Sejarah Pasar Tanah Abang: Terbesar Di Asia Tenggara Yang Kini Viral Karena Sepi

AKURAT.CO Pasar Tanah Abang merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara yang terletak di kawasan Jakarta Pusat.
Belakangan ini Pasar Tanah Abang kembali menjadi sorotan di jagat maya karena keluhan para pedagang atas kondisi yang sepi pengunjung.
Dari beberapa unggahan yang beredar di media sosial, terlihat kios-kios di Pasar Tanah Abang banyak yang tutup. Sepinya Pasar Tanah Abang menyebabkan omzet para pedagang turun.
Lalu, sebenarnya bagaimana sejarah awal mula berdirinya Pasar Tanah Abang?
Simak ulasannya berikut, seperti dikutip dari berbagai sumber (Rabu, 13/9/2023).
Pasar Tanah Abang pertama kali didirikan pada 1735 oleh Yustinus Vinck, sosok pejabat VOC. Yustinus Vinck mendirikan pasar ini atas izin dari Gubernur Jenderal Abraham Patras. Saat itu Pasar Tanah Abang diberi izin untuk berjualan tekstil serta barang-barang kelontong dan hanya buka setiap hari Sabtu. Oleh karena itu, Pasar Tanah Abang kala itu disebut sebagai Pasar Sabtu.
Pasar Tanah Abang awalnya dibangun sederhana dengan atap rumbia dan dinding dari anyaman bambu. Meski hanya diberi izin berjualan tekstil dan barang kelontong, Pasar Tanah Abang mampu memberi dampak besar untuk membangun peradaban di sekitarnya. Bahkan Pasar Tanah Abang mampu menyaingi Pasar Senen yang lebih dulu maju.
Selain dikenal sebagai Pasar Sabtu, orang-orang Belanda kerap menyebutnya dengan sebutan De Nabang karena saat itu banyak pohon nabang atau palem di sekitarnya. Oleh karena itu, saat ini Pasar Sabtu lebih dikenal dengan nama Pasar Tanah Abang.
Lima tahun setelah Pasar Tanah Abang dibangun yakni 1740 terjadi kerusuhan Geger Pecinan. Geger Pecinan merupakan peristiwa pembantaian etnis Tionghoa oleh pasukan VOC karena perilaku agresif orang Tionghoa pada pos jaga VOC.
Hal ini kemudian berdampak pada tidak beroperasinya Pasar Tanah Abang dalam waktu yang cukup lama.
Pada 1881 Pasar Tanah Abang kembali dibangun dan ditambah hari operasionalnya menjadi Sabtu dan Rabu. Kegiatan perdagangan pun berangsur pulih karena banyak saudagar Cina dan Arab yang ikut berjualan.
Pasar Tanah Abang terus mengalami perbaikan hingga akhir abad 19 dan bagian lantainya mulai dikeraskan dengan pondasi adukan. Pada 1913 Pasar Tanah Abang kembali diperbaiki. Pada 1926 Pemerintah Batavia membongkar Pasar Tanah Abang dan diganti dengan bangunan permanen berupa tiga los panjang dari tembok dan papan serta beratap genteng dengan kantor pasarnya terletak di bagian atas bangunan, mirip kandang burung.
Pelataran parkir di depan pasar menjadi tempat parkir kuda penarik delman dan gerobak. Di situ tersedia kobakan air yang cukup besar dan di seberang jalan ada toko khusus yang menjual dedak sebagai makanan kuda.
Pada zaman penjajahan Jepang, Pasar Tanah Abang hampir tidak berfungsi dan menjadi tempat para gelandangan.
Pasar Tanah Abang kian berkembang pesat setelah dibangun Stasiun Tanah Abang. (Adinda Shafa Afriasti)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal




