Indef Sebut Ramadan-Lebaran 2026 Dorong Permintaan ke UMKM

AKURAT.CO Momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah dinilai berpotensi menjadi penggerak utama perputaran ekonomi nasional, terutama melalui peningkatan konsumsi masyarakat dan aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Lonjakan belanja selama bulan puasa hingga Lebaran kerap menjadi siklus tahunan yang mendorong produksi, distribusi barang, hingga mobilitas masyarakat.
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai periode Ramadan–Lebaran tidak hanya menjadi momen religius, tetapi juga periode krusial bagi ekonomi domestik. Faktor seperti pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), tradisi mudik, serta meningkatnya kebutuhan rumah tangga membuat konsumsi masyarakat meningkat signifikan.
Baca Juga: Tiktok Shop Dongkrak Belanja Online, Transaksi UMKM Naik hingga 7 Kali Saat Ramadan
Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi domestik, khususnya pada sektor ritel, makanan dan minuman, transportasi, serta jasa pendukung lainnya.
Peneliti Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, Abdul Manap Pulungan mengatakan, setiap tahun Lebaran menjadi salah satu momentum ekonomi terbesar di Indonesia karena mendorong peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat.
“Momen Lebaran ini merupakan momen yang setiap tahun menjadi salah satu momen penting bagi kita, terutama momen Islam, di mana ini akan memberikan peluang dan sekaligus tantangan bagi perekonomian,” kata Abdul Manap secara daring, Senin (9/3/2026).
Lonjakan Konsumsi Dorong Produksi UMKM
Abdul Manap menjelaskan, peningkatan konsumsi masyarakat selama Ramadan hingga Idul Fitri berpotensi memperkuat aktivitas ekonomi domestik. Permintaan yang meningkat membuat pelaku usaha perlu meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Menurutnya, sektor UMKM menjadi salah satu pihak yang paling merasakan dampak dari lonjakan permintaan tersebut. Hal ini terlihat dari meningkatnya kebutuhan berbagai produk dan layanan selama Ramadan dan Lebaran.
“Ini akan mendorong aktivitas UMKM agar UMKM ini bisa bergerak dan meningkatkan kapasitas produksinya. Lalu juga pada akhirnya akan memengaruhi jumlah uang beredar selama periode tersebut,” ujar Abdul Manap.
Permintaan yang meningkat biasanya terjadi pada berbagai sektor, mulai dari kuliner, ritel, transportasi, logistik, hingga jasa pariwisata yang berkaitan dengan aktivitas mudik dan perayaan Lebaran. Kondisi tersebut membuat perputaran uang di masyarakat meningkat secara signifikan dalam waktu relatif singkat.
Ancaman Inflasi Pangan dan Energi Menjelang Lebaran
Meski memberikan peluang besar bagi pelaku usaha, momentum Ramadan dan Lebaran juga diiringi sejumlah tantangan ekonomi. Salah satunya adalah potensi kenaikan inflasi, terutama pada komoditas pangan yang permintaannya melonjak selama bulan puasa.
Abdul Manap menilai kenaikan harga pangan kerap terjadi karena keterbatasan pasokan di tengah meningkatnya permintaan masyarakat. Kondisi ini dapat mendorong inflasi musiman yang biasanya terjadi menjelang Idul Fitri.
Selain itu, risiko kenaikan harga energi juga menjadi perhatian, terutama di tengah ketidakpastian global yang dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah.
Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah kesiapan infrastruktur selama periode mudik Lebaran. Ketersediaan bahan bakar, kondisi jalan, hingga potensi kemacetan menjadi faktor yang dapat memengaruhi biaya perjalanan masyarakat.
Menurut Abdul Manap, jika infrastruktur tidak dikelola dengan baik, biaya mobilitas masyarakat selama mudik berpotensi meningkat dan pada akhirnya dapat mengurangi daya beli untuk konsumsi lainnya.
Di sisi lain, kondisi ekonomi global yang masih mengalami tekanan juga berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia. Fluktuasi nilai tukar rupiah, volatilitas harga energi, hingga ketidakpastian geopolitik dapat berdampak terhadap daya beli masyarakat dan aktivitas bisnis di dalam negeri.
Meski demikian, Abdul Manap menilai momentum Ramadan dan Lebaran tetap memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi domestik apabila dikelola dengan baik oleh pemerintah dan pelaku usaha.
“Jika momentum Ramadan dan Lebaran ini dapat dikelola secara optimal, maka periode ini berpotensi menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi domestik sekaligus memperkuat peran UMKM dalam perekonomian nasional,” kata Abdul Manap.
Secara historis, periode Ramadan hingga Idul Fitri selalu menjadi salah satu fase dengan perputaran uang terbesar dalam ekonomi Indonesia. Lonjakan konsumsi masyarakat, aktivitas mudik, hingga peningkatan produksi UMKM menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap berbagai sektor ekonomi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










