UMKM Success Story: Dari Tenun Tradisional Jadi Cuan Rp50 Juta/Bulan

AKURAT.CO Usaha tenun tradisional di Aceh Timur mulai memperluas pasar melalui pemanfaatan pemasaran digital.
Salah satunya dilakukan Tenun Bungong Jaroe yang mencatat omzet hingga Rp50 juta per bulan setelah mendapatkan pembinaan dan pelatihan dari Bank Indonesia.
Tenun Bungong Jaroe merupakan kelompok perajin tenun khas Aceh Timur yang kembali mengembangkan usaha sejak 2010.
Kelompok ini meneruskan tradisi menenun yang sebelumnya telah dilakukan secara turun-temurun, tetapi sempat mengalami masa vakum cukup lama.
Baca Juga: BI Ungkap Tantangan UMKM RI Saat Dapat Pesanan Ekspor
Salah satu anggota kelompok Tenun Bungong Jaroe, Fairiyah, mengatakan usaha tersebut kembali dibangun pada 2010 dengan fokus memperbaiki kualitas produk, mulai dari motif hingga pewarnaan.
"Tenun Bungong Jaroe berdiri sejak 2010. Sebelumnya ada nenek kami yang menenun secara turun-temurun, kemudian sempat vakum lama sekali. Kami bangkit lagi dari 2010 sampai sekarang dan terus memperbaiki kualitas tenun," kata Fairiyah di acara KKI tahun 2026 di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Perjalanan usaha tersebut kemudian mendapatkan dukungan pembinaan dari Bank Indonesia Lhokseumawe pada 2020. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan berupa bantuan alat tenun bukan mesin (ATBM).
Fairiyah menyebut kelompoknya memperoleh sekitar tujuh alat tenun yang kemudian digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk terlibat dalam usaha tersebut.
Selain bantuan peralatan, para perajin juga mengikuti berbagai pelatihan yang diberikan Bank Indonesia. Pelatihan tersebut antara lain berkaitan dengan pemasaran digital, onboarding, serta keikutsertaan dalam pameran dan proses kurasi produk.
"Setelah dibina BI, banyak yang meningkat. Sebelum ini kami tidak mengerti masalah pemasaran digital. Kami mengikuti pelatihan-pelatihan dari BI, khususnya dari Bank Indonesia Lhokseumawe," ujarnya.
Perubahan yang paling terasa bagi Tenun Bungong Jaroe terjadi pada sisi pemasaran. Sebelum mendapatkan pelatihan digital, pemasaran produk masih mengandalkan jaringan dan pelanggan yang sudah mengenal produk tersebut.
Setelah mengikuti pelatihan, kelompok perajin mulai memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan kain tenun khas Aceh Timur kepada konsumen yang lebih luas.
"Sesudah BI memberikan pelatihan pemasaran digital, khususnya di Instagram, orang sekarang banyak tahu. Oh, ini Tenun Bungong Jaroe," kata Fairiyah.
Pemasaran melalui media sosial kemudian membuka permintaan dari berbagai daerah. Produk Tenun Bungong Jaroe tidak hanya dipasarkan di Aceh, tetapi juga dikirim ke Jakarta dan wilayah di Pulau Jawa.
Menurut Fairiyah, pesanan juga datang untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pakaian hingga bingkisan dan kebutuhan acara.
"Sudah ada pengiriman ke Jakarta dan Jawa. Ada juga pesanan untuk acara-acara di Jakarta dan untuk bingkisan," tuturnya.
Perluasan pemasaran tersebut turut berdampak terhadap penjualan. Fairiyah mengatakan omzet usaha saat ini dapat mencapai sekitar Rp50 juta per bulan ketika permintaan berada dalam kondisi normal.
"Alhamdulillah, sekarang omzet bisa Rp50 juta per bulan. Kalau ada pesanan, bisa sampai sekitar 100 lembar per bulan," katanya.
Pertumbuhan usaha tersebut juga berdampak pada keterlibatan masyarakat sekitar. Tenun Bungong Jaroe saat ini melibatkan sejumlah perempuan, terutama ibu rumah tangga, dalam proses produksi.
Baca Juga: Peserta KKI 2026 Melonjak, Lebih dari 1.850 UMKM Ikut Pameran
Fairiyah menyebut terdapat sekitar 14 ibu rumah tangga yang terlibat dalam kegiatan Tenun Bungong Jaroe. Jumlah peserta yang pernah mengikuti pelatihan bahkan sempat mendekati 20 orang.
Bagi Fairiyah, kegiatan menenun tidak hanya menjadi aktivitas ekonomi, tetapi juga membuka kesempatan bagi perempuan dan anak muda yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan.
