Akurat
Pemprov Sumsel

Olimpiade Paris: 'Tradisi Emas' Bulutangkis di Antara Kejayaan Masa Lalu dan Trauma Masa Kini

Badri | 5 Agustus 2024, 18:42 WIB
Olimpiade Paris: 'Tradisi Emas' Bulutangkis di Antara Kejayaan Masa Lalu dan Trauma Masa Kini

AKURAT.CO, Sejatinya, Olimpiade Paris 2024 memberikan harapan baru bagi Indonesia tidak hanya di cabang bulutangkis yang melulu jadi andalan. Tahun ini ada angkat besi dan panjat tebing yang semoga membuka lembaran baru.

Namun, tetap ada yang “hilang” jika bulutangkis gagal di pesta olahraga terakbar di dunia tersebut.

Sejalan dengan tumbangnya Gregoria Mariska Tunjung atas wakil Korea Selatan, An Se Young, di semifinal nomor tunggal putri cabang bulutangkis Olimpiade Paris, Minggu (4/8), maka kelompongan itu sangat terasa.

Baca Juga: Olimpiade Paris: Carolina Marin Cedera, Gregoria Mariska Dipastikan Rebut Perunggu

Gregoria adalah wakil terakhir Indonesia di cabang bulutangkis setelah lima wakil lainnya tak bisa lebih dari babak kedua Olimpiade Paris. An Se Young menghentikannya lewat laga tiga set dengan skor 11-21, 21-13, dan 21-16.

Dus, ingatan kembali ke Olimpiade London 2012 di mana untuk kali pertama sejak bulutangkis dipertandingkan di olimpiade di Barcelona 1992 Indonesia sama sekali tak mendapatkan medali.

Situasinya kurang lebih mirip di mana mayoritas pebulutangkis Indonesia hanya bisa menjejakkan kaki ke putaran kedua. Di London 2012, hanya Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang sampai ke semifinal namun gagal meraih perunggu.

Mengapa sejarah tak diinginkan di 2012 bisa berulang di 2024?

Bagi media dan publik awam, sulit untuk bisa mendapatkan penjelasan teknis karena urusan teknis hanya diketahui secara pasti oleh orang-orang di bidang itu seperti pemain, pelatih, dan ofisial.

Dari pengamatan melalui layar televisi, tidak sulit untuk melihat bahwa raut para pebulutangkis Indonesia seperti membawa beban di Olimpiade Paris. Beban sejarah yang diungkapkan dengan frase “tradisi emas” ternyata bukanlah hal yang sederhana.

Baca Juga: Fajar Alfian: Kami Sudah Coba Lebih Tenang, tapi di Lapangan Auranya Memang Beda

Ambil contoh pasangan ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang sedianya ditempatkan di posisi pertama untuk meraih emas.

Dari empat laga yang mereka jalani sejak penyisihan sampai perempat final, duet yang pernah duduk di posisi ranking satu dunia ini hanya bisa menang dua kali. Itu pun hanya bisa menang dari dua wakil Eropa yang secara level memang di bawah.

“Ini olimpiade pertama kami, kami sudah coba lebih tenang, lebih rileks, dan banyak berdiskusi dengan pelatih, dengan tim psikolog,” kata Fajar Alfian setelah tersingkir di perempat final menghadapi wakil China, Liang Wei Keng/Wang Chang, Kamis (1/8).

“Tapi di lapangan memang ada aura yang berbeda.”

Pun demikian dengan Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting yang lolos penyisihan pun tidak. Padahal di bulan Maret mereka punya prospek karena menciptakan all Indonesian final di All England dengan Jonatan sebagai juara.

“Rasanya masih campur aduk, saya belum bisa mengungkapkannya,” kata Jonatan.

Jika kita bentangkan lagi sejarah olimpiade, Paris 2024 adalah bukti tren membebani pada satu wakil untuk meraih emas belum lagi bisa diatasi.

Sejak Beijing 2008 di mana Indonesia punya dua wakil di final (ganda putra dan ganda campuran), emas olimpiade selalu berada di situasi genting bagi Indonesia.

Setelah 2012 tanpa medali, ada Tontowi/Liliyana yang juga menjadi harapan terakhir di Rio 2016.

Di Tokyo 2020 Indonesia boleh dibilang beruntung karena Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang semula tak diperhitungkan menyelamatkan wajah negara. Namun cerita yang sama tidak terjadi pada Gregoria di Paris tahun ini.

