Transformasi Desa Industri ke Lumbung Pangan: Perjalanan BUMDes Cipta Karya Menjahit Ekonomi Padurenan

AKURAT.CO Desa ini letaknya di Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, dikepung gudang industri dan lalu lintas logistic. Awalnya tak begitu hidup, kemudian ada tujuh orang pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) memulai usaha dengan modal yang nyaris tak cukup untuk bermimpi besar, membuatnya menjadi lebih berwarna.
Tak ada gedung megah. Tak ada investor besar. Hanya sebuah ruangan kantor sederhana, beberapa meja dan kursi, sebuah laptop, serta keyakinan bahwa desa tidak boleh hanya menjadi penonton dari perputaran ekonomi di sekitarnya. BUMDes itu bernama BUMDes Cipta Karya, Desa Padurenan.
“Kami di SK kan 20 Oktober 2024 dengan pengurus berjumlah total 7 orang. Pertama kali kami mendapatkan penyertaan modal Rp50 juta. Langkah pertama yang kami tempuh adalah legalitas karena tanpanya perjalannya nanti akan jadi pandangan orang ini resmi enggak BUMDes. Kami sudah legal sampai di KemenkumHAM,” ujar Kepala BUMDes Cipta Karya, Dede Sulaeman (47).
Baca Juga: Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo di Brebes Sempat Ditarik BUMDes, Ini Kronologi Lengkapnya
Bagi Dede, legalitas bukan sekadar administrasi. Itu adalah fondasi kepercayaan. Di desa yang dipenuhi aktivitas industri, kepercayaan menjadi modal pertama sebelum bicara omzet dan ekspansi.
“Awal kami berdiri, bisa dibilang tanpa baju, tanpa apa-apa. Apa yang pertama kami lakukan? Kan butuh sarana penunjang untuk bekerja. Maka dari Rp50 juta modal awal itu kami beli laptop, meja, kursi, ATK, kami rapikan kantor lah untuk kami cari inspirasi di situ. Udah lah kami tumpahkan ide-ide. Di situlah lahir gagasan bisnis perdagangan sembakonya, belum besar sih tapi kontinyu terus berjalan sampai di tahun 2025 akhirnya ada penyertaan modal lagi,” katanya.
Masuk ke Rantai Ekonomi Industri
Desa Padurenan bukan desa agraris konvensional. Lanskapnya lebih dekat dengan kawasan industri penyangga Jakarta. Puluhan perusahaan, tepatnya 30 perusahaan berdiri di wilayah itu, menciptakan denyut ekonomi tersendiri. Dede melihat celah yang selama ini luput disentuh desa.
“Usaha yang kami jalankan pertama kali adalah perdagangan sembako. Kami lihat di desa kami ini kan zona industri, di sini banyak pabrik, pengusaha makanan, kami suplai beras, minyak, telor dan gulanya,” terang Dede.
Dengan modal terbatas, BUMDes mulai masuk lewat warung-warung makan yang melayani pekerja pabrik. “Dengan tertatih-tatih, pelan-pelan tapi kami berjalan lah. Di sini ada sekitar 30 an perusahaan. Kami pemasok di warung-warung yang buat pekerja sekitar. jadi karyawannya makannya enggak kemana-mana. Kaya warung makan depan ini kami suplai,” tutur Dede.
Di balik kesederhanaan model bisnis itu, sesungguhnya ada upaya merebut rantai pasok lokal agar nilai ekonomi tidak seluruhnya mengalir keluar desa. Hal ini diamini Sekretaris Desa Padurenan, Rudi Muhtar (60). Rudi menilai kehadiran BUMDes memang sejak awal dirancang sebagai instrumen ekonomi desa, bukan sekadar pelengkap administrasi pemerintahan.
“Kami dari pemerintahan desa sangat berharap agar BUMDes bisa menopang kesejahteraan masyarakat, bersinergi dengan pemerintah desa, dan ke depan BUMDes tak hanya bergantung ke pemerintah desa untuk kelangsungan usahanya tapi bisa berdiri sendiri atau mandiri,” ujar Rudi.
