Akurat
Pemprov Sumsel

Bagaimana Mood Pelatnas PBSI Cipayung setelah Olimpiade Paris Berlalu tanpa Emas?

Badri | 16 Agustus 2024, 17:47 WIB
Bagaimana Mood Pelatnas PBSI Cipayung setelah Olimpiade Paris Berlalu tanpa Emas?

AKURAT.CO, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto muncul dari ujung kanan koridor beranda Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (15/8), dengan raut wajah orang bangun tidur.

Tak mengherankan karena memang siang itu merupakan jadwalnya para pebulutangkis bangun setelah tidur siang menjelang latihan sesi sore yang biasanya dimulai sekitar pukul 15.00 WIB atau 16.00 WIB.

Fajar/Rian mendapat giliran sebagai yang pertama melayani pertanyaan wartawan di Media Day pertama pasca Olimpiade Paris. Datang langsung dari kamar di asrama di belakang hall, dua pebulutangkis itu tampak ingin sesantai mungkin.

Fajar, misalnya, mengenakan kaos dan celana panjang serta sandal sport. Jombang–panggilan Rian–lebih santai lagi dengan bercelana pendek dan bersandal jepit.

Baca Juga: Akui Hasil Olimpiade Paris tak Ideal, Fadil Imran Resmi Bubarkan Tim Ad Hoc di Cipayung

Pun demikian, sebenarnya eks pebulutangkis ganda putra ranking satu dunia itu tidak dalam suasana hati yang santai. Tak lain karena kegagalan mereka di Olimpiade Paris 2024 padahal mereka adalah pemain yang paling diandalkan untuk meraih emas.

Udah di sini aja. Kalo juara baru di sana,” kata Fajar menolak untuk duduk di meja konferensi pers yang sudah disiapkan.

Wawancara akhirnya terjadi dengan cara yang tidak formal di mana Fajar/Rian duduk di bangku yang sebenarnya disediakan untuk wartawan.

“Pastinya kita banyak dapat pelajaran dari Olimpik 2024 ini, buat ke depan kita ingin menikmati saja setiap pertandingannya,” kata Rian singkat saat ditanya soal penampilannya di Olimpiade Paris.

Pelatnas PBSI jelas sedang dalam suasana hati kecewa pada sesi Media Day hari itu. Tak lain karena institusi yang merupakan arena berlatih pebulutangkis nasional itu gagal mempertahankan tradisi emas di Olimpiade Paris.

Fajar/Rian sendiri yang hanya bisa sampai ke perempat final di Olimpiade Paris menunjukkan gerak-gerik kecewa tersebut. Pada saat yang sama, sebagai profesional, mereka harus kembali bersiap untuk turnamen yang sudah ada di depan mata.

“Yang pasti tidak mudah bangkit dari kegagalan. Tapi, ya kita akan coba untuk selalu menikmati prosesnya walaupun memang belum berhasil,” kata Rian.

“Tapi kan ya hidup terus berjalan juga ya. Enggak mungkin kita setop di sini aja, jadi ya kita akan nikmatin terus dan pasti akan berusaha lebih keras lagi.”

Suasana seperti itu juga bisa terlihat dari ekspresi pasangan yang baru dipasangkan di Pelatnas PBSI, Daniel Marthin/Muhammad Shohibul Fikri. Meski mereka tidak ikut Olimpiade Paris, namun tampak mereka juga seperti ikut bertanggungjawab.

Enggak gimana-gimana. Kami akan mencoba lebih baik lagi dari sebelumnya. Dikasih ada empat turnamen, jadi ya mencoba saja.”

Pun demikian, acara puncak hari itu adalah konferensi pers pertanggungjawaban dan evaluasi PBSI pasca Olimpiade Paris.

Hadir dalam acara ini Sekretaris Jenderal PBSI yang juga ketua umum terpilih, Fadil Imran, Kabid Binpres PBSI, Ricky Soebagja, serta peraih medali perunggu Olimpiade Paris, Gregoria Mariska Tunjung.

Juga dua anggota Tim Ad Hoc Olimpiade Paris yang merupakan peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 dan Rio De Janeiro 2016, Taufik Hidayat dan Liliyana Natsir.

Di sela-sela itu, hall besar Pelatnas PBSI disibukkan dengan beberapa pebulutangkis junior yang sedang berlatih fisik.

Di salah satu lapangan, sejumlah pemain seperti Siti Fadia Silva Ramadhanti dan Amallia Cahaya Pratiwi sedang berlatih tiga versus tiga.

Adapun pemain ganda campuran, Lisa Ayu Kusumawati, sedang mengayuh sepeda statis di tepi lapangan sendirian.

Menjelang pukul lima sore, Fadil Imran secara terbuka mengakui bahwa hasil di Olimpiade Paris dengan raihan satu perunggu tidaklah memuaskan bagi Pelatnas PBSI.

