PIK 2 Punya Potensi Besar Gaet Generasi Muda untuk Beli Rumah

AKURAT.CO Tren hunian generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, kini mengalami pergeseran signifikan. Mereka tidak lagi mencari rumah besar, melainkan hunian yang lebih ringkas, fungsional, dan terintegrasi dengan kawasan.
Hal ini disampaikan Director of Sales & Marketing PIK2, Lucia Aditjakra dalam acara Property Outlook bertajuk “Membaca Arah Perkembangan dan Peluang Pasar Properti di Tahun 2026” yang digelar dalam rangkaian ASG Expo 2026 di Main Atrium PIK Avenue, Jumat (24/4/2026).
Ia menilai, preferensi generasi muda saat ini sangat berbeda dibanding sebelumnya.
“Generasi sekarang lebih memilih unit yang lebih kecil, tapi harus pintar. Ruangan harus multifungsi karena mereka tidak banyak menghabiskan waktu di rumah,” ujarnya.
Menurutnya, gaya hidup Gen Z yang dinamis membuat mereka lebih sering beraktivitas di luar, seperti bekerja di kafe atau ruang publik.
Karena itu, kawasan hunian harus mampu menyediakan ekosistem yang mendukung mobilitas tinggi, mulai dari konektivitas, fasilitas, hingga ruang komunal.
Dalam konteks ini, kawasan seperti PIK 2 dinilai memiliki potensi besar karena mengusung konsep pengembangan terintegrasi (township).
“Kawasan harus integratif dan punya konektivitas yang baik. Itu penting bagi anak muda sekarang,” jelasnya.
Luciana menambahkan, pengembangan properti saat ini tidak hanya berfokus pada produk hunian, tetapi juga pada keseluruhan pengalaman hidup (liveable), seperti ruang terbuka hijau, area olahraga, pedestrian yang nyaman, hingga fasilitas gaya hidup seperti kafe dan ruang kerja bersama.
Baca Juga: Pemerintah Diminta Adopsi Sistem Pengelolaan Sampah di Nusa Kambangan, Murah dan Punya Nilai Tambah
Hunian Compact Jadi Pintu Masuk Gen Z
Sementara itu, pengamat sekaligus konsultan properti, Anton Sitorus menyoroti tantangan utama yang dihadapi generasi muda, yakni ketimpangan antara kenaikan harga properti dan pertumbuhan pendapatan.
“Pertumbuhan harga properti jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan income. Ini yang membuat generasi muda semakin sulit membeli rumah,” ujarnya.
Menurut Anton, kelompok usia 15–45 tahun—yang mencakup Gen Z hingga milenial—menjadi target pasar utama pengembang. Namun, keterbatasan daya beli membuat hunian compact menjadi solusi awal yang paling realistis.
Ia menjelaskan, kepemilikan rumah kini bersifat bertahap. Generasi muda cenderung membeli hunian kecil terlebih dahulu sesuai kemampuan, lalu meningkat seiring perkembangan karier dan kebutuhan keluarga.
“Biasanya orang beli rumah pertama sesuai kemampuan. Tapi seiring waktu, ketika kebutuhan bertambah, mereka akan upgrade ke rumah yang lebih besar,” jelasnya.
Anton menilai pola ini menjadi siklus alami pasar properti. Hunian compact bukan sekadar solusi sementara, tetapi juga pintu masuk bagi generasi muda untuk memiliki aset.
“Tidak masalah mulai dari kecil. Nanti ketika kebutuhan hidup berubah, mereka akan menyesuaikan lagi,” katanya.
Dengan perubahan preferensi dan strategi pengembang yang semakin adaptif, kawasan seperti PIK 2 dinilai berpeluang menjadi salah satu pusat hunian modern bagi generasi muda—tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga ruang hidup yang dinamis dan terkoneksi.
Anton pun optimistis prospek pasar properti masih besar, didorong oleh kebutuhan hunian yang terus tumbuh.
“Market properti masih sangat besar, karena kebutuhan akan hunian akan terus berkembang mengikuti siklus kehidupan,” pungkasnya.
Baca Juga: OJK Ungkap Likuiditas Valas Longgar, DPK Capai Rp1.525 Triliun
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






