Akurat Logo

Kemendag Dorong UMKM Masuk Ritel Modern Lewat Ini

Esha Tri Wahyuni | 29 April 2026, 16:01 WIB
Kemendag Dorong UMKM Masuk Ritel Modern Lewat Ini
Pelaku UMKM Makanan dan Minuman

AKURAT.CO Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri, mendorong penguatan distribusi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke ritel modern sebagai strategi menjaga daya saing di tengah ketidakpastian global.

Dalam kunjungannya ke UMKM Keripik Brownies Bron Chips di Surabaya, Jawa Timur, Roro menegaskan perluasan akses pasar difokuskan pada ekspor dan penguatan distribusi domestik melalui jaringan ritel modern.

Selain mendorong ekspor, Kementerian Perdagangan juga berupaya memperluas distribusi produk UMKM ke ritel modern.

Baca Juga: UMKM Sumbang 60 Persen PDB, Kemendag Genjot Akses ke Ritel Modern

"Saat ini, Bron Chips telah berhasil menembus jaringan ritel modern Indomaret, sehingga produknya makin mudah dijangkau konsumen,” ujar Roro dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026).

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM di Indonesia mencapai sekitar 65,4 juta unit pada 2024, berkontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional.

Namun, tingkat partisipasi UMKM dalam rantai pasok modern, termasuk ritel besar, masih relatif terbatas.

Di sisi lain, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mencatat pertumbuhan ritel modern berkisar 3–5% secara tahunan pada 2025, didorong oleh konsumsi domestik yang tetap kuat.

Buka Akses Baru

Langkah pemerintah memperkuat distribusi domestik ini muncul di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi perdagangan internasional, termasuk perlambatan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang utama.

Roro menyebut, pemerintah tetap membuka akses ekspor melalui perjanjian dagang dengan sejumlah kawasan seperti Uni Eropa, Kanada, hingga Eurasia. Namun, diversifikasi pasar menjadi krusial.

“Kita harus terus membuka akses pasar baru agar pelaku usaha, termasuk UMKM, memiliki peluang yang lebih luas,” katanya.

Secara historis, strategi UMKM Indonesia selama satu dekade terakhir lebih berorientasi pada ekspor sebagai mesin pertumbuhan. Program seperti Export Coaching Program (ECP) menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mendorong UMKM go global.

Namun, kontribusi UMKM terhadap total ekspor nasional masih berada di kisaran 15–16%, jauh di bawah negara seperti Thailand dan Vietnam yang sudah di atas 25%.

Penguatan Jalur Distribusi Sebagai Shock Absorber UMKM

Penguatan jalur distribusi domestik dinilai dapat menjadi bantalan (shock absorber) terhadap tekanan eksternal. Dengan masuk ke ritel modern, produk UMKM memiliki akses langsung ke konsumen dalam skala besar.

Pendiri Bron Chips, Mega Siswindarto, menyatakan bahwa dukungan pemerintah sangat membantu dalam membuka akses pasar.

“Kami berharap ke depan, makin banyak kerja sama dengan ritel modern lain, sehingga produk UMKM Bron Chips dapat tersebar lebih luas di berbagai daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Development Manager Indomaret Surabaya, Guntur Buntoro, menilai kolaborasi ini berpotensi memperkuat ekosistem perdagangan domestik.

“Dengan kolaborasi yang baik, kami optimistis ritel modern dapat terus menjadi mitra strategis dalam memperluas pemasaran produk UMKM,” kata Guntur.

Di tingkat pelaku usaha lain, dampak ekspansi pasar juga mulai terlihat. Perwakilan CV Tirta Ayu Spa, Felly, menyebut produknya telah menembus pasar Afrika.

“Produk kami sudah diekspor ke beberapa negara, seperti Nigeria dan Eswatini. Kami juga mengembangkan layanan spa di sana, termasuk membawa tenaga kerja terlatih dari Indonesia,” ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.