Akurat
Pemprov Sumsel

Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Berbagai Tradisi Dan Mitos Di Akhir Bulan Safar

| 12 September 2023, 13:45 WIB
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Berbagai Tradisi Dan Mitos Di Akhir Bulan Safar

AKURAT.CO, Rebo pungkasan atau rebo wekasan menjadi salah satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, Sunda, dan Madura. Rebo wekasan dipercaya sebagai sumber datangnya penyakit dan marabahaya.

Tahun 2023 ini, Rebo wekasan jatuh pada Rabu, 13 September 2023 atau 28 Safar 1445 Hijriah.

Lantas apa itu rebo wekasan, mitos larangan, dan tradisi yang dilakukan? Simak penjelasannya berikut ini.

Baca Juga: Rebo Wekasan Dikatakan Sebagai Hari Sial, Benarkah?

Apa itu rebo wekasan?

Rabu pungkasan atau rebo wekasan merupakan istilah Jawa yang merujuk pada tradisi yang dilakukan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Islam.

Rebo dalam bahasa Jawa adalah hari Rabu, sedangkan wekasan artinya terakhir. Rabu wekasan dianggap menjadi hari paling sial sepanjang tahun sehingga perlu dilakukan ritual untuk memohon perlindungan pada Allah.

Rebo wekasan merupakan hasil perpaduan kearifan lokal dengan nilai-nilai agama Islam.

Tradisi rebo wekasan yang merupakan tradisi Jawa dilakukan dengan ritual keagamaan Islam.

Sejarah rebo wekasan

Dikutip dari laman resmi Desa Suci Kabupaten Gresik, sejarah rebo wekasan dapat ditelusuri dari masa penyebaran Islam di Indonesia. Masyarakat Jawa meyakini hari Rabu terakhir pada Bulan Safar merupakan hari naas dari kepercayaan lama kaum Yahudi.

Sementara itu dikutip dari jabar.nu.or.id, tradisi rebo wekasan di Indonesia diyakini muncul pada abad ke-17 dan pertama kali dilaksanakan pada masa Wali Songo. Keberadaan tradisi ini merujuk pada sebuah hadis Rasulullah SAW yang menanggapi pandangan tentang adanya kesialan atau keburukan yang melekat pada bulan Safar.

Hadis tersebut menjawab dengan perintah untuk tidak mencela waktu dan ketetapan Allah, serta anjuran untuk tetap beriman kepada qadha dan qadar-Nya.

Oleh karena itu, banyak ulama kemudian lebih menekankan dengan menyebut dengan ‘Shafar al-Khair’ atau bulan Shafar yang baik.

Sementara tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat dalam menyambut rebo wekasan bersumber pada amaliyah seperti salat, zikir, doa, dan tabaruk.

Tradisi rebo wekasan dilakukan sebagai bentuk permohonan turunnya kebaikan dan dan perlindungan dari segala macam musibah dan cobaan dari Allah SWT.

Pelaksanaan tradisi rebo wekasan juga dipercaya dapat menolak bala karena pada bulan Safar, Allah menurunkan lebih dari 500 macam penyakit.

Berbagai tradisi rebo wekasan di Indonesia

Perayaan terkait hari Rabu terakhir di bulan Safar selain disebut rebo wekasan juga dikenal dengan berbagai istilah lain seperti Rabu abeh, rebo kasan, rebo pungkasan, dan sebagainya.

Perayaannya pun dilaksanakan dengan cara berbeda-beda sesuai dengan tradisi di daerah masing-masing.

Baca Juga: Rebo Wekasan, Bolehkah Kita Menganggapnya sebagai Rebo Keberuntungan?

1. Rabu abeh, Aceh

Dikutip dari laman Dinas Pariwisata Kabupaten Aceh Selatan, Rabu abeh adalah tradisi yang dilakukan tiap hari Rabu terakhir bulan Safar yang telah dilakukan secara turun-temurun. Tradisi tolak bala tersebut merupakan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat Aceh Barat dan Aceh Selatan.

Mulanya tradisi ini dilakukan dengan memotong kerbau dan membuang bagian kepalanya ke laut untuk menolak bala (bencana), namun kini tradisi tersebut diganti dengan pembacaan salawat, zikir dan doa.

2. Rebo pungkasan atau rebo wekasan, Bantul

Dikutip dari laman Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, masyarakat Desa Wonokromo, Bantul mengenalnya sebagai tradisi rebo pungkasan atau rebo wekasan.

Konon pada hari Rabu terakhir dalam bulan Safar itu merupakan hari pertemuan antara Sri Sultan HB I dengan mBah Kyai Faqih Usman yang bisa menyembuhkan segala penyakit dan dapat memberikan berkah untuk kesuksesan usaha atau untuk tujuan-tujuan tertentu.

