Akurat Logo

Industri Fintech Tetap Jadi Mitra Strategis Perbankan di Tengah Tren Universal Banking

Siti Nur Azzura | 7 Juli 2026, 23:28 WIB
Industri Fintech Tetap Jadi Mitra Strategis Perbankan di Tengah Tren Universal Banking
Ilustrasi menggunakan handphone.

AKURAT.CO Ketua Umum Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) Indonesia, Pandu Sjahrir, mengatakan saat ini tengah memasuki era financial convergence, ketika perbankan, fintech, sistem pembayaran, dan aset keuangan digital semakin terintegrasi dalam satu ekosistem.

Tren ini diperkuat oleh universal banking, berkembangnya Open Finance, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), serta semakin pentingnya Digital Public Infrastructure (DPI) dan Digital Financial Infrastructure (DFI) sebagai fondasi transformasi sektor keuangan Indonesia.

Untuk itu, Indonesia Digital Bank Summit (IDBS) 2026 menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi antara regulator, industri perbankan, fintech, pelaku sektor riil, akademisi, serta mitra internasional dalam membangun sistem keuangan digital Indonesia yang semakin inklusif, resilien, dan berdampak bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: M2P Fintech Dorong Industri Keuangan RI Perkuat Fraud Management System Berbasis AI

"Fintech kini bukan lagi alternatif bagi perbankan, melainkan sebagai mitra strategis dalam membangun sistem keuangan masa depan. IDBS 2026 menjadi momentum bagi AFTECH untuk menegaskan bahwa fintech siap naik kelas, memperkuat kolaborasi dengan perbankan dan regulator, serta memastikan inovasi keuangan digital memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan sektor riil," ujar Pandu, Selasa (7/7/2026).

Mengusung tema 'Beyond Banking: Redesigning Finance for Wellbeing and Growth in the Real Economy', IDBS 2026 tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan, tetapi juga platform untuk menghasilkan agenda kolaborasi, rekomendasi kebijakan, dan kemitraan strategis yang dapat segera ditindaklanjuti guna mempercepat transformasi sektor jasa keuangan Indonesia.

Melalui IDBS 2026, AFTECH mendorong sejumlah agenda prioritas. Mulai dari penguatan sinergi lintas pemangku kepentingan, pengembangan konsep financial well being, percepatan kesiapan implementasi universal banking dan Open Finance.

Selain itu juga penguatan Digital Public Infrastructure (DPI) dan Digital Financial Infrastructure (DFI), perluasan kolaborasi pembiayaan sektor riil dan UMKM, serta penyusunan rekomendasi kebijakan yang bersifat implementatif bagi regulator.

Ketua Dewan Pengawas AFTECH, Arsjad Rasjid, menegaskan bahwa fintech tetap menjadi penggerak inovasi yang melengkapi layanan perbankan melalui inovasi, teknologi, data, dan jangkauan ke segmen yang belum sepenuhnya terlayani.

"Dalam era universal banking dan beyond banking, fintech dan perbankan berperan sebagai mitra yang saling melengkapi. Melalui IDBS 2026, AFTECH ingin memastikan output forum ini mencerminkan kepentingan kolektif anggota sekaligus menjadi masukan konstruktif bagi regulator," ujar Arsjad.

Baca Juga: TWP90 Fintech Lending Naik, 19 Pinjol Catat Kredit Macet di Atas 5 Persen

Optimisme tersebut juga tercermin dalam temuan awal Annual Members Survey (AMS) 2025–2026 yang diluncurkan pada IDBS 2026. Survei terhadap 141 anggota AFTECH menunjukkan fintech Indonesia memasuki fase pertumbuhan yang lebih matang.

Sekitar 43 persen responden telah membukukan laba, 84 persen telah mengadopsi AI, dan 86 persen menilai regulasi saat ini mendukung inovasi.

Sebagai tindak lanjut, AFTECH akan merangkum hasil diskusi dari empat pilar utama IDBS 2026—Beyond Banking, Financial Wellbeing, Inclusive Growth, dan Digital Infrastructure—ke dalam policy brief, rekomendasi kebijakan, serta agenda koordinasi bersama regulator, industri perbankan, dan seluruh pemangku kepentingan guna mempercepat implementasi berbagai inisiatif strategis yang dibahas dalam forum ini.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.