Tugas berikutnya adalah memastikan bahwa kegagalan seperti yang terjadi di London 2012 dan Paris 2024 tidak menjadi semacam trauma dengan beban “tradisi emas”.

Pebulutangkis harus mendapatkan kembali kegembiraan dan menyadari bahwa menjadi pebulutangkis nasional Indonesia di Olimpiade Paris adalah membawa harapan lebih dari 281 juta jiwa.

Konsistensi Atlet dan Perilaku Petinggi Federasi PBSI

Dengan melihat China sebagai rival sejarah terbesar di bulutangkis olimpiade, maka jelaslah tahun berlalu menunjukkan Indonesia semakin tertinggal dari negeri tersebut. Terutama dalam hal tampil untuk turnamen puncak bernama olimpiade.

Perlu diingat, kegagalan Indonesia meraih medali di London 2012 ditandai dengan sapu bersih China di lima nomor. Adapun di tahun ini, China meraih dua emas dengan menempatkan wakil di semua final kecuali tunggal putra.

Khusus untuk Olimpiade Paris, netizen punya sudut pandangnya sendiri demi mencari penjelasan atas tren yang menurun ini. Lazim saja, mereka akan menunjuk kepada perilaku federasi.

Tak lain adalah video lama yang muncul sekitar akhir 2021 atau awal 2022 di mana Ketua Umum PBSI yang baru terpilih pada November 2020, Firman Agung Sampurna, memicu kecaman netizen.  

“Memang banyak orang yang sakit hati saya pikir dengan apa yang kami capai selama satu tahun ini. Saya hanya punya satu kalimat, ‘kesian deh lu’, gambarannya kurang lebih seperti itu,” kata Firman Agung di video tersebut.

“Tapi apa boleh buat? Silakan Anda sakit hati dan kejang-kejang. Tetapi inilah PBSI yang sekarang, kami punya prestasi yang sangat besar, monumental, bukan saja untuk meraih prestasi baik nasional dan internasional, tetapi juga penyelenggaraan turnamen.”

Baca Juga: Olimpiade Paris: Fadil Imran Sebut Menjadi Pahlawan Lebih Penting Ketimbang Bonus Bagi Pebulutangkis

Apa boleh buat? Dalam video tersebut Firman Agung dianggap bicara dengan nada arogan yang sepenuhnya dihindarkan dalam dunia olahraga. Dan netizen mengaitkannya dengan kegagalan Indonesia sejak Firman melontarkan ucapan tersebut.

Di antaranya adalah tak ada wakil yang juara di Indonesia Terbuka pada periode 2022-2024, tak ada gelar juara dunia 2022-2023, tak ada gelar World Tour Final 2022-2024.

Juga tanpa medali di Asian Games 2023 yang merupakan sejarah pertama dalam keikutsertaan bulutangkis di ajang tersebut serta dipuncaki dengan kegagalan di Olimpiade Paris.

Hilangnya simpati terhadap orang pertama di federasi bulutangkis tersebut kian terlihat hari ke hari. Salah satunya dengan ketidakhadiran Firman pada pelepasan pebulutangkis untuk Olimpiade Paris di Pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta, 11 Juli silam.

Juga ketika itu Fadil Imran yang menjabat sebagai wakil ketua umum kian tampak sebagai Ketua Umum PBSI de facto karena kian ditepikannya Firman Agung–tak berani bicara soal tradisi emas di Paris tahun ini. Dengan jalan aman, Fadil hanya bilang “tradisi medali”.

"Ikhtiar sudah dilakukan, doa sudah dipanjatkan. Saya berharap akan ada hasil yang sesuai seperti yang kita harapkan. Minimal tradisi mendapatkan medali bisa dipertahankan,” kata Fadil Imran.

Olimpiade juga menjadi periode di mana kepengurusan PBSI akan melakukan pergantian. Sejauh ini tampaknya Fadil Imran akan terpilih untuk periode 2024-2028 secara aklamasi karena didukung oleh 35 Pengurus Provinsi PBSI.

Siapapun yang terpilih nantinya, bukan tugas ringan untuk membangkitkan gairah Cipayung dari kelompongan sampai Olimpiade Los Angeles 2028.

 

 

 

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
Reporter
Badri
H