Rudi ingat betul tahun 2024 menjadi titik awal pembenahan manajemen BUMDes. “Awal pendiran BUMDes tujuannya itu untuk sinerji dengan pemerintahan desa dan memberikan manfaat untuk masyarakat. Di 2024 lalu ada perubahan struktur kepengurusan BUMDes dan ada penyertaan modal awal Rp50 juta untuk persiapan legalitas karena saat itu belum ada legalitas,” cerita Rudi.
Bertaruh pada Ayam Petelur
Kepala BUMDes Cipta Karya, Dede memanen telur di kandang peternakan
Tahun kedua operasional BUMDes Cipta Karya menjadi titik penting. Pemerintah desa kembali menggelontorkan modal Rp280 juta dengan fokus ketahanan pangan. BUMDes memilih usaha ayam petelur.
“Di 2025 kami dapat penyertaan modal lagi Rp280 juta untuk ketahanan pangan. Kami arahkan untuk peternakan ayam petelur. Sudah jalan hampir 7 bulan dan hamdalah perkembangannya sekarang sudah di 75 menuju 80 persen produksi telurnya, kapasitas totalnya kan 1.500 telur. Saat ini di 1.200 butir per hari menuju 1.300 butir per hari,” kata Dede.
Telur-telur itu tak dijual ke pasar besar terlebih dahulu. Sebagian besar justru dipasarkan langsung ke masyarakat desa dengan harga di bawah pasar. Perlahan, usaha ayam petelur mulai diterima masyarakat.
“Kemana telurnya? Ke masyarakat juga. Kami buka posko telur yang harganya Rp2.000 lebih murah dari harga pasaran. Pembelinya di situ ada tukang bakso, tukang siomay, penjual kue, itu memang mereka tertarik. Harga telur kami cuma Rp28 ribu per kilogram misalnya, menurut mereka sangat membantu. ke warung itu kami bisa suplai 4,5 peti per hari,” lanjut Dede.
Di titik itu, bisnis dan fungsi sosial mulai bertemu. Bendahara BUMDes Cipta Karya, Nursyamsiah (28), mengakui keuntungan ekonomi belum maksimal karena sebagian orientasi usaha masih diarahkan untuk membantu masyarakat.
“Dari posko penjualan telur kami sendiri sih secara nilai ekonomi belum maksimal karena masih fifty fifty untuk sosial juga. Waktu itu ada rumah salah satu warga terkena bencana angin puting beliung, kami bantu-bantu sedikit. Tapi komitmen kami pengurus BUMDes kalau bisnisnya berkembang semakin besar sisi sosialnya ke lingkungan juga kami enggak akan tutup mata istilahnya,” ujar Nursyamsiah.
Asa Jadi Pemasok Program MBG
Posko telur murah BUMDes Cipta Karya letaknya strategis persis di tengah Desa Padurenan
Di tengah berkembangnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), BUMDes Cipta Karya melihat peluang baru yang lebih besar: menjadi pemasok kebutuhan dapur MBG.
“Untuk unit usaha baru ke depan, kebetulan desa kami ini ada 2 titik SPPG MBG dimana secara juknisnya memang BUMDes sebagai supplier. kami lagi menggali potensi di sana, agar kebutuhan dapurnya kami penuhi. Nanti kami rencananya akan kami libatkan juga ibu-ibu PKK untuk bertani, sayuran,” ujar Dede.
Mereka bahkan mulai menjajaki rantai pasok susu kemasan. “Kalau suplai ke luar desa kan butuh biaya tambahan untuk logistik ya. Tapi di zaman sekarang apa sih yang kita enggak dipermudah? Ada Lalamove, kami sewa. Contohnya kemarin kami kirim minyak hampir 50 dus ke Lenteng Agung. Bahkan sekarang ini sudah ada permintaan susu karton 125 ml indomilk. Kami akan MoU ke pabrik Indomilk langsung di Karawang, kami ingin tembus ke sana. Insya Allah mudah-mudahan kami inginnya masuk ke rantai industri yang besar lah,” cerita Dede.
