CHANDI 2025 Ditutup, Indonesia Tegaskan sebagai Pusat Diplomasi Budaya Dunia

AKURAT.CO Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, secara resmi menutup perhelatan konferensi budaya internasional Culture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy,
and Innovation (CHANDI) 2025 di Denpasar, Bali.
Dalam sambutan penutupnya, Menteri Fadli mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan partisipasi seluruh Menteri, Wakil Menteri, Duta
Besar, tokoh kebudayaan, para cendekiawan, seniman, serta para delegasi dari seluruh dunia yang telah hadir pada CHANDI 2025.
Dirinya berharap perhelatan ini dapat menjadi sarana dalam memperkuat visi bersama menjadikan budaya sebagai alat perdamaian dan kesejahteraan bersama. “Kami merasa terhormat atas kehadiran perwakilan negara yang telah berbagi gagasan dalam menanggapi tema kebudayaan pasca 2030. Partisipasi seluruh delegasi telah mengubah CHANDI 2025 menjadi lebih dari sekadar sebuah pertemuan kebudayaan. Lebih dari itu, konferensi budaya ini menjadi bukti nyata atas visi bersama kita tentang budaya untuk masa depan,” ucap Menteri Fadli mengawali pidatonya.
Lebih lanjut, dirinya menambahkan bahwa pertemuan tingkat Menteri atau Ministerial Meeting yang diselenggarakan pada Rabu (3/9/2025), menghasilkan suatu deklarasi bersama yang dinamakan Bali Cultural Initiative Declaration yang diadopsi secara mufakat oleh 35 negara. Deklarasi tersebut
menghadirkan komitmen bersama untuk mempromosikan keragaman budaya, melindungi nilai luhur warisan budaya, serta memperkuat diplomasi budaya sebagai jembatan untuk mewujudkan pembangunan global yang berkelanjutan dan inklusif.
Adapun ke-35 negara tersebut, di antaranya Republik Albania, Republik Demokratik Rakyat Aljazair, Republik Armenia, Republik Rakyat Bangladesh, Republik Belarus, Kerajaan Belgia, Brunei Darussalam, Republik Bulgaria, Kerajaan Kamboja, Republik Fiji, Georgia, Republik Italia, Republik India, Republik Indonesia, Republik Islam Iran, Kerajaan Hasyimiyah Yordania, Republik Demokratik
Rakyat Laos, Negara Libya, Malaysia, Mongolia, Kesultanan Oman, Republik Islam Pakistan, Negara Palestina, Federasi Rusia, Republik Rwanda, Republik Serbia, Republik Singapura, Republik Siprus, Republik Arab Suriah, Republik Persatuan Tanzania, Kerajaan Thailand, Republik Tunisia, Republik Uzbekistan, Republik Bolivaria Venezuela, dan Republik Zimbabwe.
“Melalui deklarasi, para delegasi telah menekankan bahwa budaya merupakan pilar pembangunan berkelanjutan, sekaligus ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim, menegaskan pentingnya integrasi dalam strategi nasional, pemanfaatan pengetahuan tradisional untuk keanekaragaman hayati dan adaptasi masyarakat, serta meneguhkan diplomasi budaya sebagai jembatan perdamaian, dialog, dan pemahaman satu sama lain,” jelas Menbud Fadli.
Selama tiga hari penyelenggaraan, tanggal 3 hingga 5 September 2025, perhelatan CHANDI 2025 menghadirkan pertemuan para menteri, duta besar, seniman, budayawan, dan pakar dari berbagai negara. Forum ini membahas isu-isu strategis terkait pelestarian warisan budaya, diplomasi budaya, pembiayaan untuk masa depan kebudayaan, penguatan aksi iklim berbasis budaya, serta inovasi dalam bidang seni dan media.
Baca Juga: Kementerian Kebudayaan Gelar Pesta Rakyat, Jelang Perhelatan Internasional CHANDI 2025
CHANDI 2025 turut menghadirkan pelaku UMKM seni budaya berbasis kearifan lokal yang menawarkan berbagai kerajinan tangan dan kuliner tradisional.
Kehadiran UMKM ini diharapkan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar sekaligus memberikan pengalaman otentik bagi para tamu undangan yang hadir.
Kekayaan budaya lokal Indonesia turut disuguhkan di hadapan para tamu kehormatan CHANDI 2025, mulai dari musik, tarian tradisi, hingga pembuatan keris, topeng tradisional, dan batik yang dibalut dalam kegiatan lokakarya.
Lebih lanjut, Menbud menekankan bahwa Indonesia terus berkomitmen dalam memperkuat budaya sebagai instrumen penting soft power, mendorong dialog antarbudaya, serta mengekspresikan nilainilai luhur bangsa yang berakar pada kreativitas, harmoni, dan warisan budaya. “Sesuai Asta Cita ke-8, Presiden Prabowo Subianto memiliki visi dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur serta memperkuat keselarasan hidup yang harmonis dengan lingkungan,
alam, dan budaya. Untuk itu kami percaya bahwa kebudayaan bukan hanya cerminan masa lalu, melainkan alat yang kuat untuk diplomasi dan pembangunan perdamaian,” ungkap Menteri Kebudayaan.
Hadir dalam penutupan CHANDI 2025, Para Menteri dan Wakil Menteri bidang kebudayaan dari berbagai negara, para Duta Besar negara sahabat, para ketua delegasi, para perwakilan organisasi internasional; jajaran pejabat Kementerian Kebudayaan RI, serta para pimpinan daerah.
Menutup pidatonya, Menteri Fadli mengajak seluruh delegasi yang hadir untuk terus berkomitmen dalam memajukan perdamaian serta menciptakan kolaborasi global melalui budaya.
Dirinya juga mendorong negara-negara di dunia untuk dapat membangun komunitas yang damai demi keberlangsungan hidup umat manusia menuju dunia yang lebih baik. “Semoga semangat kolaborasi, persatuan, dan kreativitas yang tercermin dalam CHANDI 2025 dapat terus menginspirasi kemitraan antarbangsa serta memperkuat visi bersama kita tentang budaya untuk masa depan,” pungkas Menteri Fadli.
Dengan berakhirnya CHANDI 2025 di Bali, Indonesia, menegaskan posisi Indonesia sebagai pusat diplomasi budaya dunia.
Melalui kolaborasi, pertukaran gagasan, dan semangat kebersamaan, perhelatan ini diharapkan menjadi titik tolak lahirnya inisiatif baru yang menjadikan budaya sebagai
kekuatan strategis dalam mewujudkan perdamaian, kesejahteraan, dan masa depan yang berkelanjutan bagi seluruh umat manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









