Mengenal Tradisi Kerik Gigi Suku Mentawai, Jadi Simbol Kecantikan

AKURAT.CO - Tradisi kerik gigi merupakan tradisi suku Mentawai, salah satu suku tertua di Indonesia yang mendiami daerah barat pulau Sumatera, kepulauan Mentawai.
Tradisi kerik gigi ini ternyata bukan hanya sekedar tradisi yang perlu dilestarikan, melainkan menjadi simbol kecantikan bagi para perempuan suku Mentawai.
Bagi suku Mentawai, memiliki gigi yang runcing artinya menandakan kecantikan, kedewasaan, serta dianggap telah siap menikah dan memiliki anak.
Dan tradisi ini juga dilakukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap suami, dengan selalu tampil cantik di hadapannya.
Selain simbol kecantikan, tradisi kerik gigi juga melambangkan sebagai kedamaian jiwa untuk para wanita.
Baca Juga: 11 Tips Mudah Mengatasi Sakit Gigi Dengan Bahan Alami
Di zaman dulu mereka yang menganut animisme atau sabulungan berkeyakinan bahwa segala sesuatu itu memiliki roh dan jiwa
Karena itu, bila para wanita suku mentawai tidak puas dengan penampilan fisiknya, dipercaya mereka akan terkena penyakit dan ditarik ke dunia lain.
Dari kepercayaan itulah muncul tiga tradisi standar kecantikan di suku Mentawai, yaitu memiliki telinga yang panjang, menghias tubuh dengan tato, dan memiliki gigi yang runcing.
Dalam proses melakukan tradisi kerik gigi akan dilakukan secara sadar tanpa dibius. Proses peruncingan gigi ini biasa dilakukan oleh ketua adat, orang tua, dan keluarga terdekat dari sang perempuan.
Baca Juga: 6 Bahaya Gigi Bolong Jika Dibiarkan, Bisa Berisiko Fatal
Alat yang digunakan juga tidak boleh sembarangan, menggunakan sebuah besi atau kayu yang sudah diasah.
Satu persatu gigi akan diruncingkan selama sekitar 30 menit dengan sambil menggigit pisang hijau guna menahan rasa sakit. Dari menahan rasa sakit inilah diyakini sebagai proses penemuan jati diri.
Namun, saat ini tradisi kerik gigi tidak lagi diwajibkan untuk para wanita suku Mentawai, tradisi ini mulai ditinggalkan karena mereka sudah mengenal agama.
Mulai dari penganut Kristen Protestan, Kristen Katolik, dan Islam.
Meski begitu, tetap ada beberapa dari mereka yang menganut Sabulungan dan tetap melanjutkan tradisi kerik gigi ini dalam kepercayaannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








