Kementan Produksi Massal Alat Deteksi Cepat Surra, Wabah Ternak Yang Meresahkan

AKURAT.CO ementerian Pertanian (Kementan) mulai memproduksi secara massal teknik deteksi cepat penyakit surra sebagai upaya memperkuat pengendalian penyakit hewan di berbagai daerah.
Inovasi tersebut menjadi langkah penting karena hasil riset yang sebelumnya dikembangkan di laboratorium kini telah memasuki tahap produksi untuk mendukung layanan kesehatan hewan secara nasional.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda mengatakan, teknik deteksi cepat surra dikembangkan oleh Balai Veteriner Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Baca Juga: Kementan Siapkan Rp5 Triliun Untuk Papua, Ingin Setarakan Harga Pangan dengan Jawa
Sementara itu, proses produksi massalnya dilakukan oleh Pusat Veteriner Farma Surabaya yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU).
"Teknik deteksi cepat penyakit surra dikembangkan oleh Balai Veteriner Banjarbaru, sedangkan produksi massal dilakukan oleh Pusat Veteriner Farma Surabaya yang mendapat mandat sebagai badan layanan umum untuk memproduksi inovasi tersebut," kata Agung Suganda dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (4/7/2026).
Agung menjelaskan Balai Veteriner Banjarbaru memiliki wilayah kerja yang mencakup lima provinsi di Kalimantan, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Barat.
Unit tersebut bertugas melakukan surveilans penyakit hewan, pengujian produk hewan, hingga pengembangan metode identifikasi dan diagnosis penyakit.
Balai Veteriner Banjarbaru juga menjadi laboratorium rujukan nasional untuk penyakit surra, salah satu penyakit hewan menular strategis yang menyerang berbagai ternak seperti sapi, kerbau, kuda, unta, hingga kambing.
Penyakit ini disebabkan oleh parasit Trypanosoma evansi dan ditularkan melalui gigitan lalat pengisap darah.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menyebut surra dapat menyebabkan penurunan produktivitas ternak, gangguan reproduksi, hingga kematian apabila tidak ditangani secara cepat.
Menurut Agung, keberhasilan mengembangkan sekaligus memproduksi massal teknologi deteksi cepat menjadi bagian dari penguatan sistem kesehatan hewan nasional.
Dengan diagnosis yang lebih cepat, penanganan kasus di lapangan diharapkan dapat dilakukan lebih dini sehingga risiko penyebaran penyakit dapat ditekan.
Balai Veteriner Banjarbaru sendiri telah beroperasi sejak 1978 dan memperoleh peningkatan fasilitas melalui proyek Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada 2024.
Saat ini balai tersebut memiliki 10 laboratorium yang telah menerapkan standar manajemen mutu dan pelayanan publik berbasis ISO serta Standar Nasional Indonesia (SNI).
Selain menjadi pusat rujukan penyakit surra, Balai Veteriner Banjarbaru merupakan satu-satunya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Veteriner milik Kementerian Pertanian di wilayah Kalimantan.
Secara nasional, Kementan memiliki 11 Balai Veteriner yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, serta Papua.
Produksi massal alat deteksi cepat surra dinilai penting karena mempercepat proses diagnosis dibandingkan metode laboratorium konvensional yang umumnya membutuhkan waktu lebih lama.
Diagnosis dini memungkinkan petugas veteriner segera melakukan tindakan pengendalian, termasuk pengobatan, pembatasan pergerakan ternak, dan surveilans lanjutan guna mencegah penyebaran penyakit.
Langkah tersebut juga sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat sistem kesehatan hewan nasional di tengah meningkatnya perhatian terhadap ketahanan pangan, produktivitas peternakan, serta pencegahan kerugian ekonomi akibat penyakit hewan menular strategis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










