Mengenal Para Pengusaha Perempuan Disabilitas yang Ubah Keterbatasan jadi Peluang Bisnis

AKURAT.CO Masih banyak orang yang memandang penyandang disabilitas sebagai kelompok yang lebih membutuhkan bantuan daripada kesempatan. Padahal, ketika akses terhadap pendidikan, teknologi, dan pendampingan mulai terbuka, keterbatasan bukan lagi menjadi penghalang untuk berkarya. Hal itu tercermin dari kisah lima pengusaha perempuan disabilitas yang berhasil membangun usaha dengan karakter unik sekaligus membawa dampak bagi masyarakat di sekitarnya.
Lima perempuan tersebut merupakan pemenang Program DisBerdaya 2026, sebuah inisiatif dari DANA Indonesia dan Ant International yang mendorong perempuan penyandang disabilitas memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan usaha. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda—mulai dari penyandang disabilitas netra, tuli, cerebral palsy, hingga daksa—namun memiliki kesamaan semangat, yakni menjadikan usaha sebagai jalan menuju kemandirian sekaligus sarana menciptakan perubahan sosial.
Ringkasan
Lima pemenang Program DisBerdaya 2026 menunjukkan bahwa penyandang disabilitas mampu membangun usaha yang berkelanjutan ketika didukung akses terhadap teknologi, pelatihan bisnis, dan ekosistem yang tepat. Mereka mengembangkan bisnis di bidang kuliner, pendidikan, seni, literasi, hingga ekonomi digital, sekaligus menghadirkan manfaat bagi komunitas di sekitarnya.
Kelima pelaku usaha tersebut adalah:
Rachel Stefanie Halim – Chicken Nugget Keraton
Eka Pratiwi Taufanti – English Mate
Chatrinka Ustuhanifan Sugiapto – Nirtch Arts
Syamsu Anita Fitrianingsih – Menilik Aksara
Firsty Ukhti Molyndi – Molzania
Kisah mereka memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh keberanian untuk beradaptasi, belajar, dan memanfaatkan peluang yang tersedia.
Ketika kewirausahaan menjadi jalan menuju kemandirian
Di Indonesia, pemberdayaan penyandang disabilitas sering kali masih identik dengan bantuan sosial atau pelatihan keterampilan dasar. Padahal, tantangan terbesar yang dihadapi banyak penyandang disabilitas bukan semata keterbatasan fisik, melainkan terbatasnya akses terhadap kesempatan untuk berkembang.
Kesempatan itulah yang coba dibangun melalui Program DisBerdaya.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif SisBerdaya dan DisBerdaya yang digagas DANA Indonesia bersama Ant International untuk memberdayakan UMKM perempuan dan perempuan penyandang disabilitas melalui pemanfaatan teknologi. Tidak hanya memberikan penghargaan kepada pelaku usaha terbaik, program ini juga membekali peserta dengan kemampuan yang dibutuhkan untuk mengembangkan bisnis di era digital.
CEO & Co-Founder DANA Indonesia, Vince Iswara, mengatakan pihaknya ingin memastikan teknologi benar-benar menjadi alat pemberdayaan bagi perempuan.
"Kami percaya teknologi dapat membuka lebih banyak peluang bagi perempuan untuk berkembang dan berdaya secara ekonomi. Melalui SisBerdaya dan DisBerdaya, kami ingin memastikan para pelaku UMKM tidak hanya sekadar memiliki akses terhadap teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara cakap dan produktif untuk mengembangkan bisnis mereka," ujar Vince Iswara dalam konferensi pers Pengumuman Pemenang SisBerdaya & DisBerdaya di Jakarta beberapa waktu lalu.
Pernyataan tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap pemberdayaan UMKM. Teknologi tidak lagi diposisikan hanya sebagai pelengkap bisnis, tetapi sebagai keterampilan yang dapat memperluas akses pasar, meningkatkan produktivitas, sekaligus memperkuat daya saing pelaku usaha.
