasokan gas dan iklim usaha, industri keramik nasional optimistis dapat melanjutkan rencana ekspansi pada periode 2025-2029.
Rencana tersebut mencakup tambahan kapasitas produksi sekitar 80 juta meter persegi, nilai investasi mencapai Rp12 triliun, serta potensi penyerapan sekitar 6.000 tenaga kerja baru.
“Pelaku industri berharap kebijakan energi yang lebih kompetitif dapat menjadi momentum untuk mempercepat pemulihan dan memperkuat posisi industri keramik Indonesia di pasar domestik maupun internasional,” ucap Edy.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kementerian ESDM: Tabung CNG 3 Kg Tak Perlu Dibeli, Masyarakat Cukup Tukar Isi Gas
- 2Trump Perintahkan Serangan Balasan, AS Kembali Gempur Iran
- 3Link dan Cara Cek Hasil Pengumuman OSN 2026 Jenjang SD dan SMP, Cek Sekarang!
- 4Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026 Rilis! Ini Jadwal Laga Big Match yang Wajib Tonton
- 5Edwin van Der Sar Harap Timnas Indonesia Bisa Segera Tampil di Piala Dunia
- 6Masjid Hajjah Yuliana Dibangun di Melbourne, Simbol Bakti kepada Orang Tua dan Gotong Royong Diaspora
- 7Yordania vs Argentina: Messi Cetak Gol Lagi, Albiceleste Tutup Fase Grup Tanpa Terkalahkan
- 8Messi Tak Jadi Starter saat Argentina vs Yordania, Scaloni Ungkap Rencananya
- 9Komisi II DPR Belum Bahas Syarat Capres Harus Diusung Tiga Parpol Parlemen
- 10Pimpinan DPR Kumpulkan DEN, BI, Kemenkeu hingga ESDM Bahas Strategi Jaga Pertumbuhan Ekonomi