“Tim ini telah berproses dan hasilnya dapat kita saksikan sendiri. Indonesia mendapat medali perunggu tunggal putri melalui Gregoria Mariska Tunjung,” kata Fadil Imran.

“Memang belum mencapai hasil yang ideal, yang kita inginkan, tapi kami mencatat perbaikan proses dan progress yang signifikan yang dapat diadopsi oleh kepengurusan PBSI mendatang.”

***

Jika bukan anomali, mungkin ironi adalah istilah yang pas untuk menggambarkan mood di Pelatnas PBSI hari itu.

Betapa tidak?

Beberapa jam sebelumnya, arak-arakan atlet Olimpiade Paris untuk merayakan dua medali emas dan satu perunggu dilakukan dari Kantor Kemenpora di Senayan, Jakarta, ke Istana Negara di Jalan Merdeka Utara.

Di Istana perwakilan atlet dan pelatih disambut oleh Presiden Joko Widodo sekaligus menerima bonus yang sudah dijanjikan Pemerintah. Dari cabang bulutangkis hanya Gregoria dan pelatihnya, Herli Djaenudin, yang datang ke Istana.

Maka jelaslah sudah bahwa kegembiraan di pusat kota tersebut tidak serta-merta bisa melipur lara orang-orang di Cipayung.

Baca Juga: Berangkat ke Jepang Akhir Pekan Ini, Gregoria Mariska Fokus World Tour Finals

Mereka yang berkecimpung di Pelatnas PBSI–atlet, legenda, pengurus–tahu bahwa bulutangkis tanpa emas tetaplah hal yang sulit diterima meski sebenarnya Indonesia sukses meraih emas dari panjat tebing dan angkat besi.

Gregoria, yang sebenarnya tidak diandalkan untuk meraih medali, menggambarkan situasi tanpa medali sebagai hal yang “mengerikan” dengan berkaca pada kegagalan Indonesia meraih medali di Asian Games Hangzhou, September 2023.

“Sejujurnya itu lumayan jadi mimpi buruk karena saya merasa punya kans untuk dapat medali. Tapi saya ingat juga waktu itu pas kalah saya malamnya langsung ingin pulang. Saya langsung merasa sangat terpuruk,” kata Gregoria.

“Karena kan Asian Games empat tahun sekali juga. Ya itu jadi pelajaran buat ke olimpiade. Tapi enggak menghantui (di Paris). Kalo dipikirin ya mengerikan kekalahannya, tapi bagusnya enggak menghantui terus.”

Taufik Hidayat dan Liliyana Natsir membenarkan bahwa tekanan bermain di olimpiade jauh lebih berat dibandingkan di turnamen lainnya. Itu dibuktikan bahwa Taufik dan Liliyana baru mendapatkan emas di olimpiade kedua dan ketiga.

Di Sydney 2000, kata Taufik, ia menjalani debut olimpiade dengan status pebulutangkis ranking satu dunia. Status itu membuat Taufik yang kala itu masih berusia 19 tahun diharapkan meraih emas.

Namun, harapan itu kandas karena Taufik terhenti di perempat final. Ia baru bisa membalasnya empat tahun kemudian di Olimpiade Athena 2004.

“Jadi memang tidak gampang main di olimpiade ini,” kata Taufik. “Saya belajar dari kekalahan itu di 2004, saya baru tahu mesti bagaimana mesti meng-handle diri, latihan, apa semuanya di sini.”

Liliyana punya pengalaman lebih panjang lagi karena ia meraih perak di Beijing 2008, terhenti di semifinal dan gagal meraih perunggu di London 2012 sebagai harapan terakhir Indonesia, dan baru meraih emas di Rio De Janeiro 2016.

“Saya ngobrol sama Rinov/Mentari menjelang dua minggu (Olimpiade Paris) itu mental enggak apa-apa, tapi tiga hari menjelang pertandingan, Mentari bilang ‘saya tegang’,” kata Liliyana yang merupakan mentor untuk pasangan ganda campuran Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari di Olimpiade Paris.

“Saya bilang enggak apa-apa, wajar. Enggak mungkin saya bilang jangan tegang. Saya aja yang sudah tiga kali di olimpiade masih tegang, apalagi dia yang baru satu kali. Saya bingung mau jawab apa.”

Azan maghrib memutus konferensi pers sebagai sesi terakhir Media Day di Pelatnas PBSI. Diakhiri dengan sesi foto narasumber dan Gregoria masih menjawab wawancara dan berfoto dengan jurnalis.

Fadil Imran yang mulai menjabat penuh sebagai Ketum PSSI pada November mendatang mengatakan bahwa persiapan Olimpiade Los Angeles 2028 sudah mulai digerakkan sejalan ketika ia mulai aktif sebagai ketua umum.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
Reporter
Badri
H