Seleksi ketat untuk menemukan pelaku usaha yang siap berkembang
Di balik kisah lima perempuan inspiratif tersebut terdapat proses seleksi yang panjang.
Director of Communications DANA Indonesia, Olivia Harahap, menjelaskan bahwa Program SisBerdaya dan DisBerdaya tahun ini diikuti lebih dari 6.800 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Menariknya, seluruh pendaftar tidak langsung dinilai berdasarkan usaha yang dimiliki. Sebelum memasuki tahap seleksi, semua peserta memperoleh akses terhadap materi pembelajaran secara daring agar memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kapasitas usahanya.
"Tahun ini ada lebih dari 6.800 peserta yang mendaftar. Seluruh peserta mendapatkan akses terhadap materi pembelajaran secara daring. Setelah itu dilakukan proses seleksi sehingga terpilih sekitar 180 peserta terbaik," kata Olivia.
Tahapan berikutnya menjadi semakin menantang. Sebanyak 180 peserta terbaik diminta menyusun proposal bisnis yang berisi rencana pengembangan usaha. Proposal tersebut kemudian dinilai oleh mitra dan dewan juri berdasarkan berbagai aspek, mulai dari potensi bisnis, kemampuan memanfaatkan teknologi, hingga dampak sosial yang dihasilkan.
Dari proses tersebut, hanya 35 peserta yang akhirnya terpilih sebagai finalis dan mengikuti pelatihan intensif sebelum diumumkan sebagai pemenang.
"Dari proses tersebut, terpilih 35 finalis yang hari ini kami umumkan sebagai pemenang. Setelah masuk 35 besar, seluruh finalis kami undang dari tiga wilayah Indonesia untuk mengikuti pelatihan intensif secara luring selama dua hari," ujar Olivia.
Selama pelatihan, para finalis memperoleh pembekalan mengenai strategi pengembangan bisnis, literasi keuangan, hingga pemanfaatan teknologi dan artificial intelligence (AI) yang dapat diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa DisBerdaya bukan sekadar kompetisi mencari pelaku usaha terbaik. Program ini juga menjadi ruang belajar bagi peserta untuk meningkatkan kapasitas diri agar mampu mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
Rachel Stefanie Halim: Membuktikan keterbatasan penglihatan bukan penghalang membangun usaha
Bagi Rachel Stefanie Halim, dapur rumah menjadi titik awal perjalanan bisnis yang kini dikenal dengan nama Chicken Nugget Keraton.
Perempuan penyandang disabilitas netra itu memulai usahanya pada masa pandemi. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, ia memilih melihat peluang daripada menyerah pada keadaan.
Rachel menghadirkan nugget ayam tanpa bahan pengawet dengan mengutamakan kualitas produk. Namun, nilai utama dari usaha yang dibangunnya tidak berhenti pada produk makanan.
Chicken Nugget Keraton juga menjadi simbol bahwa penyandang disabilitas mampu menghasilkan karya yang kompetitif di pasar sekaligus menginspirasi lebih banyak orang untuk berani memulai usaha.
Dalam konteks kewirausahaan inklusif, kisah Rachel menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan selalu proses produksi. Membangun kepercayaan konsumen, menjaga kualitas secara konsisten, hingga mengelola operasional usaha juga menjadi pekerjaan yang harus dihadapi setiap hari.
Program seperti DisBerdaya menjadi penting karena memberikan akses terhadap pengetahuan dan teknologi yang dapat membantu pelaku usaha seperti Rachel memperkuat fondasi bisnisnya.
Eka Pratiwi Taufanti: Mengajar bahasa Inggris sekaligus membuka peluang bagi penyandang disabilitas
Inspirasi lain datang dari Eka Pratiwi Taufanti melalui English Mate.
Berbeda dengan Rachel yang bergerak di bidang kuliner, Eka memilih dunia pendidikan sebagai jalan untuk menciptakan perubahan.
Sebagai penyandang disabilitas netra, ia menghadirkan layanan pembelajaran bahasa Inggris yang melibatkan tutor penyandang disabilitas. Pendekatan tersebut tidak hanya memperluas akses pendidikan, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi kelompok yang selama ini sering menghadapi keterbatasan akses di dunia profesional.
