Akurat Logo

BI Ungkap Tantangan UMKM RI Saat Dapat Pesanan Ekspor

Esha Tri Wahyuni | 20 Agustus 2026, 18:30 WIB
BI Ungkap Tantangan UMKM RI Saat Dapat Pesanan Ekspor
Direktur Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau (DEKIH) Bank Indonesia, Kurniawan Agung Wijayanto - AKURAT.CO/Esha Tri Wahyuni

AKURAT.CO Tantangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia untuk menembus pasar global bukan lagi sekadar mencari pembeli.

Ketika permintaan dari pasar luar negeri mulai datang, persoalan berikutnya adalah memastikan produk memiliki kualitas yang konsisten, kapasitas produksi yang mencukupi, hingga memenuhi standar keberlanjutan yang diberlakukan negara tujuan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu fokus Bank Indonesia (BI) dalam penyelenggaraan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.

Ajang tahunan ini tidak hanya diarahkan sebagai pameran produk UMKM, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan pelaku usaha dengan buyer, agregator, investor, serta lembaga pembiayaan.

Baca Juga: Peserta KKI 2026 Melonjak, Lebih dari 1.850 UMKM Ikut Pameran

Direktur Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau (DEKIH) Bank Indonesia, Kurniawan Agung Wijayanto mengatakan, penguatan UMKM perlu dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai dari kapasitas usaha, digitalisasi, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar.

"Jadi kita tidak hanya sekadar pameran saja KKI ini, namun merupakan puncak selebrasi, kemudian merupakan ajang interaksi, jadi ada seminar, ada interaksinya, kemudian ada business matching-nya, kemudian ada pertemuan-pertemuan dengan investor juga dengan agregator," kata Kurniawan usai opening KKI tahun 2026 di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Menurut Kurniawan, salah satu persoalan yang perlu disiapkan UMKM ketika mendapatkan permintaan ekspor adalah kemampuan memenuhi volume pesanan.

Dirinya mencontohkan, buyer luar negeri bisa saja meminta beberapa kontainer produk. Namun, tidak semua UMKM memiliki kapasitas produksi yang langsung mampu memenuhi permintaan tersebut.

"Karena ini menjadi tantangan. Kadang, oh iya Pak, saya minta lima kontainer. Baru ada satu kontainer," ujarnya.

Karena itu, menurut dia, penguatan akses pasar perlu dibarengi dengan pemetaan kemampuan produksi UMKM.

BI juga menggandeng jaringan kantor perwakilan di luar negeri untuk mempertemukan buyer dengan pelaku usaha Indonesia.

"Jadi kira-kira dengan akses pasar tadi, juga ada kerja sama dengan kementerian luar negeri, kementerian perdagangan, mereka kan ada kantor-kantor dagang mereka untuk menjadi market intelligence tadi. Jadi kita match-kan semuanya, agar antara kebutuhan yang ada di luar sana dengan apa yang ada di sini, dan kualitasnya kita siapkan," jelas Kurniawan.

Dengan pola tersebut, BI ingin business matching tidak berhenti pada pertemuan antara penjual dan calon pembeli. Ada proses lanjutan untuk memastikan produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pasar tujuan.

"Karena kita juga enggak mau ibaratnya ini menjadi sesuatu kegiatan yang hanya kegiatan seremonial, tapi memang harus konkret, menghasilkan sesuatu untuk ekspor," tegasnya.

Kurniawan menyebut kopi masih menjadi salah satu produk UMKM yang memiliki permintaan kuat dari pasar internasional. Produk tersebut diminati di sejumlah pasar seperti Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia.

Namun, kembali ke persoalan utama, kemampuan menjaga kualitas dan memenuhi pesanan menjadi faktor penting agar UMKM dapat mempertahankan pasar.

"Konsistensi kualitas sama kapasitas tadi yang harus kita pastikan. Karena kadang ini kan pengennya banyak, langsung banyak, langsung untung gede, tapi kan nggak bisa," katanya.

"Harus konsisten tadi kan, kualitasnya dijaga, juga pemenuhan ordernya sesuai tingkat waktu itu harus terpenuhi dengan baik," lanjut Kurniawan.

Selain kopi, BI melihat produk home decor memiliki peluang untuk dikembangkan ke pasar ekspor. Produk kerajinan Indonesia dinilai memiliki kualitas yang kompetitif, tetapi pelaku usaha perlu menyesuaikan diri dengan persyaratan pasar tujuan.

Lebih lanjut Kurniawan menjelaskan ada sejumlah pasar, termasuk Eropa, semakin memperhatikan aspek eco-labeling. Karena itu, UMKM tidak cukup hanya menawarkan produk berkualitas, tetapi juga perlu memenuhi standar keberlanjutan yang dipersyaratkan pasar.

"Makanya seperti produk-produk home decor ini, beberapa sudah ke arah sana. Karena ada kebutuhan. Kalau mereka nggak memiliki itu, meskipun kualitasnya bagus, mohon maaf tahun ini belum bisa," ujarnya.

Persyaratan keberlanjutan tersebut kemudian menjadi bagian dari pembinaan UMKM yang dilakukan BI.

Baca Juga: Kredit UMKM Masih Seret, BI Ungkap Ada Rp2.490 Triliun Kredit Menganggur

Kurniawan mengatakan BI telah mengeluarkan pedoman bagi UMKM berkelanjutan untuk membantu pelaku usaha mengetahui posisi mereka dalam penerapan praktik usaha yang lebih ramah lingkungan.

