Liburan ke Jepang Kini Makin Mahal, Ini 6 Biaya yang Sering Terlupakan Wisatawan Indonesia

AKURAT.CO Mendapatkan tiket pesawat promo ke Jepang sering dianggap sebagai langkah tersulit dalam merencanakan liburan. Setelah tiket berhasil diamankan dan hotel sudah dipesan, banyak orang merasa anggaran perjalanan sudah aman. Namun kenyataannya, biaya liburan Jepang sering kali membengkak bukan karena harga tiket atau penginapan, melainkan akibat sejumlah pengeluaran kecil yang luput dari perhitungan sejak awal.
Beberapa biaya yang paling sering terlupakan wisatawan Indonesia antara lain:
Kenaikan biaya visa Jepang.
Transportasi lokal yang tidak selalu tercakup dalam JR Pass.
City tax hotel.
Tambahan biaya bagasi.
Reservasi atraksi wisata.
Pengeluaran tak terduga akibat gangguan perjalanan.
Sekilas nominalnya mungkin terlihat tidak terlalu besar. Namun jika diakumulasikan, berbagai biaya tersebut dapat menambah pengeluaran hingga jutaan rupiah dan membuat anggaran liburan meleset jauh dari rencana.
Fenomena ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya minat masyarakat Indonesia untuk berlibur ke Jepang. Karena itu, memahami struktur biaya perjalanan secara menyeluruh kini sama pentingnya dengan berburu tiket promo atau menentukan destinasi wisata.
Minat Liburan ke Jepang Terus Meningkat, tetapi Biaya Perjalanan Ikut Berubah
Jepang masih menjadi salah satu destinasi luar negeri favorit wisatawan Indonesia. Mulai dari keindahan musim semi, wisata kuliner, pusat perbelanjaan, hingga budaya yang unik membuat Negeri Sakura terus menjadi pilihan utama bagi wisatawan yang ingin berlibur ke luar negeri.
Data Japan National Tourism Organization (JNTO) menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Mei 2026, sebanyak 327.000 wisatawan Indonesia mengunjungi Jepang. Angka tersebut meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, meningkatnya jumlah wisatawan juga menunjukkan semakin banyak masyarakat Indonesia yang melakukan perjalanan secara mandiri atau free independent traveler (FIT). Mereka menyusun itinerary sendiri, memilih hotel sesuai anggaran, hingga menentukan moda transportasi yang dianggap paling hemat.
Namun, kebebasan tersebut juga membawa tantangan tersendiri.
Tidak sedikit wisatawan yang baru menyadari adanya berbagai biaya tambahan ketika proses keberangkatan sudah dekat, bahkan saat sudah tiba di Jepang. Akibatnya, anggaran yang semula terasa cukup justru cepat terkuras karena pengeluaran yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam daftar perencanaan.
Fenomena ini juga tercermin dari tren yang diamati Allianz Utama Indonesia. Hingga Juni 2026, perusahaan mencatat lebih dari 41.000 pembelian polis Asuransi Perjalanan Internasional, mencerminkan meningkatnya antusiasme masyarakat Indonesia untuk bepergian ke luar negeri sekaligus semakin tingginya kesadaran akan pentingnya mempersiapkan perjalanan secara lebih matang.
Menurut Ignatius Hendrawan, Direktur & Chief Technical Officer Allianz Utama Indonesia, banyak wisatawan masih berfokus pada dua hal utama, yakni tiket pesawat dan itinerary, padahal keduanya hanyalah sebagian dari keseluruhan persiapan perjalanan.
"Saat merencanakan perjalanan, banyak orang fokus mencari tiket dengan harga terbaik atau menyusun itinerary yang padat. Padahal, pengalaman liburan yang nyaman juga ditentukan oleh seberapa matang persiapan yang dilakukan sejak sebelum keberangkatan. Selain melakukan riset mengenai destinasi dan menyusun anggaran, wisatawan juga perlu mempertimbangkan perlindungan yang tepat sebagai bagian dari persiapan," ujar Ignatius Hendrawan melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Senin, 6 Juli 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa menyusun anggaran perjalanan kini tidak lagi sekadar menghitung biaya tiket pesawat dan hotel. Wisatawan juga perlu memahami berbagai pengeluaran yang mungkin muncul selama perjalanan agar tidak mengalami kejutan finansial di negara tujuan.