Model bisnis seperti English Mate memperlihatkan bahwa usaha tidak selalu harus berorientasi pada produk fisik. Pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman hidup juga dapat menjadi sumber nilai ekonomi yang memberikan manfaat bagi banyak orang.
Di saat kebutuhan akan kemampuan bahasa Inggris terus meningkat, English Mate menawarkan perspektif berbeda: pendidikan yang inklusif sekaligus memberdayakan.
Lebih jauh lagi, usaha ini turut mematahkan anggapan bahwa penyandang disabilitas hanya menjadi penerima manfaat. Sebaliknya, mereka juga dapat menjadi pendidik, mentor, sekaligus penggerak perubahan sosial melalui kewirausahaan.
Kisah Rachel dan Eka menjadi gambaran awal bahwa setiap perempuan penyandang disabilitas memiliki cara berbeda dalam mengubah keterbatasan menjadi peluang. Ada yang memulainya dari dapur rumah, ada pula yang membangun ruang belajar yang lebih inklusif. Namun, keduanya memiliki kesamaan, yakni keberanian melihat peluang di tengah keterbatasan dan kemauan untuk terus berkembang melalui pembelajaran serta pemanfaatan teknologi.
Baca Juga: Rieke Diah Pitaloka Kritik Komnas Perempuan: Jangan Beri Celah Hukum bagi Pelaku Kekerasan Ekstrem
Chatrinka Ustuhanifan Sugiapto: Menghubungkan Seni dan Bahasa Isyarat Lewat Nirtch Arts
Jika Rachel dan Eka menunjukkan bahwa keterbatasan penglihatan tidak menghalangi seseorang untuk membangun usaha, maka Chatrinka Ustuhanifan Sugiapto membuktikan bahwa seni dapat menjadi jembatan untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif.
Perempuan penyandang disabilitas tuli ini mendirikan Nirtch Arts, sebuah usaha yang memadukan ilustrasi dengan edukasi Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Melalui karya-karyanya, Chatrinka tidak hanya menawarkan produk kreatif, tetapi juga mengajak masyarakat mengenal bahasa isyarat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut menjadi menarik karena bisnis yang dijalankannya tidak berhenti pada aktivitas jual beli. Setiap ilustrasi yang dibuat membawa pesan bahwa komunikasi yang inklusif merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya komunitas penyandang disabilitas.
Di era media sosial, karya visual memiliki kemampuan menjangkau audiens yang jauh lebih luas dibandingkan metode edukasi konvensional. Ilustrasi yang sederhana, menarik, dan mudah dipahami membuat pesan mengenai inklusi lebih mudah diterima oleh masyarakat dari berbagai kalangan.
Hal ini menunjukkan bahwa kreativitas dapat menjadi alat untuk menciptakan perubahan sosial sekaligus membuka peluang ekonomi.
Syamsu Anita Fitrianingsih: Menebarkan Semangat Literasi dari Menilik Aksara
Perjalanan inspiratif lainnya datang dari Syamsu Anita Fitrianingsih.
Perempuan penyandang cerebral palsy ini memilih dunia literasi sebagai ruang untuk berkarya melalui Menilik Aksara, sebuah toko buku yang juga menjadi wadah memperkenalkan perspektif mengenai kehidupan penyandang disabilitas.
Sejak 2018, Anita telah menerbitkan 17 karya, mulai dari novel, kumpulan cerpen, hingga antologi puisi. Produktivitas tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk terus menghasilkan karya.
Menariknya, Menilik Aksara tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjual buku.
Anita membangun ruang literasi yang mengajak masyarakat memahami dunia disabilitas melalui cerita, pengalaman, dan sudut pandang yang selama ini mungkin jarang ditemukan dalam bacaan populer.
Di tengah derasnya arus konten digital, langkah tersebut memiliki arti penting. Literasi bukan sekadar aktivitas membaca, tetapi juga sarana membangun empati dan memperluas perspektif masyarakat terhadap keberagaman.
