Dari Sawah ke Laut: Transformasi BUMDes Curug Bening Kertajaya Buka Jalan Baru Ekonomi Desa

AKURAT.CO Di tengah keterbatasan lahan produktif dan tantangan iklim yang membuat sektor pertanian tidak selalu memberi hasil optimal, Desa Kertajaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten memilih membaca ulang potensi yang selama ini ada di depan mata: laut dan pariwisata.
Melalui BUMDes Curug Bening, desa yang semula berfokus pada program ketahanan pangan ini kini mulai melangkah ke pengembangan wisata dan sektor kelautan sebagai mesin ekonomi baru masyarakat.
Perubahan arah ini bukan hadir tanpa perdebatan. Ketua BUMDes Curug Bening, Wahid (44), mengaku sejak awal melihat bahwa pola usaha lama belum mampu menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan bagi desa.
Baca Juga: KDMP untuk Pembangunan Ekonomi Pariwisata Desa
“Kemarin saya bilang, kalau kekeh maunya ketahanan pangan saya undur diri saja dari ketua. Jadi kayaknya mereka keberatan juga. Abis itu jalan lah kami usaha di wisata,” ujar Wahid.
Wahid yang juga punya usaha Agen BRILink ini mulai memimpin BUMDes pada akhir 2025. Saat itu, menurutnya, pendekatan lama yang berfokus ke ketahanan pangan sudah menghabiskan modal cukup besar namun tak memberi hasil yang sepadan. Dari situlah muncul keyakinan bahwa BUMDes perlu mencari model usaha yang lebih dekat dengan keunggulan lokal Kertajaya.
“Jadi waktu itu kan ada modal dari desa Rp220 jutaan. Itu buat ke sawah, tapi enggak kepakai semua sih sama saya. Bahkan masih utuh Rp140 juta, baru kepakai Rp80 juta kemarin untuk menanam sawah, jagung dan nila tapinya enggak dapat untung,” ujar Wahid.
Wahid, Ketua BUMDes Curug Bening, Desa Kertajaya, Sumur, Pandeglang
Untuk itu, Wahid bersama 5 pengurus BUMDes lainnya berinisiatif untuk banting stir ke usaha wisata. BUMDes mengusulkan pembeliaan perlengkapan wisata termasuk kano, alat snorkling, drone hingga kamera dalam air.
“Kami beli kano Rp5 juta untuk paket wisata ke Pulau Oar. Itu saya langsung bilang ke pemerintah desa pokoknya saya mau kano aja dulu, karena enggak ada hasilnya dari yang ketahanan pangan kemarin. Biar kebukti ini saya tuh bisa mengelola, ada hasil. Modal Rp10 juta saja, enggak perlu banyak modal ratusan juta yang penting ada hasil,” katanya.
Menurut Wahid, potensi wisata yang dimiliki Kertajaya tidak berhenti pada wisata perairan. Kawasan sekitar Pulau Oar dinilai bisa berkembang menjadi ekosistem wisata lengkap yang melibatkan penginapan, aktivitas laut, hingga ekonomi warga.
“Saya bilang ayo lah bareng-bareng supaya masyarakat kan juga antusias dengan nama BUMDes bisa cepat maju, enggak ada iri-irian karena bukan usaha pribadi. Jadi lebih semangat mempromosikan, apalagi kami kasih diskon untuk warga Desa Kertajaya diskon 50 persen, warga kecamatan diskon 20–30 persen kan mereka makin antusias nanti,” ujarnya.
BUMDes bahkan mulai memikirkan pengembangan homestay sebagai bagian dari rantai ekonomi wisata. Apalagi masih banyak lahan di Pulau Oar yang bisa disewa atau beli.
“Homestay kemarin saya usulkan juga ke kades, bagaimana kalau dibikin 2 homestay. Saya kan ada modal sedikit, BUMDesnya nanam modal misal Rp100 juta. Enggak apa-apa semisal kalau saya yang masarin kelola, terus mau dibagi hasil 50-50, 60-40, bagaimana baiknya saja yang penting ada pemasukan dari BUMDes untuk PADes,” tutur Wahid.
Pengunjung tur Pulau Oar mengayuh kano milik BUMDes Curug Bening, Desa Kertajaya
Meski demikian, transformasi ini tidak berarti Desa Kertajaya meninggalkan sektor ketahanan pangan sepenuhnya. Pemerintah desa tetap melihat sektor tersebut sebagai fondasi ekonomi warga, sambil membuka ruang bagi diversifikasi usaha.
Carik atau Sekretaris Desa Kertajaya, Ayi Amsarwin (51), menjelaskan bahwa selama ini desa memang memberikan dukungan permodalan kepada BUMDes, termasuk saat masih berfokus pada program ketahanan pangan.
Ia menjelaskan bahwa sebelumnya terdapat alokasi sekitar Rp220 juta yang diarahkan untuk program ketahanan pangan pada 2025. “Itu kan peruntukan kemarin Rp220 jutaan untuk ketahanan pangan, diatur oleh pusat semuanya. Itu di tahun 2025 itu,” ujar Empay, panggilan akarabnya.
Menurutnya, alasan pemilihan program ketahanan pangan semula karena dinilai mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal atau padat karya. Di luar ketahanan pangan, juga ada program perikanan berupa pembesaran ikan konsumsi seperti ikan nila, lele dan sebagainya.
