AKURAT.CO, Setidaknya ada empat federasi cabang olahraga (cabor) di Tanah Air yang tengah mengalami masalah dualisme. Keempatnya adalah tenis meja, anggar, kempo, dan bela diri campuran.
Terkait solusi penyelesaian dualisme ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) saat ini tengah menggodok dan mencari jalan keluar terbaik.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora) Taufik Hidayat di sela-sela jumpa pers penunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah gelaran 48th Asian School Football U18 Championship (ASFC) 2024.
Menurut peraih emas Olimpiade Athena 2004 ini, jika masalah dualisme ini tidak segera diselesaikan, yang akan menjadi korban adalah atlet-atlet nasional.
Terlebih regenerasi di dunia olahraga tidak berjalan dengan singkat dan butuh waktu yang cukup panjang untuk bisa menghasilkan prestasi di kancah dunia.
"Masih digodok sama Pak Menteri. Harus dipanggil (cabor-cabor yang mengalami dualisme) karena kasihan atletnya," kata Taufik saat ditemui di Media Center Kemenpoa, Jakarta, Rabu (30/10).
"Kami ditugaskan (menangani) cabor yang mengalami dualisme dan sebagainya, kan ujung-ujungnya atletnya yang rugi. Amanah ini akan saya jalani, tapi apapun itu saya akan izin Pak Menteri untuk olahraga yang lebih baik."
Bukan tanpa alasan pihak Kemenpora akan memanggil cabor-cabor bermasalah ini. Dengan target mendapat prestasi yang lebih baik di Olimpiade Los Angeles 2028, hal ini wajib segera dilakukan.
Seperti dualisme yang terjadi di cabor tenis meja sejak 2011 atau sudah terjadi sejak 13 tahun lalu. Di mana persoalan ini menimbulkan dampak negatif terhadap pembinaan atlet cabor tenis meja.
Bukan cuma itu, permasalahan ini juga membuat cabor tenis meja absen pada dua edisi SEA Games masing-masing pada tahun 2019 dan 2021. Tenis meja kemudian baru bisa kembali tampil pada SEA Games Kamboja 2023.
Menpora Dito Ariotedjo sebelumnya menyebutkan akan ada pembentukan organisasi baru sebagai induk utama cabor tenis meja untuk menuntaskan dualisme ini.
"Nantinya dalam pembentukannya, kita mengedepankan stakeholders. Bagaimana klub-klub itu kita libatkan dan juga seluruh potensi di daerah. Persoalan tidak sampai ke proses arbitrasi atau sengketa," ujar Dito beberapa waktu lalu.
Bahkan Menpora Dito sempat mengundang kedua ketua umum cabor tenis meja ke rumahnya pada 2023 untuk membahas solusi masalah ini sebelum tenis meja akhirnya bisa kembali tampil di SEA Games.
Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas normalisasi federasi tenis meja Indonesia yang dilaksanakan sesuai peraturan berlaku untuk mengakhiri sengkata panjang tersebut.