Akurat Logo

Tips Memotret Aurora dengan Kamera Entry-Level, Hasil Tetap Dramatis!

Redaksi Akurat | 18 Mei 2026, 21:39 WIB
Tips Memotret Aurora dengan Kamera Entry-Level, Hasil Tetap Dramatis!
Potret aurora.

AKURAT.CO Fenomena aurora selalu punya daya tarik tersendiri. Cahaya berwarna yang menari di langit malam membuat banyak orang rela bepergian jauh demi menyaksikan dan mengabadikannya lewat kamera.

Namun, tak sedikit yang ragu memotret aurora karena hanya memiliki kamera entry-level.

Padahal, dengan pengaturan yang tepat, kamera sederhana sekalipun tetap mampu menghasilkan foto aurora yang tajam dan dramatis.

Memotret aurora bukan sekadar menekan tombol shutter.

Ada sejumlah hal penting yang perlu diperhatikan, mulai dari pemilihan lokasi, kondisi cuaca, hingga pengaturan kamera agar cahaya aurora bisa tertangkap maksimal tanpa noise berlebihan.

Cari Lokasi Gelap dan Cuaca Cerah

Aurora paling ideal dipotret di lokasi minim polusi cahaya, jauh dari area perkotaan. Cahaya lampu kota dapat mengurangi visibilitas aurora di langit malam.

Selain itu, kondisi cuaca juga sangat menentukan. Langit harus cerah tanpa awan tebal agar aurora terlihat jelas.

Karena itu, fotografer disarankan memantau prakiraan cuaca dan aktivitas aurora melalui Kp Index sebelum berburu aurora.

Gunakan Fokus Manual

Salah satu tantangan terbesar fotografi aurora adalah fokus dalam kondisi gelap. Fokus otomatis biasanya kesulitan bekerja pada malam hari, sehingga fokus manual menjadi pilihan terbaik.

Arahkan fokus ke objek jauh seperti bintang atau cahaya lampu yang tidak terlalu terang. Setelah fokus terlihat tajam melalui live view, hindari mengubah posisi fokus selama pemotretan.

Baca Juga: Dua Jurnalis Republika Ditangkap Israel Saat Ikut Misi Kemanusiaan ke Gaza

Bukaan dan Shutter Speed Jadi Kunci

Untuk menangkap cahaya aurora yang cenderung redup, gunakan bukaan terbesar pada lensa, seperti f/2.8 hingga f/3.5. Bukaan lebar membantu sensor kamera menerima lebih banyak cahaya.

Sementara itu, shutter speed ideal umumnya berada di kisaran 5 hingga 20 detik, tergantung intensitas aurora.

Jika aurora bergerak cepat dan terang, shutter terlalu lama bisa membuat bentuknya blur.

Sebaliknya, aurora redup membutuhkan exposure lebih panjang agar detailnya muncul.

Atur ISO Secukupnya

ISO menjadi aspek penting bagi kamera entry-level karena berkaitan langsung dengan noise. Semakin tinggi ISO, semakin besar kemungkinan muncul grain pada foto.

Sebagai awal, ISO 800 hingga 1600 biasanya cukup aman untuk menghasilkan foto aurora yang terang tanpa noise berlebihan. Namun, setiap kamera memiliki batas kemampuan berbeda sehingga perlu beberapa kali uji coba.

Tripod Wajib Dibawa

Karena menggunakan shutter speed panjang, tripod menjadi perlengkapan wajib saat memotret aurora. Getaran kecil saja dapat membuat foto blur.

Untuk hasil lebih stabil, gunakan timer dua detik atau remote shutter agar kamera tidak terguncang saat tombol ditekan.

Tambahkan Foreground agar Foto Lebih Hidup

Foto aurora akan terlihat lebih menarik jika dilengkapi elemen foreground seperti pepohonan, pegunungan, danau, atau bangunan kecil. Kehadiran objek di daratan membantu memberi skala dan membuat suasana foto terasa lebih hidup.

Menariknya, kamera sering kali mampu menangkap warna aurora lebih kuat dibanding mata manusia.

Aurora yang tampak putih kehijauan secara langsung bisa berubah menjadi gradasi hijau hingga ungu dalam hasil foto.

Karena itu, jangan buru-buru kecewa jika aurora terlihat redup di mata. Dengan pengaturan yang tepat, kamera entry-level tetap bisa menghasilkan foto aurora yang memukau.

Baca Juga: Pakar Hukum: Jangan Ada Campur Tangan Politik dalam Kasus Nadiem

Laporan: Novi Karyanti/magang

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.