Apa Itu Badai Matahari? Ini Penjelasan dan Dampaknya

AKURAT.CO Pernahkah Anda mendengar istilah badai matahari? Fenomena alam semesta ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, namun dampaknya bisa terasa hingga ke Bumi.
Seperti diketahui, sebuah badai matahari yang kuat diperkirakan akan melanda bumi pada akhir pekan ini.
Baca Juga: 6 Dampak Badai Matahari 2025 Pada Bumi, Bisa Sebabkan Kiamat Internet
Sebelumnya, Badan Oseanik dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) telah mengeluarkan peringatan mengenai badai geomagnetik yang signifikan, yang diperkirakan terjadi antara Kamis (10/10/2024) dan Jumat (11/10/2024).
Peringatan ini menyusul terdeteksinya letusan matahari di awal pekan.
Ketua Tim Bidang Geofisika Potensial BMKG, Syrojudin, menyatakan bahwa badai matahari ini memiliki indeks (G4) dan akan berlangsung mulai kemarin hingga Minggu (13/10) mendatang.
“Puncak badainya mulai terjadi pada Jumat, 11 Oktober 2024,” kata Syrojudin dikutip pada Sabtu (12/10/2024).
Lantas, apa sebenarnya badai matahari itu dan bagaimana dampaknya bagi kehidupan manusia?
Pengertian Badai Matahari
Mengutip dari laman NASA, badai matahari adalah peristiwa ledakan di Matahari yang melepaskan sejumlah besar energi dalam bentuk radiasi elektromagnetik dan partikel bermuatan.
Ledakan ini biasanya terjadi di sekitar bintik matahari, yaitu daerah pada permukaan Matahari dengan aktivitas magnetik yang sangat kuat.
Energi yang dilepaskan dari badai matahari dapat mengganggu medan magnet Bumi. Partikel-partikel bermuatan dari Matahari yang terpancar ke Bumi dapat menyebabkan aurora, yaitu cahaya berwarna-warni yang indah di langit kutub.
Namun, di sisi lain, badai matahari juga dapat menimbulkan gangguan pada sistem komunikasi, navigasi, dan jaringan listrik di Bumi.
Sementara itu, BMKG menjelaskan bahwa Ledakan Matahari merupakan pelepasan radiasi elektromagnetik besar yang berlangsung beberapa menit hingga jam, disebabkan oleh bintik Matahari 3842.
Dampak Badai Matahari di Indonesia
Di Indonesia, badai magnet ini dapat menyebabkan gangguan pada komunikasi radio HF dan menurunkan akurasi sistem navigasi satelit, termasuk GPS.
Namun, dampaknya tidak akan sekuat yang terjadi di wilayah lintang tinggi, seperti di sekitar kutub Bumi.
Ketua Tim Geofisika BMKG, Syrojudin, mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat menggunakan internet dan komunikasi radio selama badai.
Ia juga menyarankan pilot drone untuk tidak menerbangkan pesawat tanpa awak, mengingat risiko kehilangan kendali dan penurunan akurasi GPS.
“BMKG secara berkala akan terus memperbaharui informasi fenomena badai matahari ini kepada masyarakat berdasarkan pengamatan dan analisis yang terukur sebagai acuan keselamatan dalam menjalani aktivitas sehari-hari,” jelas Syrojudin.
Baca Juga: Bisa Berbulan-bulan! Ini 5 Fakta Menarik Kiamat Internet Akibat Badai Matahari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal





