Akurat
Pemprov Sumsel

Terapis Olahraga Jadi Pilar Baru Pembinaan Atlet, PTOI Dorong Standardisasi Profesi

Citra Puspitaningrum | 1 Desember 2025, 17:16 WIB
Terapis Olahraga Jadi Pilar Baru Pembinaan Atlet, PTOI Dorong Standardisasi Profesi

AKURAT.CO Peran terapis olahraga kini mendapat pengakuan lebih besar dalam dunia pembinaan atlet di Indonesia.

Ketua Umum Persatuan Terapis Olahraga Indonesia (PTOI) Jakarta, Drs. Firmansyah, M.Pd, menyatakan bahwa profesi ini tidak bisa lagi disamakan dengan layanan pijat tradisional.

Menurutnya, terapis olahraga merupakan disiplin keilmuan berbasis olahraga yang berperan vital dalam menjaga performa atlet sejak masa latihan hingga turun ke arena kompetisi.

"Terapi olahraga ini bagian dari satu kesatuan proses menuju prestasi. Dari mulai latihan sampai kompetisi, kami menjadi bagian terdekat dalam proses tersebut," ujar Firmansyah, kepada wartawan di Jakarta, Senin (1/12/2025).

Baca Juga: Hipnoterapi: Biaya, Proses, dan Tips Memilih Terapis Terbaik

Dia menjelaskan, pemulihan atau recovery menjadi aspek utama dalam terapi olahraga, terutama bagi atlet yang menjalani latihan intensif. Penanganan berbasis ilmu faal dan anatomi dibutuhkan agar performa atlet tetap terjaga dan terhindar dari cedera.

"Untuk mencapai performa maksimal dan terlindungi, perlu penanganan penting terkait faal dan anatominya, terutama berkaitan dengan cedera," kata Firmansyah.

Menurutnya, cedera olahraga memiliki karakteristik berbeda dengan cedera keseharian sehingga tidak bisa ditangani sembarangan.

Melalui teknik terapi berbasis ilmu tubuh dan mekanisme gerak, terapis olahraga membantu menjaga kondisi atlet sebagai aset utama yang harus dilindungi.

Baca Juga: Tiongkok Kembangkan Robot Terapis Pijat Tradisional untuk Kesehatan dan Terapi

Firmansyah menyebut terapi olahraga memiliki fondasi ilmu yang kuat, berbeda dengan massage atau pijat tradisional.

"Terapis olahraga minimal memiliki pendidikan sarjana olahraga, memahami mekanisme tubuh, teknik olahraga dan tahu bagaimana menangani cedera akibat kesalahan gerak," jelasnya.

Dengan bekal akademik tersebut, terapis olahraga mampu menganalisis penyebab cedera secara spesifik dan memberikan intervensi yang terukur.

Profesi Baru yang Semakin Diminati

PTOI mencatat meningkatnya minat terhadap profesi terapi olahraga, terutama dari mahasiswa dan praktisi olahraga yang tidak memilih jalur kepelatihan.

Baca Juga: 7 Olahraga Tanpa Alat yang Paling Efektif untuk Turunkan Berat Badan

Prospeknya dinilai cerah karena hampir semua cabang olahraga membutuhkan tenaga ahli pemulihan dan pencegahan cedera.

Firmansyah mengatakan, layanan terapi olahraga juga relevan bagi masyarakat umum.

"Cedera olahraga bisa dialami siapa saja, bukan hanya atlet. Masyarakat yang aktif berolahraga juga bisa memanfaatkan layanan ini," ujarnya.

Untuk meningkatkan kualitas layanan, PTOI menyiapkan sertifikasi dan uji kompetensi berjenjang bagi terapis olahraga. Penilaian akan dilakukan oleh praktisi senior yang telah berpengalaman di bidangnya.

Baca Juga: Mengapa Olahraga Berlebihan Tidak Mempercepat Penurunan Berat Badan? Ini Penjelasannya

"Uji kompetensinya berlevel, dari tingkat dasar sampai lanjutan. Tujuannya agar profesi ini lebih profesional dan memiliki standar yang jelas," kata Firmansyah.

Standardisasi ini diharapkan memperkuat legitimasi profesi terapis olahraga dan memberi kepastian kompetensi bagi lembaga pembinaan olahraga maupun calon pengguna layanan.

"Kami ada untuk merawat para pelaku olahraga, supaya bisa mendapatkan prestasi maksimal," demikian Firmansyah.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.