Akurat Logo

Tatang, Perantau Asal Kuningan Sukses Jadi Agen BRILink Jawara dari Awalnya Jualan Rokok Gerobakan

Yosi Winosa | 23 Mei 2026, 19:15 WIB
Tatang, Perantau Asal Kuningan Sukses Jadi Agen BRILink Jawara dari Awalnya Jualan Rokok Gerobakan
Tatang Sutardi (56) warga asli Kuningan yang sukses menjadi Agen BRILink Jawara di bilangan Jalan Proklamasi Depok

AKURAT.CO Tatang Sutardi (56), merantau ke Depok dan memulai usaha sekitar tahun 2010-an.

Layaknya kebanyakan orang Kuningan, Tatang berjualan rokok dan minuman gerobakan di depan kantor BRI Unit Proklamasi Depok, Jl. Proklamasi Blk. E No.34, Harjamukti, Depok, Kota Depok.

Tatang yang berasal dari Desa Cineumbeuy, Kecamatan Lebakwangi terus melanjutkan usaha rokok gerobakannya, sampai akhirnya ditawari menjadi agen BRILink pada 2015.

Sempat menolak karena belum yakin, Tatang akhirnya tertarik bergabung menjadi agen BRILink pada tahun 2017, ketika Kepala Unit merangkulnya langsung.

“Tadinya mah saya enggak mau, sampai 2 tahun loh ditawarin. Karena lapak saya kan di depan BRI, mana mungkin laku sih, gitu mikirnya. Nah pas 2017 kebetulan kepala unitnya enak. Sharing-sharing, dia bilang ‘Udah pak kalau bapak enggak enak bukanya sore aja. BRI tutup, bapak buka’. OK, tapi bantuin ya pak ngomong ke nasabahnya kalau di BRI tutup, di depan bisa, di agen BRILink,” tutur Tatang menirukan dialog pada saat itu.

Baca Juga: Naik Kelas dari Kuli Panggul ke Agen Jawara BRILink, Perjalanan Inspiratif Owner Affan Cell

Di 3 bulan awal membuka keagenan, transaksi masih jarang. Barangkali karena orang-orang belum percaya bahwa Tatang adalah agen resmi BRI.

Namun perlahan, usai berjalan setahun, transaksi ramai dan Tatang bahkan langsung menjadi agen pendatang baru terbaik dan naik kelas ke agen Jawara.

“Setelah 3 bulan, mulai ah saya pikir kayaknya kalau buka dari siang bagus. Eh benar, setahun langsung melejit. Unit Proklamasi ini kan tahun 2010-an diresmikan ya. Saya dua tahun sejak jadi agen itu atau sekitar tahun 2019 alhamdulilah sudah mampu untuk beli kios. Akhirnya dagangan gerobak saya pidahin ke kios, kebetulan waktu itu BRI lagi dekorasi kantornya dan ada tukangnya, kios saya dibantu didekorasi juga,” kenang Tatang.

Tatang terus menekuni bisnis keagenan BRILink siang malam. Pagi-pagi pukul 06.00 WIB tatang sudah membuka warungnya, kebetulan lokasi kios tak jauh dari pasar tradisional di sekitar.

Ia standby sampai sore. Menjelang magrib, ia istirahat sejenak digantikan istrinya. Malamnya Tatang Kembali berjaga hingga warung tutup pukul 00.00 WIB.

Tak terasa, kini 9 tahun sudah berlalu sejak ia pertama kali menjadi agen BRILink. Berbagai pencapaianpun ia raih, termasuk juara 2 nasional agen BRILik di 2019 (dihadiahi sepeda motor), agen BRILink pertama yang menggunakan Mesin MPOS di Depok dan berbagai capaian lainnya.

“Saya agen BRILink pertama di Depok yang pakai MPOS (Mobile Point of Sale). Sebelumnya kan masih pakai HP, belum ada mesin EDC apalagi MPOS,” ujarnya.

Berbagai manfaat ekonomi turut ia rasakan dari bisnis keagenan BRILink. Selain mampu membeli kios, keagenan itu sendiri kini menjadi usaha utamanya dari yang semula toko kelontong rokok dan aneka minuman.

Lain dari itu, ia berhaasil menguliahkan putri-putrinya. 2 putri pertama sudah lulus, bekerja dan berkeluarga. Sementara putri ketiga, paling bontot masih kuliah semester 2 di Untirta Serang Banten.

“Cucu saya ada 6. Putri saya ada 3. Pertama jadi guru di SMA 12 Cipayung Depok, kedua jadi perawat di Sentra Medika. Sekarang saya dsi sini sama istri saja berdua sama 1 cucu biar enggak sepi,” tutur Tatang.