Melalui usahanya, Anita membuktikan bahwa bisnis juga dapat menjadi medium edukasi yang memberikan dampak sosial dalam jangka panjang.
Firsty Ukhti Molyndi: Membuka Peluang dari Dunia Digital
Berbeda dengan empat penerima penghargaan lainnya, Firsty Ukhti Molyndi melihat peluang besar di dunia digital.
Melalui Molzania, perempuan penyandang disabilitas daksa ini mengembangkan usaha sebagai penulis artikel sekaligus memberdayakan kreator konten perempuan agar dapat tumbuh bersama.
Model bisnis yang dibangun Firsty mencerminkan perubahan lanskap ekonomi saat ini.
Jika dahulu peluang usaha identik dengan toko fisik atau produksi barang, kini keterampilan menulis, membuat konten, dan mengelola informasi juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Dunia digital membuka ruang yang lebih setara bagi banyak orang, termasuk penyandang disabilitas. Selama memiliki kemampuan, kreativitas, dan akses terhadap teknologi, batasan fisik menjadi semakin kecil.
Kisah Firsty memperlihatkan bahwa transformasi digital bukan hanya mengubah cara orang bekerja, tetapi juga memperluas kesempatan bagi kelompok yang sebelumnya sering menghadapi hambatan mobilitas untuk tetap produktif dan menghasilkan karya.
Teknologi Membuka Kesempatan, Manusia yang Menentukan Perubahannya
Meski memiliki latar belakang usaha yang berbeda, kelima perempuan tersebut dipertemukan oleh satu kesamaan, yaitu kemauan untuk terus belajar.
Program DisBerdaya tidak hanya memberikan penghargaan kepada para pemenang. Seluruh finalis terlebih dahulu mengikuti pelatihan intensif yang mencakup pengembangan bisnis, literasi keuangan, hingga pemanfaatan teknologi dan artificial intelligence (AI) untuk mendukung usaha mereka.
Olivia mengatakan pembekalan tersebut menjadi bagian penting dari proses pemberdayaan peserta.
"Mereka mendapatkan pembekalan mengenai pengembangan bisnis, pemanfaatan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), serta materi lain yang mendukung pengembangan usaha," ujar Olivia.
Menurut Olivia, tantangan berikutnya adalah ketika seluruh finalis harus mempresentasikan rencana bisnis mereka di hadapan dewan juri.
Pada tahap inilah kemampuan berpikir strategis, komitmen mengembangkan usaha, serta dampak sosial yang dihasilkan menjadi perhatian utama.
"Para juri tidak hanya menilai strategi bisnis mereka, tetapi juga melihat komitmen para peserta dalam mengembangkan usahanya, bagaimana mereka memanfaatkan teknologi, serta dampak sosial yang dihasilkan bagi lingkungan sekitar. Seluruh aspek tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan para pemenang," jelasnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa teknologi bukan tujuan akhir.
AI, pemasaran digital, maupun berbagai perangkat digital hanyalah alat. Yang menentukan keberhasilan tetaplah manusia yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan persoalan nyata di sekitarnya.
Rachel menggunakannya untuk mengembangkan usaha kuliner.
Eka memanfaatkannya untuk memperluas akses pendidikan.
Chatrinka menggunakannya sebagai media edukasi bahasa isyarat.
Anita memanfaatkannya untuk memperluas literasi.
Sementara Firsty menjadikannya sebagai ruang berkarya sekaligus memberdayakan perempuan lain.
Kelima kisah tersebut memperlihatkan bahwa teknologi akan memberikan dampak maksimal ketika dipadukan dengan tujuan sosial yang jelas.
Inklusi Ekonomi Dimulai dari Kesempatan yang Setara
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, menilai kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta memiliki peran penting dalam membangun ekosistem yang lebih inklusif bagi perempuan maupun penyandang disabilitas.