Budidaya nila dan lele oleh BUMDes Curug Bening, Desa Kerjajaya, Sumur, Pandeglang
“Jadi tadinya masyarakat setempat dibikin kelompok petani, memberdayakan warga yang belum bekerja tapi punya basic juga yah di pertanian. Karena memang kalau musim ke laut kurang pasti lari ke darat kan. Cuman memang di Kertajaya airnya kurang, kadang musim kekeringan di darat, enggak sampai berhenti total sih cuman terkendala enggak bisa Bertani. Paling sebisa mungkin palawija lain seperti timun, oyong, kacang panjang,” jelasnya.
Karena itu, menurut Ayi, pengembangan wisata dan kelautan menjadi peluang yang sangat realistis. Ia meyakini multiplier effect dari sektor wisata akan jauh lebih luas bagi desa yang berpenduduk sekitar 4 ribuan warga ini (1.114 KK). Namun diakui Empay, modal masih menjadi kendala klasik sementara aturan dana desa juga dinilai masih terlalu kaku.
“Kalau seandainya modal BUMDes yang 2025 bebas dengan kewenangan desa, tidak diatur terpusat, mungkin sudah punya perahu karet atau apa pokoknya yang menunjang pariwisata. Wisatawan kan lumayan minatnya, jadi feedbacknya bisa lebih banyak lagi untuk memberdayakan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Empay.
Transformasi yang dilakukan BUMDes Curug Bening mulai dirasakan masyarakat. Salah satunya oleh Dedi (38), warga Desa Kertajaya yang sesekali bekerja membantu aktivitas wisata dan layanan pengunjung.
“Dulu kalau lagi enggak melaut ya paling nunggu kerja serabutan. Sekarang mulai ada orang datang, bantu antar wisata, bantu bersih-bersih lokasi, kadang bantu persiapan pengunjung juga. Belum besar memang, tapi sudah mulai ada tambahan pemasukan,” ujarnya.
Menurut Dedi, yang paling terasa bukan hanya soal pendapatan, tetapi munculnya optimisme baru di desa. “Sekarang orang desa jadi merasa ada peluang. Anak-anak muda juga mulai ikut promosi tempat wisata. Jadi bukan cuma mengandalkan musim laut atau tanam lagi,” ujar Dedi.
Penanam jagung oleh BUMDes Curug Bening, Desa Kertajaya, Sumur, Pandeglang
Pendampingan BRI Lewat Program Desa BRILian
Sementara itu, sejak Mei 2026 lalu Desa Kertajaya sudah didatangi mantri BRI Unit Labuan untuk didata dan didaftarkan menjadi peserta program Desa BRILian. Diakui Empay, program yang memberikan pelatihan kewirausahaan ini membuka lebar peluang usaha atau berkarya bagi pengurus BUMDes.
“Desa BRILian alhamdulillah kemarin kami sudah terdaftar. Dengan adanya pelatihan seperti itu, jadi terbuka peluang untuk usaha, salah satunya itu manfaatnya. Kan biasanya yang paling susah itu mengawali. Tapi setelah ada program desa BRILian, dari tadinya istilahnya otaknya mampet sempit, susah itu membuka ide, ternyata sekarang mah jadi agak sedikit tercerahkan,” ujar Empay.
“Desa BRILian kemarin memang ada rencana pelatihan-pelatihan rutin. Tapi saya baru ikut TTD dan belum sempat latihan karena masih ada kesibukan ini mempersiapkan acar undian untuk keagenan BRILink,” timpal Wahid.
Perjalanan BUMDes Curug Bening masih panjang. Namun pergeseran dari pola usaha berbasis ketahanan pangan menuju pengembangan wisata dan kelautan menunjukkan bagaimana desa mencoba menyesuaikan strategi ekonomi dengan potensi yang benar-benar dimiliki, agar manfaatnya kembali ke masyarakat Desa Kertajaya sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kementerian ESDM: Tabung CNG 3 Kg Tak Perlu Dibeli, Masyarakat Cukup Tukar Isi Gas
- 2Prediksi Skor Paraguay vs Australia 26 Juni 2026: Socceroos Selangkah Lagi ke 32 Besar, Paraguay Wajib Menang
- 3Trump Perintahkan Serangan Balasan, AS Kembali Gempur Iran
- 4Link dan Cara Cek Hasil Pengumuman OSN 2026 Jenjang SD dan SMP, Cek Sekarang!
- 5Moto3 Belanda: Puji Kehebatan Veda Ega Pratama di Brno, Hiroshi Aoyama Bidik Momentum di Assen
- 6Edwin van Der Sar Harap Timnas Indonesia Bisa Segera Tampil di Piala Dunia
- 7Venezuela Darurat Nasional! Gempa Kembar M 7,5 Guncang Caracas, Puluhan Gedung Runtuh
- 8Masjid Hajjah Yuliana Dibangun di Melbourne, Simbol Bakti kepada Orang Tua dan Gotong Royong Diaspora
- 9Kepercayaan Publik ke Polri Naik, Sari Yuliati Apresiasi Capaian
- 10Relawan Matahari 08 Dukung Program Prioritas Prabowo, Sampaikan Delapan Poin Tuntutan