Pergeseran Tren Transaksi

Pelanggan Tatang mulai lalu lalang bertransaksi sejak warung buka pukul 06.00 WIB

Bagi Tatang, era keemasan agen BRILink sudah lewat sejak tahun 2023 lalu. Jika semula jumlah transaksi bulanan bisa sampai puluhan ribu bahkan belasan ribu transaksi, kini tinggal 3 ribuan hingga 4 ribuan transaksi. Namun demikian, nominal transaksi tak turun sedrastis jumlah transaksi.

“Kalau saya bilang, mulai 2023 lah mulai turun. Barangkali karena jumlah agen kian banyak dan aplikasi transaksi kian menjamur, sehingga jumlah transaksi bulanan tergerus. Dulu sebulan pernah 10.000 transaksi dengan nominal Rp12 miliaran sekarang paling 3.000-an transaksi nominal Rp8 miliaran. Fee based sekitar Rp6 jutaan,” ujar Tatang.

Diakuinya, pergeseran perilaku konsumen terbesar adalah mereka, terutama pelanggan yang tinggal di Perumnas, kini tak lagi bertransaksi melakukan pembayaran listrik dan PDAM karena sekarang mereka bisa melakukannya di BRIMo, DANA hingga Gopay.

“Dulu satu nasabah sekali transaksi bisa 3 kali, tarik/ setor tunai, sekalian bayar listrik dan bayar PDAM. Sekarang setor/ tarik saja paling,” cerita Tatang.

Di sisi lain, ada saja konsumen baru yang melakukan setor/ tarik tunai setiap harinya. Dicontohkan, menjelang Lebaran atau Hari Raya Iduladha saat ini, banyak juragan atau bandar sapi dan kambing yang bertransaksi setor tunai. Nilainya tak tanggung-tanggung, ada yang sampai Rp90 juta sekali setor.

Ada juga nasabah baru (bukan pelanggan) yang tiba-tiba menarik tunai dalam nominal besar.

“Mayoritas atau 90 persen pelanggan saya adalah pegadang. Ada yang sekali setor Rp140 juta, ada yang Rp36 juta, mace-macem. Tapi ada juga yang misal dapat uang mendadak, itu biasanya keliahatan dia selalu pengen tarik tunai semua yang ada di saldo dia tanpa disisakan. Tadi saja ada ibu-ibu tarik tunai Rp30 juta, pas saya cek saldo dia oh memang benar segitu dan pengen dia abisin (tarik tunai) semua. Sisa Rp50 ribu juga ingin dia tarik tunai. Yang seperti ini bukan orang yang biasa transaksi, punya uang mendadak diambil semua,” paparnya.

Diakui Tatang transaksi saat ini seimbang antara setor dan tarik tunai, dimana pembayaran trennya menurun. Untuk tarik tunai, nominalnya beragam seperti Rp20 juta, sesekali Rp50 juta itupun pesan via WA terlebih dahulu. Iapun hanya menyediakan uang tunai berbagai pecahan sekitar Rp40 juta per hari.

Untuk biaya admin, ia tak banyak ambil untung, hanya kisaran Rp5 ribu hingga Rp30 ribu per transaksi tergantung besaran nominal transaksi pelanggan.

“Pembayaran berasa sekali sih menurun terutama yang PLN dan PDAM. Ada baru misalkan seperti untuk SKCK sekarang kan bisa lewat BRIVA, tapi itupun belum banyak lah. Agen BRILink kalau buat sekarang menurut saya mah jangan berharap bisa kayak dulu-dulu. Masanya sudah lewat. Pokoknya setelah 2023 itu zaman keemasan BRILink sudah lewat. Buat naik enggak ada, mempertahankan aja. Apalagi kalau buat agen-agen baru, ya bismillah aja, sabar gitu kan,” pesannya.

Tantangan Bisnis Keagenan Lakupandai

Lokasi warung Tatang tepat di depan Kantor BRI Unit Proklamasi Depok

Selama 9 tahun pengalamannya menjadi agen lakupandai, Tatang mengaku menghadapai cukup banyak tantangan. Misalnya dari sisi jaringan yang terdakang lemah. Iapun biasanya beralih menggunakan kuota HP dari semula WIFI jika jaringan sedang lemah.

“Sudah beberapa hari, semingguan lah, lagi sering pas transaksi muter-muter aja (MPSO). Bahayanya kalau kami sudah masukin PIN, harus pasti dicek ulang berhasil apa gagal transaksinya karena kadang bisa terjadi dua kali transaksi. Muter-muter saja kadang ilang (sinyal) itu yang bikin lama. Enggak tahu dari apanya tuh. Apa sinyal kali,” herannya.

Di sisi lain, biaya transfer antarbank juga semakin tinggi antarbank tak ada yang mau mengalah. Padahal hari ini, di agen konter mana saja, dengan berbagai aplikasi mereka bisa melayani transaksi transfer serupa dengan fee hanya Rp5 ribu misalnya.