Namun, mimpi masuk ke rantai pasok industri besar berbenturan dengan persoalan klasik: modal. “Saat ini kami terkendala di permodalan terutama untuk masuk mensuplai permintaan susu Indomilk kotak 125ml untuk SPPG MBG. Ya kalau memang dari perbankan atau Lembaga keuangan ada yang mau berkolaborasi kami sangat terbuka. Sementara ini kami menggandeng perusahaan CMM Group (merek SR12) untuk permodalan masuk ke SPPG MBG,” imbuh Nursyamsiah.
Desa yang Kaya Potensi Limbah Industri
Selain sembako dan peternakan, BUMDes juga membidik pengolahan limbah industri—sektor yang dinilai memiliki potensi ekonomi besar di Padurenan.
“Fokus usaha kami sekarang memang di 3 bidang ini yakni peternakan ayam petelur, pengelolaan limbah dan perdagangan sembako. Pengolahan limbah kami sudah kerja sama dengan PT Ayara Beuaty Indonesia cuman lagi berhenti sementara karena ada peralihan kepemilikan. Ke depan akan kami perluas kerja sama pengolahan limbah dengan perusahaan lain, harapannya lewat peraturan desa yang dikeluarkan oleh pemerintah desa sehingga legalitasnya lebih kuat lagi,” ujar Dede.
Rudi bahkan menyebut sampah industri di desa selama ini belum tergarap serius. “Karena banyak potensi yang bisa digali di desa padurenan ini. Sampah pabrik belum dipegang yang mana punya nilai ekonomis baik plastik, kardus, botol dan drum. Sebagai contoh ada PT Gloria Origita Cosmetics (Merek Purbasari) itu dia punya banyak sekali drum yang kalau diolah punya nilai ekonomi tinggi,” timpal Rudi.
Desa Padurenan sendiri dihuni sekitar 10.888 warga atau sekitar 2.800 kepala keluarga. “Jadi potensi di desa padurenan itu tinggi, jumlah penduduk kami ada sekitar 10.888 warga atau 2.800 KK. Jadi tinggal ada enggak kemauan yang kuat. Kembali lagi ke tujuan awal pembentukan BUMDes itu apa saja sih? Pertama mensejahterakan masyarakat, kedua menambah PAD desa untuk masyarakat, sosial keagamaan. BUMNDes adalah mitra pemerintah desa sebagaimana pemerintah daerah punya BPD. Harus sama-sama maju tanpa mengesampingkan kesejahteraan anggotanya,” ujar Rudi lagi.
Proposal, Sumur Resapan, dan Mimpi yang Belum Selesai
Di tengah keterbatasan anggaran desa, pengurus BUMDes mulai mencari dukungan dari kementerian dan mitra swasta. “Tapi kami sudah masuk ke dinas-dinas dari Kemendes juga, itu kami sudah ajukan proposal bantuan. ada 3 proposal yang sudah kami ajukan dengan harapan agar cepat diverifikasi karena untuk kelangsungan BUMDes ke depan. Entah untuk ekspansi ayam petelur kah, sumur resapan kah karena banyak wilayah yang banjir rencana 15 titik kalau memang diacc, ataupun untuk pengelolaan limbah,” kata Dede.
Nursyamsiah turut memerinci proposal tersebut. Menurutnya, BUMDes Cipta Karya telah mengajukan 3 proposal pendanaan ke dinas kemendes, dimana untuk pengolahan limbah Rp200 juta, untuk 15 titik sumur resapan Rp150 juta dan ketahanan pangan atau ternak ayam petelur Rp250 juga. “Sudah ada panduan untuk RAB, disesuaikan dengan pasar karena kan beda waktu beda harga, beda lokasi beda harga per satuan unitnya,” terang Nursyamsiah.
