Klaim Galon Bebas BPA Picu Pertanyaan Soal Keamanan Produk Air Minum yang Selama Ini Beredar

AKURAT.CO Iklan terbaru dari salah satu produsen air minum dalam kemasan yang menyatakan bahwa galon baru mereka kini “100% aman BPA” justru memicu kekhawatiran publik.
Klaim tersebut secara tidak langsung mengakui bahwa selama puluhan tahun, jutaan keluarga Indonesia telah mengonsumsi air dari galon lama yang mengandung BPA, senyawa kimia yang berpotensi membahayakan kesehatan.
“Dari sisi komunikasi, ini bisa dibaca sebagai pengakuan tidak langsung bahwa produk mereka sebelumnya mengandung zat yang berisiko,” kata Koordinator Riset Satgas Anti Hoaks PWI Pusat sekaligus Dosen Komunikasi Universitas Dian Nusantara, Algooth Putranto, Kamis (31/7/2025).
Ironisnya, peluncuran galon baru bebas BPA tersebut tidak diikuti dengan penarikan galon lama dari pasaran.
Akibatnya, masyarakat kini dihadapkan pada dua jenis galon dengan standar keamanan berbeda: galon lama yang mengandung BPA dan galon baru yang bebas dari senyawa itu.
“Secara etika, kejujuran perusahaan patut dipertanyakan. Selama ini mereka selalu membantah risiko BPA, namun kini justru diam-diam memasarkan produk baru yang bebas dari BPA,” ujar Algooth.
Penggunaan galon berbahan polikarbonat yang mengandung BPA oleh pelaku industri air minum telah berlangsung selama lebih dari empat dekade. Padahal, peringatan terhadap bahaya BPA bukanlah isu baru.
Baca Juga: Hammersonic 2026 Pindah Haluan: Sambut Era Baru di NICE PIK Bareng MCR
Lembaga perlindungan konsumen, akademisi, dan bahkan otoritas pengawas pangan nasional sudah menyuarakan kekhawatiran soal ini sejak beberapa tahun lalu.
Di tingkat global, sejumlah negara seperti Uni Eropa, Kanada, dan Cina sudah mengambil langkah tegas dengan membatasi atau bahkan melarang penggunaan BPA dalam kemasan makanan dan minuman sejak 2008.
“Ini seharusnya jadi pelajaran penting: komunikasi korporat tidak boleh manipulatif. Kalau dunia internasional sudah memberi sinyal bahaya, perusahaan seharusnya jujur dari awal,” tegas Algooth.
Menurutnya, langkah memasarkan galon bebas BPA tanpa mengakui bahaya produk lama hanya akan memperkuat persepsi publik bahwa perubahan itu bersifat reaktif, bukan inovatif.
Algooth menyoroti kebijakan ganda yang diterapkan saat ini.
“Kalau galon baru dianggap lebih aman, kenapa galon lama masih dijual? Ini mencerminkan standar ganda dalam perlindungan konsumen,” ujarnya.
Ia menyebut kondisi ini sebagai bentuk corporate double speak, di mana perusahaan di satu sisi menolak narasi bahaya BPA, tetapi di sisi lain secara diam-diam mempersiapkan produk baru demi merespons tekanan pasar.
“Konsumen kelas menengah yang makin sadar kesehatan mendorong perusahaan masuk ke produksi galon bebas BPA. Ini membuktikan bahwa mereka tahu ada masalah pada produk lama,” tambahnya.
Baca Juga: Koleksi Les Fragments dan URUB Hadirkan Dialog Tubuh dan Budaya di JF3 2025
Dalam konteks komunikasi publik yang menuntut transparansi, Algooth menekankan bahwa kejujuran bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban mutlak.
"Jangan sampai masyarakat menjadi korban dari komunikasi korporat yang manipulatif. Karena dalam urusan pangan dan kesehatan, tidak ada ruang untuk standar ganda,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










