Akurat Logo

Omzet Ekosistem UMKM SRC Tembus Rp251 Triliun Usai 18 Tahun Beroperasi

Esha Tri Wahyuni | 22 Mei 2026, 22:58 WIB
Omzet Ekosistem UMKM SRC Tembus Rp251 Triliun Usai 18 Tahun Beroperasi
Ekosistem UMKM SRC merayakan 18 tahun berdirinya SRC

AKURAT.CO Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18, PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS) mengungkap kontribusi ekosistem SRC terhadap ekonomi nasional yang kini mencapai Rp251 triliun per tahun.

Nilai tersebut setara 9,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) retail nasional 2025, berdasarkan hasil riset KG Media 2026.

Capaian tersebut naik Rp15 triliun dibandingkan kontribusi pada 2023 yang tercatat sebesar Rp236 triliun per tahun.

Baca Juga: Ekosistem Toko Kelontong SRC Berkontribusi Rp251 Triliun ke Ekonomi Nasional, Begini Cara Warung Kecil Naik Kelas

Pertumbuhan ini terjadi di tengah tekanan daya beli masyarakat dan perlambatan konsumsi rumah tangga yang masih menjadi perhatian utama sektor retail nasional.

Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk., Ivan Cahyadi mengatakan, pertumbuhan SRC menunjukkan toko kelontong tradisional masih mampu bertahan dan berkembang melalui penguatan ekosistem serta transformasi digital.

“Dimulai dari 57 toko di tahun 2008, kini SRC telah tumbuh dengan memiliki lebih dari 250.000 toko, yang didukung oleh lebih dari 6.300 mitra, serta terhubung melalui 10.000 paguyuban di seluruh Indonesia,” ujar Ivan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Dirinya menambahkan, SRC kini berkembang bukan hanya sebagai jaringan toko retail tradisional, tetapi juga menjadi platform pemberdayaan UMKM berbasis komunitas dan digital.

“Melalui perjalanan selama 18 tahun ini, SRC menunjukkan bahwa dampak yang berkelanjutan lahir dari inisiatif yang konsisten dan relevan dengan kebutuhan zaman,” katanya.

Data riset KG Media 2026 juga menunjukkan omzet toko meningkat 42% setelah bergabung dengan SRC.

Bahkan dalam tiga tahun terakhir, toko SRC masih mencatat kenaikan omzet sebesar 27,5% melalui pendampingan usaha dan pemanfaatan teknologi digital.

Transformasi digital menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut. SRC mencatat sebanyak 98,8% toko dalam ekosistemnya kini telah terdigitalisasi.

Selain itu, sebanyak 46% toko SRC telah memperluas lini bisnis ke layanan pembayaran digital dan penjualan produk virtual.

Di tingkat komunitas, program Pojok Lokal turut menjadi motor pertumbuhan UMKM daerah.

Program yang menjadi saluran distribusi produk UMKM sekitar toko itu mencatat pertumbuhan omzet hingga 128%, dari Rp5,65 triliun pada 2023 menjadi Rp12,9 triliun per tahun pada 2026.

Momentum HUT ke-18 SRC juga dibarengi dengan pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi sekitar 500 pemilik Toko SRC di wilayah Jabodetabek.

Program tersebut digelar sebagai bagian dari pendekatan pemberdayaan UMKM yang tidak hanya berfokus pada bisnis, tetapi juga kesehatan pelaku usaha.

Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Uus Kuswanto, mengapresiasi langkah SRC yang dinilai mendukung kesejahteraan masyarakat dan produktivitas pelaku usaha kecil.

“Kami atas nama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengucapkan terima kasih atas kepedulian SRC kepada masyarakat melalui kegiatan ini. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa bermanfaat dan dapat terus menjangkau lebih banyak masyarakat di Jakarta maupun wilayah lainnya,” ujar Uus.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Indah Kurnia, menilai kesehatan pelaku UMKM menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga dan produktivitas usaha.

“Kontribusi para ibu sangat berarti bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga ibu-ibu pemilik toko kelontong SRC harus tetap sehat,” kata Indah.

Sebagai informasi, SRC lahir pada 2008 dengan fokus mendampingi toko kelontong tradisional agar mampu bersaing dengan retail modern.

Dalam perjalanannya, SRC berkembang menjadi salah satu ekosistem UMKM retail terbesar di Indonesia melalui pelatihan usaha, penguatan komunitas, serta digitalisasi operasional toko lewat aplikasi AYO by SRC.

Perkembangan ini menjadi penting karena sektor UMKM masih menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.

Data Kementerian Koperasi dan UKM sebelumnya menunjukkan UMKM menyumbang lebih dari 60% PDB nasional dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional.

Di tengah ketatnya persaingan retail dan perubahan perilaku konsumen ke arah digital, pertumbuhan SRC menunjukkan toko tradisional masih memiliki ruang ekspansi apabila didukung teknologi dan ekosistem distribusi yang kuat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.