“Nah kami kalah transfer ke bank lain feenya Rp10 ribu kan minimal. Tarik tunai dari rekening BCA misalnya, jatuhnya lebih mahal lagi biasanya fee Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu. Top up juga kelemahannya di kami enggak semua nomor DANA bisa diinput karena belum semua nomor bikin BRIVAnya kan, jadi nomornya enggak mau diinput di MPOSnya,” tutur Tatang.

Lalu juga pernah satu ketika, MPOS Tatang terblokir karena ternyata menurut catatan OJK rekening pelanggan yang melakukan tarik tunai tersebut terlibat kejahatan siber hasil penipuan.

Padahal ia hanya melayani transaksi dan sudah sesuai SOP Agen BRILInk yakni terima dulu uangnya baru bertransaksi. Waktu itu, si pelanggan menarik Rp250 ribu sehingga tersisa di rekeningnya Rp999.999.999.999 atau Rp1 triliun kurang Rp1.

“Terus kami salahnya dimana kan? Harusnya bisa dilihat dulu dengan seksama cerita awalnya bagaimana kan. Masa tiap nasabah mau narik tunai kami tanya-tanya dulu ini Bapak uangnya bukan hasil nyolong kan? Kan enggak gitu. Waktu itu saya urus sendiri di CS dengan perjanjian di atas materai segala macam. Saya curhat 14 hari diblokir, katanya itu termasuk cepat pak yang ada yang sebulan. Bukan masalah 14 harinya, saya bahkan 2 hari saja lama itungannya untung punya 2 mesin MPOS kan coba kalau cuma 1? Kan ilang nanti langganan saya,” ketus Tatang.

Dari kasus itu, Tatang berharap ke depan ada jalur khusus dari kepala unit untuk kasus-kasus serupa agar agen tidak terhambat usahanya hanya karena terbekukan sementara MPOSnya.

“Sesuai SOP itu penting, terima dulu uangnya baru transaksi. Enggak apa dicek dulu nominal saldo rekening pelanggan berapa untuk memastikan. Jangan sampai semisal pelanggan tertipu transfer segitiga agen ikut tertipu misalnya. Kadan gada juga pelanggan bawa uang dari rumah tapi pas transaksi dihitung ulang uangnya kurang,” peringat Tatang.

Peluang ke Depan

Selama 9 tahun menjalani bisnis keagenan BRILink, Tatang mendapatkan sejumlah penghargaan

Ke depan, Tatang melihat sejatinya masih banyak program BRI yang bisa menambah cuan para agen, misalnya terkait penjualan asuransi BRI Life ataupun BRI Insurance.

Hanya saja dari pengalaman ketika hendak mengajukan klaim, kurang memuaskan sehingga masih bisa diperbaiki ke depan semisal dengan mempermudah proses klaim ataupun menyederhanakan persyaratan klaim.

Lalu juga misalnya, BRI ke depan bisa menyederhanakan proses pembukaan buka tabungan lewat Agen BRILink.

“Input datanya report, kami enggak sempat kalau harus selfie dulu masukin ini itu terutama kalau antrean lagi banyak karena prosesnya bisa 10 menit sendiri,” harapnya.

Lalu juga perluasan program referal pembiayaan tak sebatas pada pembiayaan berbasis jaminan BPKB kendaraan ataupun pembiayaan ke nasabah Umi.

“Bisa perluas program referalnya lah, kan lumayan kami dapat fee juga kalau dia riwata angsurannya bagus. Hanya kalau enggak bagus alias nunggak jadi masalah kami diuber-uber orang BRI juga suruh nagih,” tutur Tatang.

Biaya Admin Tatang Lebih Murah

Salah satu pelanggan Tatang melakukan transaksi tarik tunai

Jono, salah satu AO PNM dari Cimanggis lebih sering melakukan setor tunai di Tatang meskipun lebih jauh dari agen BRILink di dekat rumahnya. Alasannya, biayanya lebih murah.

Jono mengaku banyak rekan AO PNM melakukan hal yang sama: lebih memilih bertransaksi di Tatang meski rumah mereka jauh di Cilodong, Ciseeng, bahkan hingga Parung Panjang.

“Dari kantor kan cuma dapat biaya ganti Rp5 ribu. Di pak Tatang dia mau untuk nominal setoran besarpun biaya adminnya hanya Rp10 ribu, jauh lebih murah dibanding agen dekat rumah bisa Rp20 rubu, kadang Rp40 ribu. Ya mungkin karena pak tatang setoranya dekat BRI tinggal nyebrang beberapa langkah ya,” canda Jono.

Hal yang sama diamini Tini, salah satu pelanggan.

“Di sini (Tatang) murah Cuma Rp5 ribu potongannya. Lagi itu saya ambil Rp200 ribu ya kepotong cuma Rp5 ribu. Kalau aku tarik tunai di deket rumah itu biasanya potongannya Rp15 ribu. Ya enggak tahu mungkin dia pakai EDC atau mesin selain BRI ya jadi lebih mahal potongannyaapa gimana,” ujar Tini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.