"Kami mengapresiasi sekali DANA Indonesia yang telah menginisiasi dan konsisten dengan SisBerdaya & DisBerdaya. Semoga memberikan dampak, khususnya bagi perempuan & penyandang disabilitas. Saya mau mengucapkan selamat dan mengapresiasi kepada seluruh peserta dan pemenang SisBerdaya & DisBerdaya 2026. Pencapaian ibu-ibu hari ini adalah bukti bahwa semangat belajar, keberanian beradaptasi terhadap teknologi, kerja keras yang konsisten, usaha mikro bisa menjadi lebih besar, dan keterbatasan bisa jadi peluang," ujar Irene Umar.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemberdayaan penyandang disabilitas tidak cukup diwujudkan melalui kebijakan yang bersifat simbolis. Yang jauh lebih penting adalah menciptakan akses terhadap pelatihan, teknologi, jaringan usaha, serta kesempatan yang memungkinkan mereka berkembang secara mandiri.
Lebih dari Sekadar Kisah Inspiratif
Kisah lima perempuan dalam Program DisBerdaya 2026 memang menginspirasi. Namun, makna terbesarnya tidak berhenti pada keberhasilan individu.
Rachel, Eka, Chatrinka, Anita, dan Firsty menunjukkan bahwa ketika kesempatan diberikan secara setara, penyandang disabilitas mampu menjadi pelaku usaha, pencipta lapangan kerja, pendidik, seniman, penulis, hingga penggerak perubahan sosial.
Di sinilah letak pelajaran pentingnya. Hambatan terbesar yang dihadapi penyandang disabilitas sering kali bukan berasal dari kondisi fisik mereka, melainkan dari terbatasnya akses terhadap pendidikan, teknologi, pasar, dan kepercayaan masyarakat.
Program seperti DisBerdaya memperlihatkan bahwa ketika akses tersebut mulai dibuka, lahirlah lebih banyak ruang bagi perempuan penyandang disabilitas untuk menunjukkan potensi terbaiknya.
Ke depan, keberhasilan pemberdayaan tidak lagi semata diukur dari berapa banyak bantuan yang disalurkan, tetapi dari berapa banyak orang yang berhasil menjadi mandiri, menciptakan nilai ekonomi, dan menghadirkan manfaat bagi komunitasnya.
Lima perempuan ini telah membuktikannya. Mereka tidak menghapus keterbatasan yang dimiliki, tetapi memilih mengubah cara memandangnya. Dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai hambatan, keterbatasan justru menjadi sumber inspirasi untuk membangun usaha yang memberi arti, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas.
Dengan semakin terbukanya akses terhadap teknologi, pelatihan, dan ekosistem bisnis yang inklusif, semakin banyak pula peluang lahirnya pengusaha perempuan disabilitas yang mampu memperkuat perekonomian Indonesia. Kisah mereka menjadi pengingat bahwa inklusi bukan sekadar memberikan tempat, melainkan memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkarya, dan berhasil.
Baca Juga: DPR Minta Taufik Hidayat Dihukum Setimpal dalam Kasus Penyekapan Perempuan
Baca Juga: PNM Perkuat Komitmen Menghadirkan Pembiayaan Syariah yang Inklusif untuk Perempuan Prasejahtera
FAQ
1. Apa itu Program DisBerdaya?
DisBerdaya merupakan program pemberdayaan yang diinisiasi DANA Indonesia bersama Ant International untuk mendukung perempuan penyandang disabilitas dalam mengembangkan usaha melalui pelatihan bisnis, pemanfaatan teknologi, literasi keuangan, dan pendampingan. Program ini merupakan bagian dari inisiatif SisBerdaya dan DisBerdaya yang bertujuan mendorong kesetaraan ekonomi dan kewirausahaan inklusif di Indonesia.
2. Siapa saja pemenang DisBerdaya 2026?
Lima pemenang Program DisBerdaya 2026 adalah:
Rachel Stefanie Halim – Chicken Nugget Keraton (Disabilitas Netra)
Eka Pratiwi Taufanti – English Mate (Disabilitas Netra)
Chatrinka Ustuhanifan Sugiapto – Nirtch Arts (Disabilitas Tuli)
Syamsu Anita Fitrianingsih – Menilik Aksara (Cerebral Palsy)
Firsty Ukhti Molyndi – Molzania (Disabilitas Daksa)
Kelima pelaku usaha tersebut dipilih karena mampu menunjukkan potensi bisnis, pemanfaatan teknologi, serta dampak sosial bagi masyarakat.