"BI sendiri sudah di 6 Maret kemarin mengeluarkan pedoman UMKM berkelanjutan aksi mitigasi," kata Kurniawan.

Menurut dia, terdapat empat tahapan dalam asesmen UMKM berkelanjutan hingga mencapai tahap akhir yang disebut Eco-Innovator.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya agar UMKM tidak hanya mampu meningkatkan penjualan, tetapi juga memiliki kesiapan untuk masuk ke rantai pasok dan pasar yang mensyaratkan standar keberlanjutan.

Penguatan UMKM dalam KKI 2026 juga dilakukan melalui business matching pembiayaan. Pelaku UMKM dipertemukan dengan bank umum, lembaga pembiayaan nonbank, hingga investor.

Kurniawan mengatakan akses pembiayaan diperlukan untuk mendukung UMKM yang memiliki peluang pasar tetapi membutuhkan tambahan modal untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

"Jadi para UMKM yang ada di sini bisa langsung berinteraksi, juga UMKM-UMKM yang datang di acara ini juga bisa langsung datang ke belakang sana untuk melakukan business matching tadi," ujarnya.

Selain pembiayaan dan pasar, pembinaan juga mencakup aspek kekayaan intelektual. BI menggandeng kementerian dan berbagai asosiasi untuk membantu UMKM memperkuat aspek kelembagaan dan legalitas produknya.

Pendekatan tersebut dilakukan karena pengembangan UMKM dinilai tidak dapat ditangani oleh satu lembaga saja.

"Karena kita sadar bahwa pembinaan UMKM ini tidak hanya bisa dilakukan dari satu pihak, namun harus dilakukan secara tersinergi oleh seluruh kementerian dan lembaga," kata Kurniawan.

Dalam KKI 2026, BI menggandeng 27 kementerian dan lembaga serta 34 mitra strategis.

KKI sebelumnya mencatat transaksi dan business matching yang cukup besar. Namun, BI belum menyampaikan angka target KKI 2026 ketika ditanya mengenai target nilai transaksi tahun ini.

Kurniawan mengatakan data mengenai target dan realisasi akan disampaikan secara lengkap kemudian.

"Target nilainya nanti kami susulkan. Ada. Nanti secara lengkapnya nanti kita sampaikan," ujarnya.

Meski demikian, fokus KKI 2026 tidak hanya diletakkan pada besarnya nilai transaksi. BI ingin memperkuat hubungan antara kebutuhan pasar dengan kapasitas UMKM sehingga transaksi yang dihasilkan dapat berlanjut menjadi aktivitas perdagangan.

Langkah tersebut juga terlihat dari upaya BI menghadirkan buyer dari sejumlah negara melalui jaringan kantor perwakilan di luar negeri.

Buyer tidak hanya melihat produk dari katalog, tetapi dapat datang langsung, mencoba produk, serta menilai kualitas barang yang ditawarkan.

Menurut Kurniawan, proses tersebut penting karena buyer perlu memastikan kualitas sekaligus kemampuan UMKM memenuhi permintaan dalam jumlah tertentu.

Selain kopi dan home decor, wastra Indonesia juga masih memiliki peluang di pasar internasional. Namun, karakteristik konsumen di setiap negara menjadi pertimbangan dalam pengembangan produk.

Kurniawan mencontohkan produk batik tradisional memiliki pasar tersendiri di kalangan kolektor Eropa. Sementara untuk pasar Asia, produk wastra dengan desain yang lebih sesuai selera konsumen setempat dinilai memiliki peluang yang berbeda.

"Kalau batik tulis yang motif tradisional, mungkin di sana khusus untuk misalnya kolektor. Tapi kalau untuk pasar tadi, Singapura, beberapa Malaysia, beberapa negara Asia, itu bagus banget," katanya.

BI juga mencoba memperluas basis konsumen melalui area khusus anak muda dalam KKI 2026. Produk yang ditampilkan tidak hanya kerajinan tradisional, tetapi juga parfum, pakaian siap pakai, dan produk dengan harga yang lebih terjangkau.

Menurut Kurniawan, langkah tersebut diperlukan agar UMKM tidak hanya bergantung pada segmen konsumen tertentu.

"Jadi itu kita memperluas pasar lah untuk yang tahun ini," ujarnya.

KKI 2026 pada akhirnya diarahkan untuk mengubah pola pembinaan UMKM dari sekadar mempertemukan produk dengan konsumen menjadi membangun kesiapan usaha untuk memasuki pasar yang lebih besar.

BI menempatkan akses pasar, pembiayaan, digitalisasi, standardisasi, hingga keberlanjutan sebagai bagian dari pembinaan UMKM secara end-to-end. Konsep tersebut sejalan dengan visi KKI untuk mendorong UMKM naik kelas, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Bagi UMKM yang ingin masuk pasar ekspor, persoalannya bukan lagi hanya apakah produknya laku. Pertanyaan berikutnya adalah apakah kualitasnya dapat dipertahankan, apakah produksinya mampu memenuhi pesanan, dan apakah produknya memenuhi standar negara tujuan.

"Jadi kita tidak hanya sekadar pameran saja... tapi memang harus konkret, menghasilkan sesuatu untuk ekspor," kata Kurniawan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.