Menurut Rudi, ruang fiskal desa memang semakin sempit karena sebagian besar anggaran kini dialihkan untuk program lain. “Ke depan barang kali banyak rencana yang belum terealisasikan karena terbentur modal, agar bisa mendapatkan solusi terbaik. Karena anggaran pemerintahan desa kami ini khususnya terkait dana desa, terbatas. Pagu yang bisa kami gunakan hanya Rp373 juta, sisanya Rp800 juta dialokasikan untuk KDMP,” terang Rudi.
“Ada sebenarnya program bantuan keuangan atau banke, yang merupakan lanjutan program Samisade (Satu Miliar Satu Desa) zaman Bupati Bogor Ade Yasin, di angka Rp1,5 miliar. Di situ ada penyertaan modal tapi sedikit sekitar Rp10-20 juta, buat apa? Saat ini kondisinya pemerintah desa lebih memprioritaskan untuk persiapan dapur MBG dan KDMP, ini ada pagunya di program banke dan dana desa,” sesal Rudi.
Ia juga mengakui pemerintah desa sulit berharap pada CSR perusahaan karena mayoritas perusahaan di wilayah itu hanya cabang operasional.
“Kami tidak bisa mengandalkan bantuan dari pemda karena sudah ada mata anggarannya dari pusat. Juga tidak bisa mengandalkan dana CSR dari 30 perusahaan di desa padurenan karena mereka ini cuma istilahnya cabang, induknya ada di Jakarta semua lagipula mayoritas skala kecil hanya sebagai pergudangan,” kata Rudi.
Dari Desa untuk Desa
Lahan siap tanam di samping kandang peternakan ayam petelur BUMDes Cipta Karya
Di balik laporan produksi telur, proposal pendanaan, dan rencana ekspansi, BUMDes Cipta Karya pada dasarnya bergerak oleh idealisme sederhana: desa harus tumbuh dengan kekuatannya sendiri.
“Motivasi kami hanya satu, yaitu membangun bisnis untuk kemajuan warga desa, dari desa untuk desa, enggak ada tujuan lain. Harapannya ya kami ingin ada mitra pendanaan yang bisa membantu kami berkembang bahkan bisa menjadi besar. Tahun pertama berdiri, kami cari potensi bisnis, tahun kedua jalani bisnis, tahun ketiga menikmati hasil, kira-kira gitu gambarannya,” kata Dede.
Dede bahkan pernah mendapat tawaran bekerja di tingkat provinsi, namun memilih tetap tinggal di Padurenan.
“Saya sebenarnya sudah ditawari pekerjaan menjadi pengurus BUMDes di Provinsi Jabar di Kota Bandung, tapi karena kecintaan saya ke desa padurenan saya bilang ke mereka bahwa saya belum bisa bergabung. Ya itu, cita-cita saya membangun desa padurenan lebih baik lagi, lebih berkelanjutan lagi,” ungkap Dede.
Semangat serupa juga datang dari Nursyamsiah. “Harapan saya pribadi sih agar BUMDes bisa membuat perekonomian di desa bisa lebih stabil karena pemerataan ekonomi desa itu kuncinya ada di BUMDes. Kalau perekonomian desa tidak stabil, warga juga makin rentan terhadap kemiskinan. Yang menggerakkan atau memotivasi saya bergabung menjadi pengurus BUMDes Cipta Karya sih hati yah. Jadi tetap kuat walaupun secara bisnis secara nilai ekonomi belum bisa menjadikannya mata pencaharian utama kasarnya,” kata Nursyamsiah.
Sementara Sekretaris BUMDes Cipta Karya, Novita Sari (35), melihat capaian awal mereka sebagai bahan bakar optimisme baru. “Saya harap ke depan kami bisa lebih maju lagi, lebih sukses lagi dan bisa terus semangat. Kemarin alhamdulillah pas ikut lomba Desa Brilian kami juara 20 besar se-Nasional, se-Provinsi juara 2, se-Kabupaten Bogor juara 1, ya dapet apresiasi sedikit,” ucap Novita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