3. Mengapa kisah lima pengusaha perempuan disabilitas ini penting?
Kisah mereka membuktikan bahwa penyandang disabilitas tidak hanya mampu membangun usaha yang berkelanjutan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperluas akses pendidikan, mengenalkan budaya inklusif, hingga memberdayakan komunitas. Mereka menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menjadi wirausaha.
4. Bagaimana proses seleksi Program DisBerdaya 2026?
Program ini diikuti lebih dari 6.800 peserta dari seluruh Indonesia.
Tahapan seleksinya meliputi:
Seluruh peserta mengikuti pembelajaran secara daring.
Dipilih sekitar 180 peserta terbaik.
Peserta menyusun proposal pengembangan bisnis.
Proposal dinilai oleh mitra dan dewan juri.
Terpilih 35 finalis yang mengikuti pelatihan intensif dan sesi pitching.
Dewan juri menetapkan lima pemenang terbaik Program DisBerdaya 2026.
5. Apa saja yang dipelajari peserta selama mengikuti program?
Finalis mendapatkan pembekalan mengenai berbagai aspek pengembangan usaha, antara lain:
Strategi pengembangan bisnis.
Literasi keuangan.
Pemanfaatan teknologi digital.
Artificial Intelligence (AI) untuk UMKM.
Penyusunan model bisnis.
Persiapan presentasi (business pitching).
Pelatihan tersebut dirancang agar pelaku usaha mampu mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
6. Bagaimana teknologi membantu pengusaha perempuan disabilitas?
Teknologi membantu pelaku usaha dalam berbagai aspek, seperti:
memperluas jangkauan pemasaran melalui platform digital;
meningkatkan efisiensi operasional usaha;
membantu pembuatan materi promosi menggunakan AI;
mempermudah komunikasi dengan pelanggan;
memperbaiki pencatatan keuangan dan pengelolaan bisnis.
Dengan dukungan teknologi, penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bersaing di pasar digital.
7. Apa yang menjadi penilaian utama dalam Program DisBerdaya?
Dewan juri tidak hanya menilai omzet atau strategi bisnis.
Beberapa aspek yang menjadi pertimbangan meliputi:
potensi pengembangan usaha;
kemampuan memanfaatkan teknologi;
komitmen menjalankan bisnis;
inovasi produk atau layanan;
dampak sosial terhadap masyarakat dan komunitas sekitar.
Pendekatan ini membuat program tidak hanya mencari bisnis yang sukses secara ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas.
8. Mengapa pemberdayaan penyandang disabilitas melalui kewirausahaan penting?
Kewirausahaan memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk membangun kemandirian ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta menunjukkan kemampuan mereka sebagai pelaku usaha. Selain meningkatkan kesejahteraan individu, bisnis yang mereka bangun juga dapat mendorong terciptanya ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.
9. Apa pelajaran yang bisa dipetik dari lima kisah inspiratif ini?
Kelima pemenang DisBerdaya 2026 menunjukkan bahwa keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh modal atau kondisi fisik, tetapi juga oleh kemauan untuk terus belajar, beradaptasi dengan teknologi, dan menciptakan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat. Keterbatasan dapat menjadi sumber inovasi ketika didukung oleh akses terhadap pengetahuan, teknologi, dan kesempatan yang setara.
10. Bagaimana Program DisBerdaya berkontribusi terhadap ekonomi inklusif di Indonesia?
Program DisBerdaya membantu membangun ekonomi yang lebih inklusif dengan membuka akses bagi perempuan penyandang disabilitas terhadap pelatihan, teknologi, pendampingan bisnis, dan jejaring usaha. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga memperkuat peran penyandang disabilitas sebagai pelaku ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








