Mengenang Mayjen TNI Eddie Marzuki Nalapraya, Sang Pengelana Pembawa Pencak Silat ke Seluruh Dunia

AKURAT.CO, Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya, Mayjen TNI Purn Dr (HC) H Eddie Marzuki Nalapraya.
Eddie Marzuki Nalapraya adalah tokoh karismatik yang dikenal luas sebagai Bapak Pencak Silat Dunia yang wafat pada usia 93 tahun di RS Pondok Indah, Jakarta, Selasa (13/5).
Pria yang lahir di Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada 6 Juni 1931 silam itu juga dikenal sebagai negarawan, budayawan, dan sosok sentral di balik diplomasi budaya Indonesia di panggung dunia lewat pencak silat.
Baca Juga: Olahraga Nasional Berduka, Bapak Pencak Silat Dunia Eddie Marzuki Nalapraya Tutup Usia
Kepemimpinannya dari akhir 1978 hingga awal 2000 mengubah pencak silat dari praktek budaya lokal menjadi olahraga dan warisan budaya yang diakui secara global.
"Sebagian besar hidupnya selain pengabdian kepada negara dan bangsa, sebagai anggota tentara, Tentara Nasional Indonesia, beliau juga sangat besar peranannya dalam membina pencak silat Indonesia," kata Presiden Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PB IPSI, Prabowo Subianto, dikutip dari Antara.
"Saya mengenal beliau cukup lama, mungkin dari tahun 80-an, dan beliau sangat rajin, sangat besar perannya dalam membina pencak silat di Indonesia, pencak silat adalah warisan budaya nenek moyang kita."
Melalui diplomasi budaya dan pendekatan persaudaraan, ia memperjuangkan agar pencak silat diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO-sebuah misi besar yang akhirnya tercapai pada tahun 2019.
Dedikasi dan perjuangan tanpa lelah inilah yang membuat beliau dijuluki sebagai "Bapak Pencak Silat Dunia". Ini adalah sebuah gelar kehormatan yang tak hanya disematkan oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga oleh komunitas internasional.
"Beliau keliling seluruh dunia dan seluruh Tanah Air untuk memperkenalkan pencak silat. Karena itulah ketika orang bicara tentang pencak silat, yang terlintas adalah nama Eddie Nalapraya," kata Prabowo Subianto.
Beliau terpilih sebagai Ketua Umum IPSI Jakarta untuk periode 1978-1982. Keberhasilannya di Jakarta menyebabkannya diangkat sebagai Ketua Harian IPSI pada 1979 dan berlanjut ditunjuk sebagai Ketua IPSI untuk periode 1981-2003.
Eddie Marzuki berperan penting dalam penyeragaman aturan pertandingan, peningkatan kualitas turnamen, dan pengintegrasian pencak silat ke dalam acara olahraga besar seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) dan Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games).
Eddie Marzuki menjabat sebagai Presiden Persekutuan Silat Antarbangsa (PERSILAT) dari 1980 sampai 2003. Hal ini menandai dimulainya perjalanan global pencak silat karena seni bela diri asal Indonesia itu mulai keluar hingga ke Eropa, Amerika, dan Australia.
Baca Juga: Prabowo Melayat Almarhum Eddie Mardjoeki Nalapraya: Beliau Contoh Patriot Sejati
Visi beliau untuk internasionalisasi pencak silat diwujudkan dengan penyelenggaraan kejuaraan dunia. Dimulai dengan International Pencak Silat Invitational pertama (Prasetya Mulya I) di Jakarta pada tahun 1982 yang pesertanya dari seluruh dunia.
Kejuaraan internasional terus berkembang dalam skala dan prestise dengan kejuaraan dunia ketiga yang diadakan di Wina, Austria, pada 1986, dan acara-acara berikutnya di Den Haag, Belanda, pada 1990.
Turnamen-turnamen ini tidak hanya memperkuat dominasi Indonesia dalam pencak silat, tetapi juga menunjukkan perkembangan pesat cabang olahraga ini di Eropa dan kawasan lain.
Eddie Marzuki Nalapraya juga memainkan peran penting dalam mengamankan pencak silat sebagai salah satu cabang olahraga resmi di SEA Games dimulai dengan penyelenggaraannya pada 1987 di Jakarta.
Tonggak sejarah ini mempercepat penyebaran pencak silat di kawasan Asia Tenggara dengan negara-negara seperti Thailand, Vietnam, Filipina, Myanmar, Laos, dan Brunei yang mendirikan program nasional mereka masing-masing.
Selain berkecimpung di dunia Silat, Eddie juga pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Jakarta pada periode 1984-1987.
Namun, kariernya dimulai dari dunia militer sebelum pensiun dengan pangkat jenderal bintang dua TNI AD atau Mayor Jenderal/Mayjen.
Eddie pernah menjabat sebagai Kepala Staf Garnisum Jakarta sejak 1979 dan kemudian merangkap jabatan sebagai Kepala Staf Kodam Jaya pada 1980. Beliau mengakhiri masa jabatannya sebagai Kepala Staf Komando Daerah Militer Jakarta pada 1983.
Atas seluruh dedikasi dan kontribusinya, almarhum telah menerima berbagai penghargaan nasional maupun internasional.
Salah satunya adalah gelar Doktor Honoris Causa yang diberikan atas jasanya dalam memajukan budaya Indonesia dan memperkenalkannya di tingkat global.
Kepergian Eddie Marzuki Nalapraya meninggalkan duka mendalam. Namun, nama beliau akan tetap hidup dalam setiap jurus silat yang diajarkan di pelosok dunia dan dalam semangat juang menjaga jati diri bangsa melalui budaya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