Fairiyah sendiri mengaku sempat menganggur selama dua tahun setelah menyelesaikan pendidikan SMP sebelum mengikuti pelatihan menenun.
"Saya tamatan SMP. Saya menganggur di rumah dua tahun. Akhirnya BI membuat pelatihan. Saya ikut pelatihan selama 12 hari dan bertahan sampai sekarang di Tenun Bungong Jaroe," ujarnya.
Menurut dia, keberadaan pelatihan dan bantuan peralatan membuat masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki keterampilan menenun dapat memperoleh kesempatan untuk bekerja.
"Karena bantuan BI, kami bisa mengembangkan usaha Tenun Bungong Jaroe dan memberdayakan perempuan, khususnya ibu-ibu rumah tangga dan adik-adik yang putus sekolah," katanya.
Hasil yang Memuaskan
Pengembangan kualitas produk juga dilakukan secara bertahap. Setelah mengikuti pembinaan dan berbagai pelatihan, Tenun Bungong Jaroe mulai mengikuti pameran serta proses kurasi untuk memperluas pengenalan produk.
Pada 2025, kelompok tersebut sempat mengikuti proses kurasi Karya Kreatif Indonesia (KKI), tetapi belum berhasil lolos untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Kegagalan itu tidak membuat kelompok berhenti melakukan perbaikan. Fairiyah mengatakan mereka kembali memperbaiki kualitas kain, termasuk motif dan warna, sebelum mengikuti proses kurasi berikutnya.
"Kami belum menyerah. Kami memperbaiki kualitas Tenun Bungong Jaroe, baik warna maupun motifnya," ujarnya.
Upaya tersebut akhirnya membawa Tenun Bungong Jaroe mengikuti KKI 2026. Bagi kelompok tersebut, keikutsertaan dalam KKI menjadi kesempatan untuk memperkenalkan tenun khas Aceh Timur kepada pasar yang lebih luas.
"Alhamdulillah kami bisa memamerkan produk kain Tenun Bungong Jaroe. Sebelumnya kami sangat ingin memamerkannya di KKI supaya orang mengenal kain tenun Bungong Jaroe khas Aceh," kata Fairiyah.
Dirinya berharap keberadaan KKI dapat membantu produk wastra Aceh tersebut menjangkau konsumen di luar daerah hingga pasar internasional.
"Kami ingin Tenun Bungong Jaroe bukan hanya dikenal di Aceh, tetapi dikenal di Indonesia. Harapannya bisa ekspor dan dikenal di luar negeri," tuturnya.
Di tengah upaya memperluas pasar, Tenun Bungong Jaroe juga menghadapi tantangan dari sisi produksi. Banjir bandang yang melanda Aceh menyebabkan sejumlah alat tenun milik para perajin mengalami kerusakan.
Fairiyah mengatakan kerusakan tersebut berdampak terhadap kegiatan produksi karena sebagian besar alat yang digunakan tidak dapat berfungsi seperti sebelumnya.
"Ibu-ibu rumah tangga yang terdampak banjir bandang mengalami kerusakan alat tenun. Hampir semua alat tidak bisa dipakai," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap alat produksi kembali meningkat. Fairiyah mengatakan kelompoknya kemudian mendapatkan bantuan alat tenun tambahan sehingga kegiatan produksi dapat kembali dijalankan.
"Alhamdulillah kami mendapat bantuan alat tenun lagi karena mengalami kerusakan akibat banjir bandang," katanya.
Bagi Tenun Bungong Jaroe, pemulihan alat produksi menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan usaha di tengah permintaan yang mulai berkembang.
Di sisi lain, kelompok tersebut masih berupaya memperluas pasar melalui kanal digital dan berbagai kegiatan pameran. Target berikutnya bukan hanya mempertahankan penjualan di dalam negeri, tetapi membawa kain tenun khas Aceh Timur ke pasar yang lebih luas.
"Keinginan kami Tenun Bungong Jaroe bisa dikenal di banyak negara. Kami ingin memamerkan produk kain tenun khas Aceh, khususnya wastra Aceh, agar tidak hanya dikenal di Aceh," kata Fairiyah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 20 Agustus 2026: Watak Weton Kamis Wage Punya Cita-Cita Tinggi
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Drone Buatan Inggris Dipakai Ukraina, Rusia Mengancam: Semakin Terlibat, Semakin Tinggi Harga yang Harus Dibayar!
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Mampukah Pramono Anung Tuntaskan PR yang Tertinggal di Jakarta?
- 10Merasa Difitnah soal Proyek MBG, Lodewyk Pusung Mengaku Hubungi Menhan Sjafrie Sebelum Ditangkap