Dulu upacara ini berada di tempuran Kali Opak dan Kali Gajahwong, namun kemudian dipindahkan ke Lapangan Wonokromo yang terletak di depan balai desa.

Puncak acara rebo wekasan di Desa Wonokromo biasanya dilakukan pada Selasa malam atau malam Rabu dengan mengarak lemper raksasa yang selanjutnya dibagi-bagikan kepada para pengunjung.

3. Dudus, Banten

Kampung Karundang Tengah, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang mempunyai tradisi bernama Dudus atau mandi kembang tujuh rupa yang sudah ada sejak masa Kesultanan Banten. Tradisi Dudus dilakukan pada Rabu akhir bulan Safar, dengan diikuti dengan tradisi sedekah bumi pada malam harinya.

Sebelum tradisi Dudus dilakukan, terlebih dahulu masyarakat melakukan salat dan riungan. Tujuan tradisi ini antara lain agar panjang umur, sehat, banyak rezeki, terhindar dari bahaya, dekat jodoh, dan lain sebagainya.

4. Rebo wekasan atau rebo pungkasan, Gresik

Dikutip dari laman Disparekrafbudpora Kabupaten Gresik, rebo wekasan atau rebo pungkasan juga masih dipertahankan oleh masyarakat di Desa Suci, Kecamatan Manyar.

Bentuk perayaan rebo wekasan di Desa Suci adalah sedekah bumi berupa kegiatan doa bersama dan selamatan di sekitar Telaga Suci atau sendang dekat Masjid Mambaul Thoat.

5. Petik Laut, Banyuwangi

Masyarakat di sekitar Pantai Waru Doyong, Banyuwangi merayakan rebo wekasan dengan tradisi petik laut.

Petik laut dilaksanakan dengan cara menyelenggarakan doa bersama yang diikuti dengan ritual melarung sesaji yang diletakkan dalam sebuah kapal kecil ke tengah laut. Tradisi doa dan petik laut ini dipercaya masyarakat setempat sebagai cara untuk menolak bala.

6. Arba Mustamir, Kalimantan Selatan

Arba Mustamir dalam bahasa Arab yang artinya adalah Rabu berkelanjutan.

Masyarakat Kalimantan Selatan kemudian memaknai Arba Mustamir sebagai hari Rabu terakhir di bulan Safar. Perayaan dilaksanakan dengan berbagai cara mulai dari pelaksanaan salat sunah sampai membaca ayat suci dan doa-doa secara berjamaah.

7. Mandi Safar, Maluku Tengah

Dikutip dari laman Kemendikbud, masyarakat di Negeri Hitu Lama, Kabupaten Maluku Tengah merayakan rebo wekasan dengan tradisi mandi Safar.

Masyarakat masih meyakini bahwa ritual mandi Safar akan mendatangkan keselamatan dan menghindarkan dari marabahaya atau musibah. Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun silam, dengan beberapa rangkaian acara termasuk doa bersama, membuat panganan berupa lamet, dan ditutup dengan pelaksanaan mandi di pantai.

Mitos rebo wekasan

Berikut ini deretan mitos rebo wekasan yang masih banyak dipercayai masyarakat di Indonesia:

1. Larangan menikah

Mitos pertama yang banyak dipercaya masyarakat tentang rebo wekasan ialah larangan menikah.

Banyak masyarakat yang percaya jika melakukan pernikahan saat rebo wekasan bisa berakibat buruk.

Orang yang menggelar pernikahan saat rebo wekasan diyakini tak akan berlangsung lama dan akan berakhir dengan perceraian.

2. Dilarang keluar rumah

Mitos selanjutnya yang dipercaya ialah dilarang pergi keluar rumah saat rebo wekasan. Hal ini lantaran jika bepergian keluar rumah dipercaya akan mendapatkan musibah seperti kecelakaan dan lainnya.

Itu mengapa saat malam rebo wekasan kita dianjurkan untuk berdiam diri di rumah sambil memanjatkan doa kepada Allah SWT.

3. Dianggap dapat mendatangkan musibah

Dalam kepercayaan masyarakat Arab Kuni, rebo wekasan dianggap sebagai hari diturunkannya bala musibah untuk setahun (rebo wekasan).

Sehingga dianjurkan untuk mengingat Allah dan banyak beristigfar, dilarang bepergian jauh kecuali ada keperluan yang mendesak.

4. Larangan berhubungan intim

Rebo wekasan dipercaya membawa energi mistik atau spiritual yang kuat yang dapat memengaruhi aktivitas hubungan intim dan membawa dampak buruk pada pasangan yang melakukannya.

Nah, itulah penjelasan terkait rebo wekasan. Semoga ulasan di atas bisa menambah pengetahuan ya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R