Biaya Pertama yang Sering Terlupakan: Kenaikan Biaya Visa Jepang
Ketika membicarakan biaya liburan ke Jepang, sebagian besar orang langsung menghitung harga tiket pesawat, akomodasi, dan uang saku. Padahal, salah satu komponen yang kini mengalami perubahan cukup signifikan justru berasal dari tahap paling awal, yaitu pengurusan visa.
Mulai 1 Juli 2026, Pemerintah Jepang resmi menaikkan biaya pengajuan visa bagi wisatawan asing. Untuk single-entry visa, tarif yang sebelumnya 3.000 yen meningkat menjadi 15.000 yen. Sementara itu, biaya multiple-entry visa naik dari 6.000 yen menjadi 30.000 yen.
Perubahan ini membuat biaya administrasi perjalanan menjadi jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Bagi wisatawan yang bepergian bersama keluarga, dampaknya tentu akan semakin terasa. Sebagai ilustrasi, sebuah keluarga beranggotakan empat orang yang seluruhnya mengajukan visa sekali masuk harus mengalokasikan biaya yang jauh lebih besar hanya untuk pengurusan visa dibandingkan sebelumnya. Dana tersebut tentu akan memengaruhi total anggaran liburan, bahkan sebelum mereka membeli tiket atraksi atau menikmati kuliner di Jepang.
Inilah alasan mengapa calon wisatawan perlu memperbarui informasi sebelum menyusun anggaran perjalanan. Banyak artikel atau video perjalanan yang beredar di internet masih menggunakan referensi biaya lama, sehingga angka yang ditampilkan tidak lagi sesuai dengan kondisi terkini.
Kenaikan Biaya Visa Bukan Satu-Satunya Penyebab Liburan Terasa Lebih Mahal
Meski kenaikan tarif visa cukup menyita perhatian, sebenarnya komponen ini bukan penyebab utama membengkaknya pengeluaran wisatawan.
Justru, pengalaman banyak pelancong menunjukkan bahwa biaya-biaya kecil yang muncul selama perjalanan sering kali memberikan dampak lebih besar terhadap total anggaran.
Misalnya, seseorang berhasil mendapatkan tiket promo sehingga merasa telah menghemat jutaan rupiah. Namun penghematan tersebut perlahan berkurang karena adanya berbagai pengeluaran yang tidak diperhitungkan sejak awal, mulai dari transportasi lokal, pajak hotel, tambahan bagasi, hingga biaya masuk destinasi wisata.
Fenomena ini menunjukkan bahwa menyusun anggaran liburan bukan sekadar mencari harga termurah, melainkan memahami seluruh struktur biaya yang akan muncul sejak keberangkatan hingga kembali ke Indonesia.
Dengan kata lain, wisatawan yang memiliki perencanaan lebih detail justru berpeluang menikmati liburan yang lebih tenang. Mereka tidak perlu terus-menerus mengurangi pengeluaran di tengah perjalanan hanya karena anggaran habis lebih cepat dari perkiraan.
Sayangnya, masih ada satu pos pengeluaran yang paling sering membuat wisatawan Indonesia salah menghitung budget, yaitu biaya transportasi selama berada di Jepang. Banyak orang langsung membeli Japan Rail Pass (JR Pass) karena menganggapnya selalu menjadi pilihan paling hemat, padahal setelah adanya penyesuaian harga, anggapan tersebut tidak selalu benar. Pembahasan mengenai hal ini akan diulas pada bagian berikutnya.
Baca Juga: Jepang Batasi Wisata ke Pemandian Monyet Salju, Ulah Turis Dinilai Sudah Kelewatan
Baca Juga: Indonesia-Jepang Sepakati Kerja Sama Industri Pertahanan dan Pengembangan Militer
Biaya Kedua: Jangan Asal Membeli JR Pass, Belum Tentu Paling Hemat
Selama bertahun-tahun, Japan Rail Pass (JR Pass) dikenal sebagai solusi terbaik untuk menghemat biaya transportasi di Jepang. Tak sedikit blog perjalanan maupun konten media sosial yang masih menyebut JR Pass sebagai "barang wajib" bagi wisatawan asing.
