Akurat Logo

Cahaya Manthovani, Motor Creative Movement di Balik Inklusiland hingga Jaga Desa Awards

Saeful Anwar | 22 Mei 2026, 16:29 WIB
Cahaya Manthovani, Motor Creative Movement di Balik Inklusiland hingga Jaga Desa Awards
Pemimpin berbagai event nasional melalui PT Navaswara Bhuwana Kencana, Cahaya Manthovani.

AKURAT.CO Di tengah pesatnya perkembangan industri kreatif Indonesia, nama Cahaya Manthovani mulai mencuri perhatian.

Di usia yang relatif muda, ia dipercaya memimpin berbagai event nasional melalui PT Navaswara Bhuwana Kencana dengan pendekatan yang tidak hanya menonjolkan kemegahan acara, tetapi juga pesan sosial, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

Lulusan architectural design di Korea Selatan itu mengaku perjalanan kariernya di industri kreatif berawal dari ketertarikannya terhadap dunia kreativitas yang berkembang kuat di Negeri Ginseng.

“Semua berawal dari mengikuti alur hidup. Sebagai lulusan architectural design di Korea Selatan, yaitu negara yang sangat mendorong kreativitas, saya belajar banyak dari mereka. Dunia industri kreatif adalah awal mula saya menjejaki karier,” ujar Cahaya, Jumat (22/5/2026).

Ia mengatakan industri kreatif sudah menjadi bagian dari dirinya sejak awal, sementara dunia event berkembang seiring perjalanan hidup dan kepercayaan yang diberikan banyak pihak.

“Dari awal industri kreatif sudah ada di dalam jiwa saya. Tapi kalau event adalah sesuatu yang mengikuti alur hidup. Dengan saya mengerjakan setiap pekerjaan dengan komitmen yang tinggi, alhamdulillah orang-orang percaya terhadap saya,” lanjutnya.

Sejumlah agenda nasional sukses dipimpinnya, mulai dari Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025, Inklusiland 2025, ABPEDNAS Jaga Desa Awards 2026, hingga Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara Banten 2026.

Bagi Cahaya, sebuah event bukan sekadar hiburan atau seremoni, melainkan medium untuk membangun percakapan publik tentang budaya, inklusivitas, dan pengembangan masyarakat.

Baca Juga: Cermati Protect dan Bumame Hadirkan Proteksi Tambahan untuk Layanan Vaksin dan Vitamin Booster

“Ketika ingin membuat sebuah event, kita sendiri harus tahu betul tujuan utamanya itu apa. Efeknya apa? Apakah hanya berguna untuk sendiri atau bisa menginspirasi orang banyak?” katanya.

Salah satu program yang menurutnya memiliki dampak besar adalah Suara Nusantara.

Program itu lahir dari kegelisahannya melihat generasi muda yang semakin pasif dalam komunikasi sosial akibat terlalu sibuk dengan gawai.

“Saya menginisiasi acara ini karena melihat semua orang kebanyakan sibuk bermain dengan gadget-nya sendiri. Ketika diminta presentasi atau bersosialisasi, lebih banyak yang mundur atau gugup,” ujarnya.

Melalui konsep storytelling cerita rakyat, peserta didorong membaca, memahami, sekaligus membawakan cerita daerah Indonesia dengan cara yang menyenangkan.

“Efek dari event ini bukan saja melestarikan cerita rakyat, tetapi juga meningkatkan percaya diri dan pengalaman para peserta,” kata Cahaya.

Tak hanya aktif di industri kreatif, Cahaya juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap isu inklusivitas.

Sebagai Ketua Harian Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, ia aktif menginisiasi berbagai program sosial bagi anak-anak disabilitas.

Salah satu program yang menjadi sorotan ialah inisiatif Makanan Bergizi Gratis-Swasta untuk sekolah khusus dan disabilitas di Provinsi Banten. Program tersebut melibatkan 12 UMKM dan menjangkau lebih dari 2.200 penerima manfaat.

Selain itu, Cahaya juga menjadi sosok di balik penyelenggaraan Inklusiland dalam rangka Hari Disabilitas Internasional.

Acara tersebut menghadirkan ruang inklusif yang mempertemukan komunitas, keluarga, pelaku kreatif, hingga masyarakat umum.

Menurutnya, keberhasilan sebuah event tidak dapat dibangun sendirian. Kolaborasi menjadi fondasi penting untuk menciptakan dampak yang lebih luas.

“Kita hidup di dunia ini bersama individu lainnya. Peradaban dunia tidak akan berubah tanpa kerja sama dengan sesama,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar sebuah event mampu menjangkau audiens yang lebih luas.

“Setiap event yang saya buat, hanya dengan posting di media sosial saja belum cukup. Perlu ada kerja sama dengan sektor lain. Ini ditujukan untuk mencapai audience baru,” katanya.

Baca Juga: Dialog dengan Petani Garam Rote Ndao, Wapres Gibran Dorong Percepatan Swasembada dan Penguatan Ekonomi Pesisir

Di balik kesuksesannya, Cahaya mengakui dirinya kerap menghadapi tantangan karena penampilannya yang dianggap terlalu muda.

“Tantangan terbesar adalah first impression orang-orang terhadap saya. Sebagai perempuan dengan wajah yang terlihat jauh lebih muda dari umur saya, banyak yang mengira saya masih SMP, SMA, atau kuliah,” ungkapnya.

Namun, ia menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk menunjukkan kualitas kerja dan komitmennya.

“Dengan berjalannya waktu, saya mulai memperlihatkan ketegasan, ketelitian, tegak lurus, dan komitmen terhadap misi dan tujuan pekerjaan menuju kesuksesan,” katanya.

Konsistensinya di industri kreatif dan kegiatan sosial turut membawanya menerima sejumlah penghargaan, di antaranya Puspa Nawasena dari Kompas TV serta penghargaan The Inspiring Woman dari Robb Report Indonesia.

Di tengah kesibukannya memimpin berbagai proyek kreatif, Cahaya juga terus mendorong anak muda Indonesia untuk berani berkembang dan membangun kapasitas diri.

“Harus sering belajar, sering berlatih skill apa pun yang diminati, sering membaca buku atau berita dan memahaminya,” ujarnya.

“Menjadi entrepreneur bukan sesuatu yang bisa dibangun secara instan. Perlu waktu dan ketekunan. Kuncinya adalah percaya diri dan konsistensi terhadap perkembangan diri,” tutup Cahaya.

Bagi banyak anak muda, Cahaya Manthovani kini menjadi representasi generasi baru pemimpin industri kreatif Indonesia yang adaptif, visioner, dan memiliki kepedulian sosial yang kuat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.