Namun, kondisi tersebut sudah berubah.
Setelah adanya penyesuaian harga, JR Pass tidak lagi otomatis menjadi pilihan paling ekonomis untuk semua jenis perjalanan. Sayangnya, masih banyak wisatawan Indonesia yang membeli pass ini tanpa menghitung rute yang benar-benar akan mereka tempuh.
Sebagai contoh, wisatawan yang menghabiskan lima hingga tujuh hari hanya di Tokyo, atau hanya melakukan satu kali perjalanan menggunakan Shinkansen, sering kali justru mengeluarkan biaya lebih besar dibanding jika membeli tiket kereta secara terpisah.
Sebaliknya, JR Pass akan lebih menguntungkan bagi wisatawan yang berpindah-pindah kota dalam waktu singkat, misalnya Tokyo–Kyoto–Osaka–Hiroshima, dengan frekuensi perjalanan menggunakan jaringan kereta JR yang cukup tinggi.
Perubahan ini menunjukkan bahwa tidak ada lagi solusi transportasi yang berlaku untuk semua orang. Menghitung rute sejak awal kini jauh lebih penting dibanding mengikuti rekomendasi lama yang beredar di internet.
Dengan sedikit riset, wisatawan bisa membandingkan harga JR Pass, regional pass, maupun tiket reguler sehingga anggaran transportasi menjadi lebih efisien.
Biaya Ketiga: City Tax Hotel yang Sering Baru Disadari Saat Check-in
Banyak wisatawan mengira biaya hotel sudah selesai dibayarkan ketika melakukan pemesanan secara daring. Padahal, beberapa kota di Jepang menerapkan city tax atau pajak akomodasi yang harus dibayarkan langsung saat proses check-in maupun check-out.
Nominalnya memang relatif kecil jika dilihat per malam. Namun, apabila menginap selama beberapa hari atau bepergian bersama keluarga, total pengeluarannya tetap perlu diperhitungkan.
Karena tidak selalu tercantum secara jelas dalam perhitungan awal, biaya ini sering membuat wisatawan merasa anggaran mereka "bocor" sedikit demi sedikit.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa pengeluaran kecil sering kali tidak terasa ketika muncul satu per satu, tetapi cukup signifikan ketika dijumlahkan pada akhir perjalanan.
Biaya Keempat: Bagasi Tambahan yang Hampir Selalu Bertambah Saat Pulang
Sebelum berangkat, banyak orang merasa kapasitas bagasi yang dimiliki sudah lebih dari cukup.
Namun suasana berubah ketika memasuki hari-hari terakhir liburan.
Godaan membeli oleh-oleh khas Jepang, mulai dari camilan, kosmetik, mainan, hingga barang elektronik membuat koper yang awalnya masih longgar berubah menjadi penuh.
Akibatnya, tidak sedikit wisatawan yang akhirnya membeli tambahan bagasi di bandara dengan harga yang jauh lebih mahal dibanding jika memesannya sejak awal.
Situasi ini hampir selalu berulang, terutama bagi wisatawan yang baru pertama kali ke Jepang. Mereka sering meremehkan jumlah barang yang akan dibawa pulang.
Karena itu, memasukkan anggaran khusus untuk tambahan bagasi sejak awal merupakan langkah yang jauh lebih bijak daripada harus membayar biaya kelebihan bagasi di menit-menit terakhir.
Biaya Kelima: Reservasi Atraksi dan Pengeluaran yang Sering Terlewat
Kesalahan berikutnya adalah menganggap seluruh destinasi wisata dapat dikunjungi secara gratis atau cukup membayar tiket masuk di lokasi.
Padahal, beberapa atraksi populer di Jepang kini mewajibkan reservasi terlebih dahulu atau memiliki sistem tiket dengan waktu kunjungan tertentu.
Selain tiket masuk, wisatawan juga sering mengeluarkan biaya tambahan untuk loker penyimpanan barang, transportasi menuju lokasi wisata, hingga makanan dan minuman di area destinasi.
Jika seluruh komponen tersebut tidak dimasukkan dalam anggaran sejak awal, total biaya liburan akan jauh berbeda dibanding perkiraan semula.
Simulasi Sederhana: Mengapa Budget Liburan Bisa Meleset?
Bayangkan seorang wisatawan telah menyiapkan dana sekitar Rp25 juta untuk liburan tujuh hari ke Jepang.
Ia merasa seluruh kebutuhan telah dihitung karena tiket pesawat dan hotel sudah dibayar.
Namun selama perjalanan muncul berbagai pengeluaran tambahan, seperti kenaikan biaya visa, transportasi lokal di luar perkiraan, city tax hotel, tambahan bagasi untuk oleh-oleh, hingga tiket beberapa atraksi yang sebelumnya tidak masuk dalam perencanaan.
Tidak ada satu pun pengeluaran tersebut yang terlihat sangat besar.
Tetapi ketika dijumlahkan, totalnya bisa mencapai beberapa juta rupiah.
Inilah alasan mengapa banyak wisatawan pulang dengan pengeluaran yang jauh lebih tinggi dibanding anggaran awal.
Liburan Mahal Bukan Selalu Karena Harga Tiket Pesawat
Ada satu pola menarik yang terlihat dari perilaku wisatawan saat merencanakan perjalanan.
Sebagian besar orang rela menghabiskan waktu berjam-jam membandingkan harga tiket pesawat demi menghemat beberapa ratus ribu rupiah. Namun, mereka sering melewatkan berbagai biaya kecil yang justru muncul berkali-kali selama perjalanan.
Padahal, pengeluaran seperti transportasi lokal, pajak hotel, tambahan bagasi, hingga biaya administrasi memiliki efek akumulatif yang jauh lebih besar terhadap total anggaran.
Dengan kata lain, strategi menghemat liburan saat ini tidak lagi cukup hanya berburu promo. Yang lebih penting adalah memahami seluruh biaya yang akan muncul sejak sebelum keberangkatan hingga kembali ke Indonesia.
Biaya Keenam: Risiko Perjalanan yang Bisa Memunculkan Pengeluaran Tak Terduga
Selain biaya yang sudah dapat diprediksi, wisatawan juga perlu menyiapkan anggaran untuk menghadapi risiko yang datang tanpa diduga.
Banyak orang menganggap risiko perjalanan identik dengan kejadian besar seperti bencana alam. Padahal, berdasarkan pengalaman penanganan klaim, gangguan yang paling sering terjadi justru merupakan masalah operasional yang tampak sederhana.
Data Allianz Utama Indonesia sepanjang 2026 menunjukkan bahwa penundaan perjalanan menjadi klaim yang paling banyak diajukan, yaitu mencapai 2.123 kasus. Selanjutnya adalah perlindungan terhadap bagasi sebanyak 1.087 kasus, serta 579 klaim biaya medis dan biaya terkait medis di luar negeri.
Khusus untuk perjalanan ke Jepang, pola yang muncul juga menarik. Penundaan perjalanan tetap menjadi klaim terbanyak dengan 188 kasus, disusul gangguan perjalanan dan kehilangan transportasi lanjutan sebanyak 106 kasus, biaya medis sebanyak 87 kasus, serta perlindungan terhadap bagasi sebanyak 84 kasus.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa biaya tak terduga selama liburan lebih sering dipicu oleh keterlambatan penerbangan, koper yang terlambat tiba, atau kebutuhan berobat, bukan semata-mata karena kejadian ekstrem.
Bagi wisatawan yang memiliki jadwal perjalanan padat, satu kali penundaan penerbangan saja dapat memicu biaya tambahan berupa perubahan jadwal transportasi, akomodasi, maupun aktivitas wisata yang telah dipesan sebelumnya.
Perencanaan yang Matang Tidak Hanya Soal Anggaran
Menurut Ignatius Hendrawan, menyusun anggaran memang penting, tetapi wisatawan juga perlu memikirkan bagaimana menghadapi risiko yang mungkin muncul selama perjalanan.
"Minat masyarakat Indonesia untuk bepergian ke luar negeri terus meningkat, termasuk ke Jepang. Karena itu, kami mengajak masyarakat untuk mempersiapkan perjalanan secara menyeluruh, tidak hanya dengan menyusun itinerary dan anggaran, tetapi juga mempertimbangkan perlindungan Asuransi Perjalanan. Dengan begitu, wisatawan dapat lebih fokus menikmati pengalaman selama liburan tanpa harus terbebani oleh risiko finansial apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Ignatius Hendrawan.
Sebagai bagian dari perlindungan tersebut, Allianz Utama Indonesia menghadirkan Allianz TravelPro, produk asuransi perjalanan yang dapat dibeli secara daring melalui OptimAll. Produk ini memberikan berbagai manfaat perlindungan, mulai dari biaya medis di luar negeri, evakuasi medis darurat, penundaan penerbangan, kehilangan bagasi, hingga berbagai ketidaknyamanan lain yang dapat terjadi selama perjalanan internasional.
Kehadiran perlindungan perjalanan tentu bukan untuk menggantikan perencanaan yang matang, melainkan menjadi lapisan perlindungan tambahan apabila terjadi situasi di luar kendali wisatawan.
Liburan Hemat Dimulai dari Anggaran yang Lengkap, Bukan Sekadar Murah
Meningkatnya jumlah wisatawan Indonesia ke Jepang menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk menjelajahi Negeri Sakura masih sangat tinggi. Namun, perubahan biaya perjalanan membuat cara menyusun anggaran juga perlu ikut berubah.
Jika dahulu fokus utama hanya pada tiket pesawat dan hotel, kini wisatawan perlu memasukkan berbagai komponen lain seperti biaya visa terbaru, transportasi lokal, city tax, tambahan bagasi, reservasi atraksi, hingga dana darurat apabila terjadi gangguan perjalanan.
Perencanaan yang menyeluruh tidak hanya membantu mengontrol pengeluaran, tetapi juga membuat wisatawan lebih tenang menikmati setiap momen liburan.
Pada akhirnya, liburan yang menyenangkan bukanlah perjalanan dengan biaya paling murah, melainkan perjalanan yang dipersiapkan dengan matang sehingga tidak dipenuhi pengeluaran yang mengejutkan di tengah perjalanan.
Baca Juga: Tren Kuliner Jepang Meningkat, Archipelago Luncurkan 60 Seconds to Tokyo
Baca Juga: Sunset, Kuliner Jepang Premium, hingga Pantai Privat, Ini Pengalaman Weekend di ALOHA PIK2
FAQ
Apa saja biaya yang sering terlupakan saat liburan ke Jepang?
Selain tiket pesawat dan hotel, wisatawan sering melupakan biaya visa, transportasi lokal, city tax hotel, tambahan bagasi, reservasi atraksi wisata, serta pengeluaran tak terduga akibat gangguan perjalanan.
Mengapa biaya liburan ke Jepang terasa semakin mahal?
Selain adanya kenaikan biaya visa, banyak wisatawan belum memasukkan berbagai pengeluaran kecil ke dalam anggaran. Akumulasi biaya tersebut membuat total pengeluaran jauh lebih besar dibanding perkiraan awal.
Apakah JR Pass masih menjadi pilihan paling hemat?
Tidak selalu. Setelah adanya penyesuaian harga, JR Pass lebih menguntungkan bagi wisatawan yang melakukan banyak perjalanan antarkota. Untuk perjalanan yang lebih singkat atau hanya mengunjungi beberapa kota, tiket reguler atau regional pass bisa menjadi pilihan yang lebih ekonomis.
Apa itu city tax di Jepang?
City tax adalah pajak akomodasi yang diterapkan di beberapa kota di Jepang dan biasanya dibayarkan langsung di hotel saat check-in atau check-out. Besarnya bervariasi tergantung kebijakan daerah dan jenis akomodasi.
Mengapa tambahan bagasi perlu masuk dalam anggaran?
Banyak wisatawan membeli oleh-oleh lebih banyak dari perkiraan sehingga membutuhkan tambahan kapasitas bagasi. Memesan bagasi sejak awal umumnya lebih murah dibanding membelinya di bandara.
Mengapa asuransi perjalanan penting saat liburan ke Jepang?
Asuransi perjalanan dapat membantu mengurangi beban finansial apabila terjadi penundaan penerbangan, kehilangan bagasi, atau kebutuhan perawatan medis selama berada di luar negeri, sehingga wisatawan dapat lebih fokus menikmati perjalanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








